Nabire, Kalawaibumiofi.com | Ketua Dewan Adat Representasi Meepago, Herman Sayori, menegaskan bahwa keberagaman dan kebersamaan berbagai etnis yang tinggal di Kabupaten Nabire merupakan kekuatan utama dalam membangun daerah ini. Hal itu disampaikannya saat menghadiri acara makan Patita di Pantai Jasbri – Boratei dalam rangka peringatan Hari Kapitan Pattimura Tahun 2026 yang digelar keluarga besar masyarakat Maluku di Nabire, Minggu (17/5/2026).
Ia menilai, menilai kehadiran berbagai unsur kerukunan dan komunitas di Nabire memberikan kontribusi luar biasa, menjadikan daerah ini sebagai “rumah bersama” bagi semua orang yang bertempat tinggal di sini.
“Kita melihat hari ini di Nabire hadir sejumlah elemen kerukunan yang memberikan kontribusi luar biasa bagi Nabire secara khusus sebagai rumah bersama. Dan hari ini, ada satu rumah besar yang baru saja mengawali perdananya,” ujar Herman.
Herman juga menyoroti momen istimewa di mana keluarga besar masyarakat Maluku mengawali peringatan Hari Kapitan Pattimura tahun 2026 ini di tengah keberadaan Provinsi Papua Tengah yang baru terbentuk. Menurutnya, hal ini menjadi gambaran nyata yang luar biasa bagi kelompok kerukunan lainnya, membuktikan bahwa Nabire mampu menjadi wadah persatuan.
“Ini menjadi gambaran luar biasa bagi kerukunan lainnya. Intinya, kita jadikan Nabire sebagai ‘Indonesia Kecil’, tempat kita semua berkumpul. Kita jadikan ini rumah bersama kita semua,” ungkapnya.
Dia menjelaskan bahwa meskipun ada enam suku asli pemilik hak ulayat di Nabire, pembangunan daerah tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan kekuatan tersebut semata. Kemajuan Nabire sangat bergantung pada kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang ada di dalamnya.
“Di Nabire ada pemilik hak ulayat, yaitu enam suku. Namun, mereka tidak akan mampu membangun Nabire sendirian. Terkecuali jika ada kebersamaan dari sejumlah elemen kerukunan kita,” jelas Sayori.
Dia pun mengutip semangat persaudaraan masyarakat Maluku dengan istilah “Satu Gandum”, yang bermakna satu kesatuan dan persaudaraan erat. Semangat itulah yang harus dipegang teguh untuk membangun Nabire secara bersama-sama.
“Istilah orang Maluku bilang ‘Satu Gandong’. Artinya, kita berada dalam satu keluarga besar. Mari kita membangun Nabire secara bersama-sama,” ajaknya.
Peringatan hari bersejarah ini menjadi momentum mengukuhkan persaudaraan. Ia melihat kehadiran keluarga besar Maluku serta berbagai sub-suku dan kelompok di dalamnya sebagai bukti kebersamaan yang kokoh.
“Hari ini merupakan salah satu momen makan patita, yaitu mengembangkan makna persaudaraan. Di sini kita melihat bagaimana keluarga besar Maluku berkumpul, lengkap dengan sub-sub keluarga dan sub-sukunya. Hari ini menjadi hari kebahagiaan bagi kita semua,” katanya penuh semangat.
Di akhir pesannya, Herman Sayori menegaskan ikatan batin yang kuat antara masyarakat Maluku dan tanah Papua. Bagi beliau, tidak ada sekat pembeda, melainkan satu kesatuan persaudaraan yang utuh.
“Dan pada intinya, hari ini kami tegaskan: Maluku adalah Papua, dan Papua adalah Maluku. Demikian,” pungkasnya. [*]


















