Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Tanah Papua

Usai Gelar Pawai 132 Tahun Injil Masuk, Pemuda Katolik Papua Tengah Desak 22 Mei Ditetapkan Jadi Hari Resmi dan Hari Libur

0
×

Usai Gelar Pawai 132 Tahun Injil Masuk, Pemuda Katolik Papua Tengah Desak 22 Mei Ditetapkan Jadi Hari Resmi dan Hari Libur

Sebarkan artikel ini

Usai Gelar Pawai 132 Tahun Injil Masuk, Pemuda Katolik Papua Tengah Desak 22 Mei Ditetapkan Jadi Hari Resmi dan Hari Libu

Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, Tino Mote,  dalam penjelasannya kepada awak media. Jumat (22/5/2026), – Kalawai/Welem Yeblo.
Example 468x60

“Menyoroti bahwa perayaan sejarah iman yang sudah berlangsung lebih satu abad, kini diangkat menjadi aspirasi resmi agar diakui negara dan gereja, dengan tuntutan agar tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari peringatan dan hari libur”

Nabire,  Kalawaibumiofi.com |   Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Papua Tengah menyampaikan pernyataan sikap dan rekomendasi resmi usai menyelenggarakan pawai akbar peringatan 132 tahun masuknya misi dan Injil Katolik di tanah Papua, yang berlangsung di wilayah Nabire, Jumat (22/5/2026).

Example 300x600

Ketua Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, Tino Mote, menjelaskan bahwa pelaksanaan pawai dan perasaan ini bertujuan guna mengenang sejarah panjang penyebaran iman di tanah Papua, sekaligus menjadi momentum untuk mendorong penetapan tanggal 22 Mei sebagai hari peringatan resmi yang disepakati bersama.

“Kami melaksanakan pawai dalam rangka memperingati 132 tahun misi Katolik masuk di tanah Papua. Selama ini umat sering bertanya-tanya, kapan sebenarnya momen bersejarah itu terjadi. Karena itulah, kami bertekad agar tanggal 22 Mei ditetapkan dan diakui sebagai hari ulang tahun masuknya misi Katolik di tanah Papua,” ujar Tino.

Ia menyampaikan, persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, sehingga pelaksanaan perayaan tahun ini masih dipusatkan di ibu kota Provinsi Papua Tengah, yaitu Nabire. Namun ke depannya, pihaknya sangat berharap agar seluruh umat Katolik di berbagai wilayah keuskupan, paroki, dan dekanat di seluruh tanah Papua dapat turut merayakan momen bersejarah ini setiap tahunnya.

Tidak hanya sebagai perayaan sejarah, kegiatan ini juga dinilai menjadi sarana penting untuk mempererat kerja sama dan persaudaraan antar berbagai kelompok kategorial umat, serta mengajak kaum muda untuk semakin aktif dan berkontribusi dalam kehidupan gereja.

“Salah satu tujuan utama kami adalah menyatukan seluruh kelompok kategorial agar kita bisa bergerak bersama, serta mengajak seluruh pemuda untuk kembali berperan aktif dan menghidupkan semangat pelayanan di tengah gereja kita,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pemuda Katolik Papua Tengah juga membacakan pernyataan sikap dan rekomendasi resmi yang disampaikan kepada sejumlah pihak, diantaranya Pemerintah Provinsi Papua Tengah, DPRD Provinsi Papua Tengah, Majelis Rakyat Papua (MRP) Perwakilan Papua Tengah, serta Pimpinan Keuskupan Timika.

Kepada Pemerintah Provinsi dan DPRD, pihaknya meminta agar segera menetapkan tanggal 22 Mei sebagai Hari Misi Katolik di Tanah Papua, sekaligus menjadikannya sebagai hari libur fakultatif melalui peraturan daerah yang sah, baik berupa Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Gubernur (Pergub).

Sementara kepada Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, disampaikan permohonan agar tanggal 22 Mei dimasukkan secara resmi ke dalam kalender kerja keuskupan, sekaligus didorong dan diusulkan kepada pemerintah daerah untuk ditetapkan sebagai hari libur fakultatif sebagaimana yang dimohonkan.

Lebih lanjut, Pemuda Katolik juga mendorong agar seluruh jajaran dekanat dan paroki di wilayah Keuskupan Timika dan sekitarnya, menjadikan peringatan Hari Misi Katolik ini sebagai kegiatan wajib yang dilaksanakan setiap tahun, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah iman dan perjuangan para misionaris serta leluhur umat di tanah Papua.

“Kami berharap usulan dan aspirasi ini dapat ditindaklanjuti dengan baik, agar momen bersejarah yang telah kita lewati selama lebih dari satu abad ini mendapatkan pengakuan yang layak, baik dari sisi negara maupun dari sisi gereja,” pungkas Tino. [*]

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!