Tanah Papua

Peran Agama Dinilai Krusial Selamatkan Papua dari Kerusakan Lingkungan dan Ketimpangan Sosial

4
Pastor Dekan Dekanat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, RP. Yohanes Supriyanto, SJ, – Dok Untuk Kalawai.

Nabire,  Kalawaibumiofi.com |   Pastor Dekan Dekanat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, RP. Yohanes Supriyanto, SJ, menegaskan bahwa peran agama menjadi salah satu pilar utama yang paling diharapkan untuk menyelamatkan tanah Papua dari ancaman kerusakan lingkungan dan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara usai kegiatan diskusi dan penandatanganan seruan kepedulian terhadap alam dan kehidupan masyarakat, pada Jumat (22/5/2026).

Menurutnya, kondisi di tanah Papua saat ini berada dalam situasi yang memprihatinkan. Selama ribuan tahun, tanah, hutan, dan seluruh kekayaan alam di wilayah ini dijaga dan dikelola dengan bijak oleh ratusan suku asli yang hidup berdampingan dengan alam. Namun saat ini, kekuatan yang membawa dampak kerusakan dinilai jauh lebih besar dibandingkan kemampuan dan instrumen perlindungan yang dimiliki oleh masyarakat adat.

“Papua ini tidak baik-baik saja. Semakin berjalan waktu, kita melihat situasi semakin kacau. Seringkali kita bertanya-tanya, dari mana seharusnya kita memulai langkah untuk menyelamatkan tanah ini beserta seluruh masyarakat yang hidup di atasnya,” ujar RP. Yohanes.

Dijelaskan, dalam tatanan kehidupan masyarakat Papua selama ini, terdapat tiga kekuatan besar yang menjadi penopang, yaitu kekuatan adat, kekuatan pemerintah, dan kekuatan agama. Namun belakangan ini, posisi kekuatan adat justru terasa semakin melemah akibat gempuran pengaruh kekuatan modal yang bersinergi dengan kebijakan dan kekuasaan pemerintah.

“Kekuatan adat makin lama makin lemah, terutama dihadapkan pada kekuatan modal yang bersinergi dengan kekuatan pemerintah. Di tengah kondisi seperti inilah, kekuatan agama menjadi satu-satunya harapan yang masih bisa kita andalkan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik di masa depan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, ia berharap seluruh komunitas umat beragama dapat bergerak lebih aktif dan tampil menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan keadilan sosial sekaligus perlindungan terhadap lingkungan hidup di tanah Papua. Disisi lain, ia juga menekankan pentingnya upaya menghidupkan kembali dan memperkuat peran adat, agar nilai-nilai dan aturan warisan leluhur itu kembali berfungsi menjaga keberlangsungan hidup masyarakat dan alam.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Gereja Katolik di tanah Papua sejak awal tidak pernah hanya berfokus pada penyebaran iman dan pembangunan tempat ibadah semata. Sejarah membuktikan bahwa Gereja senantiasa hadir untuk memperjuangkan keadilan melalui pendirian sekolah, pelayanan kesehatan, hingga berbagai program sosial dan kemanusiaan.

“Bagi kami, iman dan keadilan adalah dua hal yang satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Sejak pertama kali hadir di sini, Gereja tidak hanya membangun gedung gereja, tetapi juga membangun sekolah, mendirikan fasilitas pelayanan kesehatan, dan memberikan bantuan sosial bagi masyarakat,” jelasnya.

Terkait seruan dan aspirasi yang ditandatangani dalam kegiatan tersebut, RP. Yohanes menyatakan bahwa usulan dan pernyataan sikap yang disepakati akan segera dibawa ke jenjang lebih tinggi untuk ditindaklanjuti.

“Saya sendiri juga merupakan bagian dari Dewan Konsultasi Keuskupan. Seluruh aspirasi dan seruan yang disampaikan di sini akan saya bawa untuk dibahas di tingkat Keuskupan. Langkah dan keputusan selanjutnya nanti akan ditetapkan oleh Bapak Uskup,” pungkasnya. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version