“Kasus kematian orang muda dari Sabang sampai Merauke terus muncul di media sosial, dengan jumlah yang mencapai ratusan bahkan ribuan orang yang meninggal sebelum waktunya, yang sangat merugikan berbagai pihak. Termasuk generasi muda Papua yang telah kehilangan potensi,” ungkapnya dalam khotbah di hadapan ratusan umat Katolik serta 106 penerima sakramen krisma.
Faktor Internal
Faktor internal terjadi akibat kurangnya disiplin dan pergeseran budaya. Uskup menjelaskan, faktor internal menyebabkan kondisi ini antara lain kurangnya disiplin dalam menjaga ketiga tubuh manusia. Banyak orang muda memiliki pola hidup tidak teratur, seperti begadang hingga pagi hanya untuk bermain ponsel atau menggunakan media sosial, yang membuat tubuh fisik, psikologis, dan roh menjadi lemah.
Selain itu, kehidupan rohani yang tidak terawat dan berkumpul dengan teman sebaya yang membawa pengaruh negatif juga menjadi penyebab.
Pergeseran dari budaya tradisional ke dunia modern juga membuat banyak orang muda Papua bingung dalam mengatur diri, sementara pendidikan keluarga yang tidak optimal membuat anak-anak mencari jalan sendiri dan mengikuti pola hidup yang tidak sesuai. Hal ini berdampak pada munculnya masalah seperti konsumsi alkohol, seks bebas, dan penyebaran HIV/AIDS di kalangan muda.
“Hal serupa juga dilaporkan oleh para uskup di wilayah Regio Papua, mulai dari Merauke hingga Sorong, termasuk kasus anak-anak suku Asmat dan Kamoro yang terlibat dalam konsumsi alkohol dan perilaku yang mengganggu ketertiban,” jelasnya.
Faktor Eksternal
Uskup bilang, faktor eksternal terjadi akibat scenario, eksploitasi dan genosida. Adanya faktor eksternal berupa skenario yang dirancang oleh pihak tertentu untuk menjadikan tanah Papua sebagai tujuan eksploitasi sumber daya alam. Kemudian generasi muda Papua sengaja dihancurkan melalui berbagai cara, seperti kemudahan akses minuman keras yang bahkan diduga dijual oleh institusi negara, serta munculnya konflik di berbagai tempat.
“Saya kutip tulisan seorang Romo yang menyampaikan data bahwa jumlah orang asli Papua saat ini berkisar antara 1,5 hingga 2,3 juta jiwa dari total 6 juta penduduk di Papua. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi genosida terhadap orang asli Papua,” terangnya.
Ajakan untuk Menyelamatkan Generasi Muda
Uskup mengajak seluruh komunitas, termasuk orang tua, pastor, dan pembina, untuk bekerja sama dalam membimbing generasi muda kembali ke jalan kebenaran dan kehidupan.
Khususnya bagi mereka yang menerima sakramen Krisma. Sehingga jangan dianggap bahwa sakramen krisma bukan hanya untuk kepentingan administratif atau identitas sebagai orang Katolik. Namun juga sebagai misi untuk mengajak dan menyelamatkan sesama orang muda yang sedang terjebak dalam “kematian”.
“Saya ajak kita semua, melalui organisasi gereja seperti OMK dan kelompok doa, seluruh umat bergerak secara nyata untuk membantu anak-anak muda dari berbagai suku di Papua. Karena kita adalah satu tubuh gereja, harus menyelamatkan satu sama lain. Maka seluruh harus berani bersaksi, membawa terang Kristus, dan menyelamatkan generasi muda dari pengaruh roh kejahatan serta skenario eksploitasi yang terjadi,” harap Uskup. [*]
