Berita

IM Mengaku Takut ke Kampus Usai Diteror di Media Sosial

4

“Kasus ini menjadi pengingat bahwa pemberitaan dan penyebaran informasi di media sosial perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Perbedaan pendapat atau kritik terhadap pernyataan seseorang semestinya disampaikan tanpa ancaman kekerasan maupun penghinaan pribadi”

Nabire, Kalawaibumiofi | IM mengaku belum berani kembali ke kampus sejak Selasa setelah dirinya menerima berbagai komentar bernada ancaman dan penghinaan di media sosial. Ia menyebut situasi tersebut membuatnya takut untuk menjalani aktivitas perkuliahan seperti biasa.

IM mengatakan, sejumlah unggahan dan komentar di Facebook membuat dirinya merasa terancam. Ia mengaku menerima pesan yang menyebut dirinya akan dipukul jika bertemu di kampus, bahkan terdapat komentar bernada ancaman penyaliban serta penghinaan terhadap dirinya sebagai perempuan.

“Sudah sejak Selasa saya tidak ke kampus karena mereka memasukkan semuanya ke Facebook. Ada yang mengancam mau menyalibkan, ada yang bilang kalau bertemu di kampus nanti akan dipukul. Saya takut,” kata IM untuk Kalawai, Kamis (29/10/2026).

Ia juga mengaku kecewa terhadap pemberitaan salah satu media online yang menurutnya tidak menggambarkan secara utuh pernyataan yang disampaikannya. Menurut Imanuwla, apa yang ia sampaikan berkaitan dengan kegiatan sebuah organisasi justru berkembang menjadi pemberitaan yang viral dan memicu berbagai reaksi di media sosial.

“Saya sangat kecewa dengan pemberitaan yang dinaikkan. Menurut saya, pihak yang membuat berita harus mengklarifikasi karena berita itu yang dimasukkan sampai sekarang menjadi viral,” tuturnya.

IM menegaskan bahwa dalam keterangannya, ia hanya bermaksud menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan organisasi tersebut. Ia menyebut apresiasi itu disampaikan atas nama pribadi, bukan untuk mewakili Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM).

“Saya hanya mengapresiasi kegiatan mereka. Itu atas nama pribadi, bukan atas nama USWIM,” jelasnya.

IM juga mengungkapkan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan arahan dosen. Namun, dalam keterangannya, ia menilai perlu ada penjelasan yang utuh mengenai konteks kehadiran dan pernyataan yang disampaikannya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Ia berharap pihak yang membuat pemberitaan dapat memberikan klarifikasi terhadap informasi yang dinilainya tidak sesuai dengan pernyataan awal.

“Saya mau dan berharap masalah ini segera selasai dmjarena saya mau lanjut sekolah (kuliah), ” harap IM.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pemberitaan dan penyebaran informasi di media sosial perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Perbedaan pendapat atau kritik terhadap pernyataan seseorang semestinya disampaikan tanpa ancaman kekerasan maupun penghinaan pribadi

Hingga berita ini dipublis, keterangan dari pihak belum diperoleh dan Kalawai sedang berusaha untuk meminta keterangan semua pihak terkait.

Sebelumnya, Ketua BEM USWIM Nabire, Fredison Adii, melalui pernyataan sikap meminta klarifikasi atas pemberitaan yang mengatasnamakan mahasiswa USWIM terkait kegiatan Barisan Merah Putih bersama komunitas Gen Z. BEM menegaskan pentingnya menghormati independensi organisasi kemahasiswaan dan kebebasan akademik. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version