Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Tanah Papua

John Gobai Apresiasi Ekskavator Amfibi untuk Atasi Banjir di Paniai

4
×

John Gobai Apresiasi Ekskavator Amfibi untuk Atasi Banjir di Paniai

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengapresiasi pengadaan ekskavator amfibi oleh Pemkab Paniai untuk mendukung revitalisasi sungai dan mengurangi risiko banjir. Ia mendorong pengerukan sungai, pembenahan saluran pembuangan, serta penataan lingkungan secara berkelanjutan demi kepentingan masyarakat. Minggu  (19/10/2026), – Kalawai/Dok Untuk Kalawai.

“Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengapresiasi pengadaan ekskavator amfibi oleh Pemkab Paniai untuk mendukung revitalisasi sungai dan mengurangi risiko banjir”

Paniai, Kalawaibumiofi |   Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Paniai yang menyediakan ekskavator amfibi untuk mendukung normalisasi sungai dan mengatasi persoalan genangan air di wilayah tersebut.

Apresiasi itu disampaikan John setelah bertemu dengan Bupati Paniai, Yampit Nawipa, sekaligus meninjau unit ekskavator amfibi. Minggu (19/10/2026).

Menurut John, pengadaan alat berat tersebut dapat membantu mengatasi pendangkalan sungai, pertumbuhan eceng gondok, serta saluran pembuangan air yang tersumbat. Kondisi itu berpotensi menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir, terutama ketika curah hujan meningkat.

“Kehadiran ekskavator amfibi ini merupakan jawaban atas usulan yang kami sampaikan kepada Bupati Paniai beberapa bulan lalu. Kami menilai langkah Pemkab Paniai ini sangat tepat untuk menyelesaikan masalah yang selama ini dikeluhkan warga,” kata John.

Ia menilai revitalisasi sungai perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Penggunaan ekskavator amfibi diharapkan mempermudah pengerukan sungai dan penataan saluran air, termasuk di kawasan yang sulit dijangkau alat berat konvensional.

John juga menyoroti saluran pembuangan air Sungai Weya di ruas jalan Enarotali–Dagouto. Ia meminta pemerintah memperhatikan kapasitas saluran agar mampu menampung dan mengalirkan air dari wilayah sekitarnya.

“Aliran di ruas Enarotali ke Dagouto harus diperlebar sesuai atau melebihi kapasitas sungai pembuangan. Wilayah ini memiliki banyak anak sungai dan telaga kecil yang bermuara ke Danau Paniai, sehingga alirannya tidak boleh tersumbat,” tegasnya.

John menambahkan, penanganan banjir tidak cukup hanya dengan pengerukan sungai. Pemerintah juga perlu memastikan saluran pembuangan berfungsi dengan baik dan menata kawasan yang menghambat aliran air, dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan serta kepentingan masyarakat setempat.

Selain untuk revitalisasi sungai, ia menilai ekskavator amfibi berpotensi mendukung pembangunan infrastruktur pengelolaan air, termasuk pembuatan danau buatan sebagai tempat penampungan air.

Menurut John, kawasan tersebut juga berpeluang dikembangkan menjadi area rekreasi, kolam pemancingan, atau lahan pertanian apabila kondisi lingkungan dan hasil kajian teknis memungkinkan.

“Danau buatan tersebut dapat dikembangkan menjadi area rekreasi dan kolam pemancingan yang ditanami pohon-pohon di sekitarnya. Bahkan, jika genangan air di kawasan lembah bisa teratasi, lokasinya sangat potensial dialihfungsikan menjadi lahan pertanian luas untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” tuturnya.

Ia menegaskan, rencana pemanfaatan kawasan harus didukung kajian teknis dan lingkungan agar tidak menimbulkan persoalan baru serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

John juga mengajak masyarakat Paniai mendukung revitalisasi sungai dan pembenahan saluran air. Ia berharap pengadaan ekskavator amfibi diikuti program kerja yang terukur, penentuan lokasi prioritas, serta pemeliharaan saluran air secara berkelanjutan.

Dengan perencanaan dan pelaksanaan yang tepat, upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko genangan, memperbaiki tata kelola air, dan membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Paniai. [*]

error: Content is protected !!