Nabire, Kalawaibumiofi.com | Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Nabire, Provinsi Papua Tengah, berencana akan memperingati perjuangannya Kapiten Pattimura ke-209 pada 15 Mei 2026 mendatang. Peringatan ini akan dirangkai dengan beberapa kegiatan, misalnya pembersihan Tugu Pattimura di Jalan Frans Kaisepo, Upacara Bakar Obor, Tarian Cakalele, hingga Makan Patita.
Ketua Panitia, Andrey Tahapary, ST., membeberkan rincian jadwal, lokasi, serta progres persiapan yang kini sudah memasuki tahap akhir yang telah mencapai 80%.
Menurut Andrey, rangkaian acara dimulai pada tanggal 15 Mei 2026. Kegiatan diawali dengan tarian cakalela dari Siriwini pukul 06.00 pagi menuju lokasi Ziarah di Taman Makan Pahlawan (TMP) Nabarua. kemudian akan dilanjutkan dengan bakar obor di Tugu Patimura pada pukul 15.00 sorenya.
“Puncak acara budaya digelar pada tanggal 17 Mei 2026, bertempat di Pantai Jesbri, Kelurahan Boratei, Nabire. Di lokasi inilah tradisi Makan Patita akan menjadi momen utama yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat,” tuturnya.
Ditanya mengenai sejauh mana kesiapan panitia dalam menyambut kegiatan besar ini, Andrei Tahapari menjelaskan bahwa persiapan sudah berjalan matang dan mencapai angka 80 persen.
“Persiapan kami sekarang sudah mencapai 80 persen. Angka ini kami tentukan karena seluruh koordinator di setiap seksi sudah menjalankan tugasnya, semua program kerja sudah dieksekusi, kebutuhan pendukung sudah terpenuhi, dan pembiayaan pun sudah terbayar,” ungkap Andrei dengan penuh keyakinan.
Ia menjelaskan, salah satu daya tarik utama tahun ini adalah tradisi Makan Patita. Andrei menjelaskan, bagi masyarakat asal Maluku, kegiatan ini bukan sekadar makan bersama, melainkan identitas budaya dan sarana memupuk persaudaraan.
“Makan Patita itu adalah budaya kami orang Maluku. Intinya adalah makan secara bersama-sama, di mana makanan dikumpulkan dari sumbangan atau bawaan masing-masing keluarga, lalu kita kumpulkan dan kita nikmati bersama-sama,” jelasnya.
Secara adat asli, makanan biasanya diletakkan di atas tanah beralaskan daun kelapa atau daun pisang. Namun, karena pelaksanaannya berada di tanah perantauan dan mengundang banyak tamu serta tokoh masyarakat, panitia berencana melakukan penyesuaian.
“Karena ini di rantau dan ada undangan musyawarah besar, kemungkinan besar kami menggunakan meja, tapi esensi kebersamaannya tetap sama, yakni duduk bersama dan makan dari hasil bersama,” tambah Andrei.
Tema yang diusung dalam kegiatan tahun ini adalah “Putung di Kuku, Rasa di Daging”. Sebuah ungkapan kearifan lokal yang bermakna bahwa meskipun perjuangan atau kerja keras dilakukan oleh individu atau kelompok kecil (seperti putung di kuku), namun kenikmatan, hasil, dan kebahagiaannya akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga besar atau masyarakat (rasa di daging).
Deretan Seniman Lokal Siap Meriahkan Pantai Jesbri
Untuk memeriahkan acara di Pantai Jesbri, panitia telah menyiapkan deretan seniman dan musisi lokal terbaik Nabire agar suasana semakin hidup dan meriah.
Beberapa nama yang sudah dipastikan tampil antara lain, Marvei Kaya dan Ongen Manuputty bersama Istri. kemungkinan ada artis lokal lain yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Selain nama-nama tersebut, panitia juga sedang menjajaki kemungkinan menampilkan artis lokal potensial lainnya seperti Wiliano, serta duet Ongen.
“Intinya kami ingin acara ini bukan hanya sekadar seremonial adat, tapi juga menjadi ajang hiburan yang menghibur warga sekaligus mengangkat nama seniman daerah kami sendiri,” ujar Andrei.
Makan Patita : Tradisi Persatuan dan Persaudaraan Masyarakat Maluku
Makan Patita adalah tradisi makan bersama yang diwariskan masyarakat Maluku, yang melambangkan nilai luhur persatuan, persaudaraan, dan semangat gotong royong. Dalam pelaksanaannya, seluruh warga akan berpartisipasi dengan membawa makanan khas daerah masing-masing seperti papeda, ikan kuah kuning, dan berbagai hidangan lainnya. seluruh makanan kemudian disusun dan disantap bersama-sama di atas meja panjang atau di ruang terbuka. Tradisi ini biasanya digelar sebagai bentuk perayaan syukuran maupun ajang rekonsiliasi dan pemulihan hubungan antar masyarakat.
– Makna dan Filosofi
Tradisi ini berlandaskan semangat ale rasa beta rasa, yang bermakna “susah dan senang dirasakan bersama”. Filosofi ini bertujuan mempererat ikatan silaturahmi, meneguhkan persaudaraan sejati, serta memperkokoh rasa kebersamaan di antara sesama.
Waktu Pelaksanaan
Makan Patita umumnya dilaksanakan pada momen-momen penting dalam kehidupan masyarakat adat, seperti perayaan hari jadi negeri/kota, acara pelantikan raja atau pemimpin adat, tradisi Panas Pela (perjanjian persaudaraan antar desa), maupun saat pembangunan atau peresmian Baileo (rumah adat).
Simbol Rekonsiliasi dan Perdamaian
Tradisi ini memiliki peran sangat penting sebagai sarana memperkokoh perdamaian. Makan bersama ini sering dijadikan momen untuk menyelesaikan perselisihan atau perbedaan pandangan, sebagaimana tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun di Negeri Liang dan banyak daerah lain di Maluku.
Menu Makanan
Meja panjang akan dipenuhi beragam kuliner lokal hasil sumbangan bersama warga. Hidangan yang disajikan umumnya berupa makanan pokok dan lauk khas, antara lain papeda, ikan kuah kuning, berbagai olahan sagu, sayuran, hingga hasil laut lainnya yang disajikan secara lengkap dan berjejer. [*]


















