Nabire, Kalawaibumiofi.com | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire merilis laporan resmi El‑Niño dan sebaran titik panas (hotspot) per 23 Agustus 2026, menegaskan kondisi El‑Niño Kuat sedang berlangsung dan berpotensi makin hebat hingga akhir tahun, disertai ratusan titik api yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah. Minggu (23/8/2026).
Berdasarkan data pemantauan, nilai Indeks Osilasi Selatan (SOI) mencapai ‑20,3 dan Indeks Nino 3.4 sebesar +2,3 – angka yang secara tegas menunjukkan status El‑Niño Kuat. Fenomena ini mulai aktif sejak periode Mei–Juni dan diprediksi terus menguat dalam bulan‑bulan mendatang, dengan puncak musim kemarau berlangsung Agustus hingga September 2026.
“Kondisi ini berdampak nyata: curah hujan makin berkurang, hari tanpa hujan bertambah banyak, ketersediaan air menyusut, suhu udara terasa lebih panas, tanah makin kering, dan risiko kebakaran hutan serta lahan (Karhutla) naik tajam,” demikian bunyi pernyataan resmi yang ditandatangani Kepala Stasiun BMKG Nabire Ahmad Taqiya dan penyusun laporan Husain.
Bersamaan dengan peringatan iklim, BMKG juga merilis data sebaran hotspot hasil pantauan satelit NOAA‑20, AQUA, SNPP dan TERRA – tercatat pukul 09.00 WIT tanggal 23 Juli 2026, terpantau total 733 titik panas: 106 tingkat kepercayaan rendah, 577 sedang, dan 50 tingkat tinggi yang berarti kemungkinan besar sudah ada api aktif di lapangan.
Sebaran terbesar ada di Kabupaten Nabire sebanyak 356 titik, lalu Dogiyai 111, Paniai 91, Puncak 90, Intan Jaya 70, Puncak Jaya 10, Mimika 4, serta Deiyai 1 titik. Pantauan terbaru tanggal 22 Agustus masih menunjukkan konsentrasi tinggi terutama di distrik‑distrik Nabire dan Dogiyai, menyebar pula ke wilayah Intan Jaya, Paniai, Puncak dan Puncak Jaya.
Menyikapi situasi berbahaya ini, BMKG menyampaikan sejumlah himbauan tegas kepada seluruh masyarakat dan pemerintah daerah :
✅ Dilarang keras membakar hutan, semak belukar, lahan maupun sampah untuk apa pun alasannya – apalagi di kawasan rawan seperti lahan gambut dan hutan kering.
✅ Segera laporkan ke pihak berwenang bila melihat asap, api, atau indikasi kebakaran agar dapat dipadamkan sejak dini.
✅ Pemerintah diminta memperketat patroli, mengawasi pembukaan lahan dengan cara membakar, serta terus menyosialisasikan bahaya api di musim kemarau.
✅ Pastikan cadangan air dan peralatan pemadaman siap digunakan kapan saja.
✅ Selalu ikuti perkembangan informasi cuaca, iklim, El‑Niño maupun hotspot dari BMKG agar dapat bersiap lebih awal.
“Kita berada di fase yang membutuhkan kewaspadaan setinggi‑tingginya. Kerusakan akibat api bisa merugikan kita semua, merusak lingkungan hidup, dan mengganggu perekonomian warga. Mari kita jaga bersama tanah air kita,” pesan BMKG Nabire. [*]
(Sumber: BMKG Stasiun Douw Aturure Nabire – laporan resmi El‑Niño dan Hotspot 23 Agustus 2026).












