Nabire, Kalawaibumiofi.com | Dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa dan guru setelah mengkonsumsi makanan dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kampung Lani, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menjadi viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (11/3) dan baru ramai diperbincangkan pada Jumat (13/3).
Menanggapi hal itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem, didampingi Kepala SPPG Kampung Lani, Ayub Melkion Mamoribo, dan Asisten Lapangan (Aslap) Dapur SPPG Kampung Lani, Mikael Sarfunin, memberikan klarifikasi kepada awak media saat ditemui di Klinik Mata Rihensa pada Jumat malam (13/3/2026), Jalan Poros Samabusa, Kelurahan Nabarua, Distrik Nabire, setelah menjenguk siswa dan guru yang mengalami dugaan gejala keracunan.
Marsel menjelaskan bahwa dapur SPPG Kampung Lani melayani 17 sekolah dengan total penerima manfaat sebanyak 1.892 orang, terdiri dari siswa dan guru. Dari jumlah tersebut, hanya beberapa orang yang mengalami gejala sakit dengan keluhan yang hampir sama, yaitu diare, muntah, dan pusing.
Tercatat tujuh pasien yang mendapat perawatan medis: lima orang dirawat di Klinik Rihensa, satu orang di Klinik Gresli, dan satu orang di RSUD Siriwini Nabire. Mereka berasal dari tiga guru TK Grhasia, satu siswa SMP Negeri 7 Kimi, serta satu siswa SD Inpres Waharia.
“Dari total hampir dua ribu penerima manfaat di 17 sekolah, hanya beberapa orang yang mengalami gejala tersebut. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi kami untuk segera melakukan evaluasi,” ujar Marsel.
Menurut keterangan dokter yang menangani pasien, dugaan sementara penyebab gangguan kesehatan tersebut kemungkinan berasal dari saus yang terdapat pada menu MBG hari Rabu (11/3).
Kepala Dapur SPPG Lani, Ayub Melkion Mamoribo, menjelaskan bahwa menu pada hari itu terdiri dari nasi putih, telur ceplok, sayur, dan buah lengkeng.
“Berdasarkan penjelasan dokter, dugaan sementara bisa berasal dari saus pada menu basah. Karena itu, ke depan kami akan menghindari penggunaan saus dalam menu MBG,” kata Ayub.
Marsel juga menambahkan bahwa dari lima pasien yang dirawat di Klinik Rihensa, tiga diantaranya membawa pulang makanan MBG dan mengolahnya kembali menjadi nasi goreng di rumah.
“Kemungkinan makanan itu sudah basi lalu diolah kembali sebelum dimakan, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan,” jelas Marsel.
Marsel mengaku pihaknya sangat menyayangkan karena laporan kejadian tidak disampaikan pada hari yang sama, sehingga sampel makanan yang biasanya disimpan di dapur tidak sempat diuji di laboratorium.
“Kalau saat kejadian langsung dilaporkan, sampel makanan bisa kami bawa ke BPOM untuk diperiksa. Namun karena selang dua hari dan dapur mengira semuanya aman, sampel tersebut sudah dibuang untuk diganti dengan menu baru,” ujarnya.
Saat ini dokter mengambil sampel cairan muntah pasien untuk pemeriksaan lanjutan yang akan dikirim ke RSUD Jayapura. Ia menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan ketujuh pasien segera pulih. Marsel dan Ayub juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut.
“Pembiayaan pengobatan tujuh pasien ini ditanggung oleh mitra-mitra dalam dapur SPPG Lani,” kata Asyerem.
Dapur SPPG Lani sendiri memiliki 47 karyawan yang bertugas menyiapkan makanan bagi ribuan penerima manfaat. Marcel berharap seluruh pasien segera sembuh dan dapat kembali beraktivitas seperti biasa, sekaligus memastikan pihaknya akan menggelar rapat evaluasi bersama para mitra dan seluruh kepala dapur SPPG di Nabire agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada awak media yang terus mengawal serta meluruskan informasi terkait program MBG. [*]
