Tanah Papua

Di Balik Kekalahan Persipura : Intrik Internal, Campur Tangan Politik, dan Panggilan Gubernur Papua Tengah

9
Warga sedang menyaksikan laga Persipura melalui Videotron. Kamis (8/5/2026), – Kalawai/Abet You.

Nabire, Kalawaibumiofi.comKekalahan telak Persipura Jayapura 0 – 1 dari Adhyaksa FC di laga penentuan promosi ke Liga 1 pada Jumat (8/5/2026) sore, bukan sekadar kegagalan di atas lapangan hijau. Hasil memilukan ini membuka sorotan tajam publik terhadap berbagai masalah yang selama ini menggerogoti tubuh tim kebanggaan masyarakat Papua. Mulai dari isu intrik organisasi, campur tangan kepentingan luar, hingga pertanyaan besar soal tanggung jawab moral para pengurus, pelatih, hingga para pemain yang berjulukan “Tim Mutiara Hitam” ini..

Beragam reaksi, kekecewaan, dan analisis kritis bermunculan dari para pengamat, penggemar berat, hingga publik figur di media sosial. Satu pesan utama yang sama tersampaikan : Persipura adalah milik seluruh rakyat Papua, dan siapa pun yang mengurusi tim ini wajib menjaga kehormatan yang sudah dibangun susah payah oleh para pendahulu.

Akar Masalah Sejak 2015 : “Penuh Intrik dan Politik”

Menurut Alex Giyai, seorang penggemar berat Persipura, kemunduran prestasi dan kondisi tim yang kian tidak menentu sebenarnya sudah terlihat gejalanya sejak tahun 2015. Saat itu, Persipura dibekukan keikutsertaannya dalam ajang Piala AFC oleh PSSI pusat di Jakarta. Menurutnya, peristiwa itu menjadi titik awal masuknya kepentingan-kepentingan yang merugikan.

“Sejak saat itu, di kubu resmi Persipura sendiri sudah terjadi kebingungan. Di dalam organisasi penuh intrik, penuh kepentingan politik. Harus ada pembersihan total, terutama di jajaran pengurus atau official. Karena banyak di antara mereka yang seolah-olah adalah ‘orang suruhan’ atau memiliki kepentingan yang sama dengan pihak Jakarta,” ungkap Alex usai menyaksikan laga di rose itu melalui layar ponselnya.

Ia mengenang masa kejayaan Persipura yang pernah mendunia, pernah bertanding dan dihormati di Australia, Jepang, hingga Filipina. Nama besar itu, kata Alex, perlahan luntur karena permainan di balik layar yang tidak sehat.

“Dulu nama kami harum di mana-mana. Tapi sekarang apa yang terjadi? Semua karena ada tangan-tangan yang mengatur dari luar. Jakarta saja di urusan sepak bola sudah buat masalah, apalagi di hal lain. Kita di tanah Papua harus lebih memperkuat diri sendiri,” tegasnya.

Alex juga mengapresiasi langkah Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, yang berencana mengundang seluruh elemen Persipura ke Nabire. Baginya, langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan tawaran nyata bahwa pemerintah daerah hadir untuk memastikan keberlangsungan tim dan regenerasi pemain asli Papua tetap terjaga.

“Kalau Gubernur Meki Nawipa mengundang, itu artinya beliau punya kepedulian. Tapi harapannya, gubernur dari provinsi lain — Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan — jangan diam saja. Persipura itu kebanggaan bersama, maka dukungan dan tanggung jawab pun harus bersama-sama,” tambahnya.

Suara Tegas Legenda : “Jangan Bikin Malu Perjuangan Kami”

Di media sosial, kemarahan dan kekecewaan meluap. Salah satu unggahan yang paling banyak mendapat perhatian datang dari akun Facebook Gerald Pangkali. Dengan judul tegas “JANGAN BIKIN MALU”, ia menuliskan pesan emosional yang mewakili perasaan jutaan pendukung.

“⭐⭐⭐⭐⭐ KARENA KAMI SUSAH PAYAH REBUT BARANG ITU, KARENA KAMI BERTANGGUNG JAWAB UNTUK TANAH DAN NEGERI INI. KAMI LEGENDA MERAH-HITAM MASIH ADA. JANGAN BIKIN MASYARAKAT KECEWA DAN BERSEDIH. KAMU PEMAIN, PELATIH, DAN OFFICIAL TIM HARUS BERTANGGUNG JAWAB KEPADA MASYARAKAT PAPUA PADA UMUMNYA.”

Kalimat itu menjadi sorotan tajam, mengingatkan bahwa nama besar Persipura bukanlah pemberian, melainkan hasil keringat dan perjuangan keras para pendiri dan legenda yang masih hidup dan menjaga nama baik tim ini hingga kini. Pesan ini menjadi seruan moral agar siapa pun yang duduk di kursi pengurus atau mengenakan seragam merah-hitam tidak melupakan sejarah dan kepercayaan yang diamanatkan rakyat.

Pertanyaan Besar : Olahraga Sudah Dicederai Politik?

Sementara itu, pandangan kritis juga datang dari akun Facebook bernama Laki*. Ia menyoroti fenomena unik di persepakbolaan Indonesia saat ini, di mana banyak klub besar berada di bawah naungan langsung lembaga negara, yang menurutnya mencederai kemurnian olahraga.

“Lihat saja: Bhayangkara FC milik Kepolisian, Garudayaksa FC milik lingkaran Presiden, Adhyaksa FC milik Kejaksaan. Besok kita tunggu institusi mana lagi yang mau bikin tim?” tulisnya.

Ia pun mempertanyakan jati diri sepak bola Indonesia yang seharusnya murni tentang bakat dan prestasi.

“Olahraga yang seharusnya bebas dari kepentingan politik saja sudah dicederai, apalagi urusan yang lain? Apa lagi yang mau kita banggakan dari Republik Indonesia ini?” tulisnya penuh sindiran.

Harapan Baru : Evaluasi dan Persatuan

Beragam komentar warganet di kolom diskusi pun sepakat: Meski kalah, Persipura tetaplah darah daging masyarakat Papua. Namun, kekalahan menyakitkan ini harus menjadi titik balik. Masyarakat menuntut evaluasi menyeluruh, pembersihan dari unsur kepentingan luar, serta dukungan bersatu dari seluruh pemimpin daerah di tanah Papua.

Seperti pesan yang terus bergema: Persipura kalah di lapangan sore ini, namun perjuangan mempertahankan kehormatan dan kebanggaan Papua masih jauh lebih panjang dan besar. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version