Nabire, Kalawaibumiofi | Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom, Papua. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.179 titik panas di daratan Pulau Papua per 13 Oktober 2026.
Prakirawan BMKG, Windy, mengatakan kabut asap tipis atau smog yang terpantau di wilayah Jayapura dan sekitarnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Pulau Papua, termasuk Papua Nugini.
“Kami menyimpulkan kabut yang terjadi ini merupakan kabut asap tipis atau smog yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah di Pulau Papua dan Papua Nugini,” kata Windy dalam keterangannya.
Menurut Windy, pemantauan citra satelit BMKG menunjukkan adanya sebaran asap lintas negara atau transboundary haze dari Papua Nugini menuju Provinsi Papua, khususnya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom. Asap juga terdeteksi berasal dari Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Merauke.
Berdasarkan data BMKG per 13 Oktober 2026, dari total 1.179 titik panas yang terdeteksi di daratan Pulau Papua, sebanyak 1.050 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang. Data tersebut juga mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Dampak sebaran asap turut terlihat dari penurunan jarak pandang di sekitar Stasiun Meteorologi Sentani dan Stasiun Meteorologi Maritim Dok II Jayapura. Jarak pandang di kedua lokasi tersebut dilaporkan mencapai sekitar enam kilometer.
Pemkot imbau warga waspada
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap dan potensi kebakaran di lingkungan masing-masing.
Rustan mengatakan, berdasarkan koordinasi dengan BMKG, asap yang mencapai Kota Jayapura terbawa angin dari wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan.
“Saat ini kondisi sedang musim kemarau, walaupun di Kota Jayapura sudah memasuki musim hujan. Angin yang bertiup ke arah Kota Jayapura berdampak menyebabkan asap terbawa hingga ke wilayah kita,” kata Rustan kepada wartawan di Jayapura, Rabu (14/10/2026).
Rustan menyatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG dan Dinas Kesehatan, kualitas udara di Kota Jayapura masih berada dalam kategori aman. Meski demikian, pemerintah kota akan terus memantau perkembangan kondisi udara.
Pemkot Jayapura juga meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kabupaten Keerom untuk mengantisipasi dampak sebaran asap. Patroli lapangan yang melibatkan petugas pemadam kebakaran serta aparat TNI-Polri turut ditingkatkan guna mencegah munculnya titik api baru.
Pemerintah Kota Jayapura meminta warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap semakin tebal. Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuang puntung rokok di kawasan yang kering dan mudah terbakar.
Warga yang mengetahui adanya kebakaran atau membutuhkan bantuan darurat dapat menghubungi layanan Satgas Tanggap Darurat Kota Jayapura di nomor 0813-4465-1177, sebagaimana disampaikan pemerintah kota.
Rustan menegaskan bahwa pencegahan kebakaran membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat untuk melindungi lingkungan dan mengurangi risiko sebaran asap.
“Kita harus menjaga lingkungan dan hutan di sekitar kita. Jangan sampai ada kebakaran yang kembali menimbulkan asap di mana-mana. Ini menjadi kewaspadaan kita bersama,” pungkasnya. [*]
