Nabire, Kalawaibumiofi.com | Di tepi jalan, di atas hamparan papan catur yang terbentang, puluhan buku tersusun rapi. Anak-anak dan pemuda duduk melingkar, membaca, berdiskusi, dan berbagi cerita. Bukan minuman keras yang membuat mereka berkumpul, melainkan semangat untuk mengisi pikiran dengan pengetahuan. Inilah “Mabuk di Mapi Duba”. Gerakan literasi yang digagas Meki Tebai untuk membangun kebiasaan membaca dan ruang diskusi bagi generasi muda Nabire.
Gerakan ini mengajak masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, untuk membangun kebiasaan membaca buku sekaligus menciptakan ruang terbuka untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan.
“Mabuk” itu Mari Baca Buku, Bukan Alkohol
Meki Tebai menjelaskan, istilah “mabuk” dalam nama gerakan ini sama sekali tidak berarti mengonsumsi minuman beralkohol.
“Mabuk di sini bermakna Mari Baca Buku. Sebuah ajakan agar kita bisa duduk bersama, membaca, bercerita, dan membahas berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar kita,” ujar Meki Tebai saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, membaca bukan sekadar aktivitas menambah pengetahuan, melainkan langkah penting dalam membentuk pola pikir dan masa depan generasi muda.
“Berbagai persoalan yang terjadi pada generasi saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan anak-anak. Justru generasi berikutnya harus mendapatkan perhatian dan ruang yang lebih besar untuk berkembang melalui pendidikan dan pengetahuan,” tegasnya.
Ia menyampaikan pesan yang menyentuh hati.
“Misalnya yang di atas sudah terlanjur kacau dan tidak bisa kita bentuk, maka adik-adik kita harus kita bentuk.”
Peran Keluarga: Perempuan Sebagai Rahim Literasi, Laki-laki Sebagai Teladan
Meki juga menekankan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam membangun budaya literasi sejak dini.
“Perempuan dapat menjadi rahim literasi yang menanamkan kebiasaan membaca sejak dari keluarga. Sementara laki-laki dapat menjadi sumber pengetahuan yang memberikan contoh bagi generasi muda,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan membaca tidak berhenti sekadar pada aktivitas membaca buku, tetapi berkembang menjadi ruang untuk berdialog, bertukar gagasan, dan bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
“Kita tidak hanya membaca untuk tahu, tetapi untuk berpikir, berbicara, dan mencari jalan keluar bersama. Mari baca, mari berpikir, mari kita bangun Nabire dengan pengetahuan,” tambahnya.
Langkah Awal Perkuat Budaya Literasi di Nabire
Gerakan “Mabuk di Mapi Duba” diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat budaya literasi di Nabire, terutama bagi anak-anak dan generasi muda sebagai generasi yang akan menentukan masa depan Papua. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ruang literasi tidak harus di dalam gedung mewah — jalanan, halaman rumah, atau tepi jalan pun bisa menjadi tempat berharga untuk menumbuhkan semangat membaca dan berpikir kritis di tengah masyarakat. [*]
