Nabire, Kalawaibumiofi.com | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Douw Ature Nabire merilis data analisis titik panas (hotspot) dan perkembangannya selama bulan Agustus 2026, yang menunjukkan lonjakan tajam kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Nabire. Sepanjang periode 1–31 Agustus, terdeteksi 1.615 titik hotspot, dengan rata-rata harian mencapai 52,1 titik per hari.
Puncak kejadian terjadi pada 22 Agustus 2026 dengan 356 titik terdeteksi dalam satu hari. Sebesar 93,9% hotspot atau 1.517 titik muncul pada paruh kedua bulan Agustus, yakni rentang 15–31 Agustus, menandakan peningkatan drastis aktivitas kebakaran seiring memuncaknya musim kemarau dan pengaruh fenomena El Nino.
Distrik Yaur menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, tercatat 576 titik (35,6%), diikuti Wanggar sebanyak 282 titik (17,4%), dan Yaro sebanyak 272 titik (16,8%). Ketiga distrik ini menyumbang 69,7% dari total hotspot di Kabupaten Nabire, menjadikannya kawasan prioritas utama penanganan dan pencegahan kebakaran.
“Tiga distrik teratas — Yaur, Wanggar, dan Yaro — menyumbang hampir 70% dari total hotspot. Ini menunjukkan konsentrasi kebakaran yang sangat tinggi di wilayah selatan dan timur Nabire,” demikian catatan dalam analisis BMKG.
Berdasarkan tingkat kepercayaan, 1.212 titik (75%) masuk kategori kepercayaan 7, yang berarti kebakaran tersebut dipastikan terjadi di lokasi tersebut. Sebanyak 131 titik (8,1%) kepercayaan 8, dan 65 titik (4,0%) kepercayaan 9. Secara keseluruhan, 82,9% hotspot terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi, mengindikasikan aktivitas kebakaran yang nyata dan luas.
Pemantauan berbasis satelit menunjukkan satelit NOAA20 mendominasi deteksi dengan 767 titik (47,5%), diikuti SNPP sebanyak 723 titik (44,8%), serta AQUA, TERRA, dan lainnya. BMKG mencatat bahwa sebesar 92,3% deteksi berasal dari kedua satelit tersebut, yang menjadi acuan utama pemantauan karhutla di wilayah Nabire.
Pola perkembangan menunjukkan aktivitas rendah pada awal bulan, mulai meningkat pada 15–19 Agustus, melonjak tajam pada 20–24 Agustus (1.213 titik / 75%), dan perlahan menurun pada 25–29 Agustus. Pada 31 Agustus, jumlah hotspot turun signifikan menjadi hanya 5 titik, seiring mulai turunnya hujan di sebagian wilayah.
Meski demikian, BMKG mengingatkan bahwa angka tersebut tetap berada di tingkat yang mengkhawatirkan dan meminta seluruh pihak untuk tidak menurunkan kewaspadaan.
“1.615 titik hotspot yang terdeteksi selama Agustus menunjukkan tekanan yang sangat besar. Mayoritas terdeteksi dengan tingkat kepercayaan tinggi dan berasal dari satelit NOAA20 dan SNPP. Ini bukan sekadar angka, melainkan gambaran nyata luasnya kebakaran yang terjadi di wilayah Nabire,” tegas BMKG dalam laporan tersebut. [*]












