Nabire, Kalawaibumiofi | Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Yanuarius Teofilus Matopai You, mengajak generasi muda Papua dan Maluku untuk melanjutkan warisan pelayanan para misionaris dan tenaga pendidik yang telah berkontribusi dalam bidang pendidikan, pelayanan gereja, dan pembangunan masyarakat Papua.
Pesan itu disampaikan Yanuarius dalam sambutannya pada Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Imamat Mgr. Seno Ngutra, RD. Kornelis Seralarat, dan RD. Agustinus Arbol di Gereja Hati Kudus Yesus Ohoi Waur, Kecamatan Elat, Kabupaten Maluku Tenggara, Selasa (6/10/2026).
Mgr. Yanuarius menyampaikan ucapan selamat dan syukur dari umat Keuskupan Jayapura serta keluarga besar masyarakat Kei dan Tanimbar di Tanah Papua kepada ketiga imam yang merayakan 25 tahun tahbisan imamat.
“Kiranya Tuhan terus memberkati, menguatkan, dan menyertai ketiganya dalam menjalankan pelayanan kepada umat, khususnya di wilayah Keuskupan Amboina yang tersebar di berbagai pulau,” ungkapnya.
Menurut Mgr Yanuarius, perayaan 25 tahun tahbisan imamat tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan pelayanan, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kesetiaan Tuhan serta tanggung jawab melanjutkan karya pelayanan bagi generasi berikutnya.
“Perayaan ini bukan sekadar perayaan waktu yang berlalu, tetapi tanda kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah,” tuturnya.
Mgr Yanuarius juga menyampaikan penghargaan kepada para misionaris, biarawan, biarawati, dan tenaga pendidik yang telah melayani masyarakat Papua, termasuk mereka yang berasal dari Kei dan Tanimbar.
Para pelayan Gereja saat itu dari Kei, Tanimbar dan Maluku pada umumnya telah bekerja di berbagai wilayah Papua, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah pedalaman. Selain mewartakan Injil, mereka turut membuka akses pendidikan dan mendirikan sekolah-sekolah yang kemudian menjadi bagian penting dalam perkembangan masyarakat.
Ia mengungkapkan, Pengabdian para misionaris dan tenaga pendidik itu telah membuka kesempatan bagi orang Papua untuk memperoleh pendidikan serta mengambil bagian dalam pelayanan Gereja dan kehidupan bermasyarakat.
“Saya adalah salah satu orang yang merasakan dampak pelayanan dan pendidikan yang diberikan para pendahulu itu,” ungkapnya.
Dikatakan, hasil pengabdian itu dapat dilihat dari keterlibatan orang Papua dalam berbagai bidang, termasuk sebagai imam, biarawati, tenaga pendidik, dan aparatur pemerintahan.
Atas kontribusi tersebut, ia menyampaikan terima kasih kepada para pelayan Gereja yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
“Mari kita mendoakan mereka para pendahulu yang telah wafat agar memperoleh kehidupan kekal,” imbuhnya.
Persaudaraan sebagai dasar pembangunan Papua
Mgr. Yanuarius menegaskan, warisan pelayanan para pendahulu perlu dilanjutkan melalui semangat persaudaraan dan kekeluargaan di antara masyarakat Papua.
“Untuk itu, mari kita menjaga hubungan baik lintas suku dan latar belakang serta bekerja bersama demi mewujudkan Papua yang lebih cerdas, damai, sejahtera, dan maju,” tegasnya.
Menurutnya, pengabdian para pendahulu harus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan karya pendidikan, pelayanan sosial, dan pembangunan masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pelayanan Gereja.
“Harapan saya, mari kita tetap bersama dalam semangat kekeluargaan dan persaudaraan. Mari kita bersama-sama meneruskan warisan yang telah diberikan oleh para pendahulu,” demikian pesan Yanuarius.
Mendorong pendidikan calon imam
Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Yanuarius juga berharap adanya dukungan berkelanjutan bagi pendidikan calon imam, termasuk melalui kerja sama antara Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Amboina.
Harapan agar Keuskupan Amboina turut mendukung calon-calon imam yang ingin melanjutkan pendidikan di Keuskupan Jayapura.
“Sebab pendidikan calon imam merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu melanjutkan pelayanan Gereja dan mendampingi umat di berbagai wilayah Papua,” harapnya.
Yanuarius menutup sambutannya dengan mengajak seluruh umat untuk terus menjaga persaudaraan dan meneruskan semangat pengabdian para pendahulu demi masa depan masyarakat Papua.
“Mari kita melanjutkan warisan pelayanan para misionaris melalui pendidikan, pelayanan Gereja, dan pembangunan masyarakat demi keberlanjutan pelayanan kepada umat,” pungkasnya. [*]













