“Manajer Intan Sunrise Band, Johan Kudiai, menyebut musik sebagai ruang kreativitas bagi anak muda di tengah konflik di Intan Jaya. Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mengapresiasi penampilan grup tersebut dan berharap lebih banyak musisi dari Intan Jaya tampil pada festival berikutnya”
Nabire, Kalawaibumiofi | Musik adalah salah satu ruang bagi anak muda untuk mengembangkan kreativitas dan membangun kebersamaan. Di tengah konflik yang melibatkan sejumlah anak muda di Intan Jaya, Papua Tengah, Intan Sunrise Band berupaya merangkul generasi muda melalui kegiatan bermusik.
Manajer Intan Sunrise Band, Johan Kudiai, mengatakan pembentukan grup musik tersebut merupakan bagian dari upaya Bupati Intan Jaya, Aner Maisini dalam melibatkan anak muda untuk kegiatan positif. Ia berharap musik dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka.
Johan menyampaikan hal itu seusai Intan Sunrise Band tampil membawakan tiga lagu tentang Intan Jaya dalam Papua Festival Reggae (PRF) XI di kawasan Bandara Lama Nabire, Sabtu (17/10/2026).
“Daerah kita ini mengalami konflik yang melibatkan sejumlah anak muda. Bagaimana caranya supaya anak-anak muda ini bisa dilibatkan? Tidak hanya melalui band, tetapi juga beberapa kegiatan lain untuk menyibukkan mereka,” kata Johan.
Menurut Johan, Papua Festival Reggae telah memberikan ruang bagi musisi untuk menampilkan karya dan mengembangkan musik reggae. Ia berharap kegiatan serupa juga tersedia bagi genre musik lainnya sehingga semakin banyak anak muda Papua dapat menyalurkan bakat mereka.
“Dunia musik yang ada di Tanah Papua ini sudah luar biasa. PRF telah memberikan ruang untuk musik reggae. Kita berharap genre-genre yang lain juga bisa membuat kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Tiga lagu mengangkat kisah Intan Jaya
Dalam penampilannya, Intan Sunrise Band membawakan tiga lagu yang mengangkat kisah cinta, persatuan antarsuku, dan kondisi geografis Kabupaten Intan Jaya.
Johan menjelaskan, lagu pertama berjudul Ame Panendo berkisah tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta kepada seorang perempuan. Kisah tersebut disampaikan melalui gambaran daerah asalnya, termasuk lingkungan alam dan berbagai jenis hewan yang hidup di sana.
Lagu kedua, Ondoma Hagoma, mengangkat pesan persatuan masyarakat Intan Jaya yang terdiri atas sejumlah kelompok suku, yakni Moni, Dani, Nduwa, dan Wolani.
“Lagu kedua, Ondoma Hagoma, menceritakan tentang empat suku di sana, yakni Moni, Dani, Nduwa, dan Wolani, yang artinya Intan Jaya itu satu,” kata Johan.
Sementara itu, lagu ketiga, Pigu-Pigu, menceritakan kondisi alam Intan Jaya yang berada di kawasan pegunungan. Lagu tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat di tengah kondisi geografis yang menantang.
Melalui ketiga lagu itu, Intan Sunrise Band berupaya memperkenalkan kehidupan masyarakat, keberagaman suku, dan kekayaan alam Intan Jaya kepada penonton festival.
Bupati apresiasi penampilan musisi muda
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mengapresiasi penampilan Intan Sunrise Band dalam PRF XI. Ia mengatakan kondisi geografis Intan Jaya yang berada di kawasan pegunungan bukan penghalang bagi anak muda untuk mengembangkan bakat dan menunjukkan kemampuan mereka.
“Intan Jaya adalah daerah gunung. Daerah gunung bukan penghalang, tetapi ada harapan. Hari ini, orang Intan Jaya masih pemula, tetapi mereka berusaha untuk tampil,” kata Aner.
Ia berharap penampilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Intan Jaya untuk terus mengembangkan kemampuan bermusik dan mengikuti kegiatan serupa pada masa mendatang.
Aner juga berharap festival berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak kelompok musik dari Intan Jaya. Menurutnya, daerah tersebut memiliki musisi senior, termasuk Mepa Black, yang dapat menjadi bagian dari perkembangan musik lokal.
Ia menjelaskan, persiapan Intan Sunrise Band untuk tampil dalam festival tersebut relatif singkat, yakni sekitar satu minggu. Meski demikian, ia mengapresiasi usaha para personel yang telah berupaya memberikan penampilan terbaik.
“Terima kasih kepada mereka yang sudah tampil dengan baik. Saya mendukung panitia dan Papua Tengah. Untuk reggae berikutnya, kita tetap mendukung,” ujarnya.
Dukungan tersebut, menurut Aner, menjadi bagian dari upaya memberikan kesempatan kepada anak muda Intan Jaya untuk menunjukkan kreativitas melalui musik.
Baru berlatih bersama selama sebulan
Johan mengatakan Intan Sunrise Band baru menjalani latihan bersama selama kurang lebih satu bulan sebelum tampil di PRF XI.
Para personel memiliki latar belakang musik yang berbeda. Sebagian terbiasa mengiringi kegiatan di gereja, sedangkan dua vokalis sebelumnya lebih aktif dalam musik rap. Perbedaan pengalaman tersebut menjadi tantangan untuk membangun kekompakan dalam satu grup.
“Kami mengakui masih banyak kekurangan, tetapi yang ditampilkan adalah yang terbaik,” kata Johan.
Salah satu personel yang menarik perhatian penonton adalah Dalton Maisini, pemain drum berusia 12 tahun yang, berdasarkan keterangan panitia atau keluarga, masih duduk di bangku sekolah. Sebelum bergabung dengan Intan Sunrise Band, Dalton telah terbiasa bermain drum dalam kegiatan ibadah dan acara di gereja.
Johan mengungkapkan, pada awalnya orang tua Dalton belum menyetujui anak mereka tampil bersama band tersebut. Namun, setelah mendapat penjelasan mengenai pentingnya ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kepercayaan diri anak, Dalton akhirnya mendapat kesempatan tampil.
Menurut Johan, Dalton menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara latihan dan kegiatan sehari-hari. Meski demikian, ia menilai Dalton memiliki motivasi yang baik untuk belajar dan tampil bersama personel lainnya.
Dalton tampil dalam dua lagu di festival tersebut. Setelah penampilan itu, ia memeluk Johan dan menyampaikan bahwa dirinya sudah berani tampil di depan penonton.
Bagi Johan, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun keberanian dan kepercayaan diri Dalton.
Festival membuka ruang bagi seni dan budaya
Johan juga mengapresiasi penyelenggaraan PRF XI yang memberikan ruang bagi seni dan budaya Papua. Menurutnya, kegiatan seperti peragaan busana dan penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memperkenalkan identitas budaya masyarakat Papua.
Ia menilai unsur modern dapat dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya asli. Karena itu, ia berharap festival tersebut terus berlangsung dan mendorong lahirnya kelompok musik baru di berbagai daerah, termasuk Intan Jaya.
Johan berharap pengalaman tampil di festival menjadi bahan evaluasi bagi Intan Sunrise Band untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan para personelnya.
Sementara itu, Aner berharap semakin banyak kelompok musik dari Intan Jaya berpartisipasi dalam festival mendatang. Dengan adanya ruang pertunjukan, generasi muda diharapkan dapat terus mengembangkan potensi, memperluas pengalaman, dan memperkenalkan kekayaan seni daerah melalui musik. [*]













