Sorong, Kalawaibumiofi.com | Kelompok Mahasiswa Independen Se-Sorong Raya, Papua Barat Daya, mengeluarkan pernyataan sikap tegas terkait situasi yang terjadi di tanah Papua. Dalam dokumen yang dirilis pada Minggu (26/4/2026), mereka menyoroti kondisi yang dinilai sudah berada dalam tahap darurat militer dan krisis kemanusiaan.
Koordinator Lapangan, Martinus Gobai, didampingi Sekretaris Korlap, Selpianus Iyai, menyampaikan bahwa operasi militer yang berlangsung secara masif telah menimbulkan dampak yang sangat berat bagi masyarakat.
“Papua hari ini dalam kondisi darurat militer dan krisis kemanusiaan. Operasi militer yang masif telah menimbulkan korban sipil, pengungsian, dan trauma berkepanjangan, khususnya bagi perempuan dan anak-anak,” ujar Martinus dalam pernyataan sikap tersebut.
Mahasiswa menolak keras segala bentuk pendekatan keamanan yang dinilai mengorbankan rakyat sipil. Mereka menegaskan bahwa negara seharusnya hadir dengan dialog damai, bukan dengan kekerasan.
“Kami menolak segala bentuk pendekatan keamanan yang mengorbankan rakyat sipil. Negara wajib hadir dengan dialog damai, bukan moncong senjata,” tegasnya.
Adapun tuntutan utama yang disampaikan antara lain:
- Penarikan pasukan militer organik maupun non-organik dari wilayah konflik.
- Pembukaan akses seluas-luasnya bagi jurnalis dan lembaga kemanusiaan internasional untuk melihat kondisi di lapangan.
- Seruan solidaritas nasional maupun internasional, mengingat krisis di Papua adalah persoalan kemanusiaan bersama.
Pernyataan sikap ini dibuat sebagai kesadaran penuh sebagai bentuk dukungan moral terhadap hak hidup, hak damai, dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua. [*]


















