Religius

Ratusan Umat Katolik Paroki KSK Ikut Misa Rabu Abu

58
Pastor Yohanes Dwi Adrianto, SJ Ketika mengoleskan abu di kening jemaat pada misa Rabu Abu di Gereja Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Rabu (18/02/2026), – Kalawai/Titus Ruban.
Antrian umat untuk menerima abu dari imam, , Rabu (18/02/2026), – Kalawai/Titus Ruban.

Nabire, Kalawaibumiofi. com | Gereja Katolik Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Bukit Meriam Nabire, menggelar misa Rabu Abu dalam mengawali masa pantang dan puasa 2026.

Misa dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dipimpin Pastor Paroki Yohanes Dwi Adrianti, SJ  pada pukul 06.00 WIT. Sedangkan misa kedua dipimpin Pastor Richardus Sani Wibowo, SJ didampingi Pastor Paroki pada pukul 16.00 WIT sore. Ratusan umat Katolik dari Paroki ini hadir mengikuti misa dan menerima abu suci.

Dalam homilinya, Pastor Sany mengajak umat katolik untuk mengawali masa Prapaskah 40 hari menjelang Paskah dengan “mengoyak hati” agar rahmat Tuhan meresap, bukan sekadar ritual luar.

Pesan ini ini disampaikan, merujuk kisah Yesus di padang gurun selama 40 hari dan perjalanan bangsa Israel 40 tahun keluar dari perbudakan Mesir.

“Kemudian dalam bacaan Kitab Suci, Tuhan menghendaki pertobatan sejati. “Koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu,” pesannya.

Dijelaskan, dengan analogi sederhana, ibarat memasak daging harus dikoyak atau aduk agar bumbu meresap.

“Saat berdosa, hati kita tertutup dan keras seperti daging utuh. Rahmat Tuhan tak bisa masuk,” jelasnya.

Untuk itu, Gereja mendorong praktik konkret untuk membuka hati. Pertama, berpuasa dan berpantang dari kenyamanan seperti rokok, kopi, makan enak, drakor, atau game.

Waktu tersebut diganti doa rohani: Malaikat Tuhan pukul 06.00, 12.00, atau 18.00; Kerahiman Ilahi pukul 15.00; serta Rosario atau novena di malam hari.

“Berani tidak nyaman supaya rahmat-Nya masuk,” tegas Pastor.

Suasana Misa Rabu Abu di Gereja Katolik Bukit Meriam, Rabu (18/02/2026), – Kalawai/Titus Ruban.

Kedua lanjut dia, berani menyendiri dengan meninggalkan handphone untuk introspeksi rahasia diri, mengaku dosa di hadapan Tuhan dan sesama. Tanda abu di dahi nanti diharapkan jadi pengingat pertobatan.

“Ini membuka ruang tersembunyi yang sering menjauhkan kita dari-Nya. Sehingga hidup lebih lega dan penuh energi kebaikan. “Tidak nyaman” demi rahmat Tuhan yang memurnikan hidup,” pungkasnya.

Perayaan Rabu Abu menjadi momentum bagi umat Katolik untuk melakukan perenungan lebih mendalam terhadap kesengsaraan dan kebangkitan Yesus Kristus. Doa dan amal harus semakin ditingkatkan selama rentang 40 hari masa puasa guna menuju pertobatan.

Berpuasa, sejatinya adalah membangun pertobatan dengan menggerakkan hati, sikap kebatinan dan meninggalkan perbuatan negatif dalam kehidupan sehari-hari. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version