Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Tanah Papua

Aksi Seribu Lilin untuk “Papua Berdarah Puncak, Intan Jaya, Dogiyai”

0
×

Aksi Seribu Lilin untuk “Papua Berdarah Puncak, Intan Jaya, Dogiyai”

Sebarkan artikel ini
Aksi Seribu Lilin untuk "Papua Berdarah Puncak, Intan Jaya, Dogiyai"
Example 468x60

Nabire Kalawaibumiofi.com | Komisariat Daerah Pemuda Katolik Papua Tengah menggelar aksi pemasangan 1.000 lilin “Papua Berdarah Puncak, Intan Jaya, Dogiyai-Seruan Damai dan Refleksi Kemanusiaan.”

Aksi ini digelar di Kapela SMA Adhi Luhur Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Kamis (23/04/2026).

Hendrikus Yeimo, selaku ketua panitia Rakerda-1 Pemuda Katolik mengatakan pihaknya bersama Komisariat Daerah Pemuda Katolik Papua Tengah menggelar aksi pemasangan lilin ini sebagai ruang doa, refleksi, dan seruan kemanusiaan atas konflik berkepanjangan di Tanah Papua yang telah berlangsung sejak tahun 1961 hingga hari ini.

‎”Lilin-lilin yang dinyalakan bukan sekadar simbol, tetapi wujud duka, harapan, dan solidaritas kami terhadap saudara-saudari di Papua yang terus hidup dalam bayang-bayang konflik,” kata Hendrikus Yeimo.

Example 300x600

Menurutnya, selama puluhan tahun, masyarakat Papua termasuk warga sipil, anak-anak, ibu-ibu, tenaga kesehatan, dan para guru telah menjadi korban dari situasi yang tidak berkesudahan.

Sementara itu pemuda Katolik Papua Tengah, Abeth You menegaskan bahwa aksi ini bukan untuk memprovokasi keadaan. Justru sebaliknya, ini adalah panggilan moral untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang sering kali terabaikan.

“Kami mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat bahwa di balik konflik ini ada manusia-manusia yang kehilangan hak hidup dengan aman dan bermartabat,” ujar Abeth You.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, pihaknya juga telah menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, pada 21 April 2026.

“Dalam pertemuan tersebut, kami menyuarakan beberapa poin penting, di antaranya, penarikan militer non-organik dari Tanah Papua karena dinilai memperparah situasi konflik dan meningkatkan jumlah korban sipil,” ucapnya.

Selain itu, perlunya dialog damai antara pemerintah pusat dan Papua sebagai jalan keluar yang bermartabat dan berkelanjutan, dan perhatian serius terhadap kondisi masyarakat sipil yang mengalami trauma tanpa pemulihan yang memadai

‎”Realitas di lapangan menunjukkan bahwa konflik ini telah berdampak luas. Banyak anak kehilangan akses pendidikan, masyarakat hidup dalam ketakutan, perempuan tidak mendapatkan perlindungan yang layak, dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara optimal. Dalam situasi yang tidak aman, pembangunan tidak akan pernah berjalan dengan baik,” katanya.

Pihaknya percaya bahwa perdamaian bukan hanya sebuah harapan, tetapi sebuah keharusan. Gereja, melalui ajaran dan seruan Bapa Suci, selalu menempatkan perdamaian sebagai nilai utama.

Oleh karena itu, pihaknya sebagai bagian dari Pemuda Katolik tidak akan berhenti menyuarakan damai, keadilan, dan perlindungan bagi setiap manusia.

‎Dari Kapel Storta, kami menyuarakan satu pesan yang sederhana namun mendasar. Lindungi rakyat sipil di Tanah Papua. Mari kita bersama menjaga nilai kemanusiaan, menolak kekerasan, dan membuka ruang dialog sebagai jalan menuju Papua yang damai, aman, dan bermartabat,” katanya. (Redaksi)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!