(*Bagian 1), Dari Kandang Ternak, Jalan Kaki, Menjadi Perwira Polisi.
Malam itu, 15 Agustus 2026, pukul 20.00 WIT. Aula Polres Nabire baru saja selesai dengan prosesi pengukuhan Paskibraka tingkat Kabupaten Nabire. Di ruang kerja Kapolres, suasana tenang menyambut kami. AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, S.I.K., M.H., CPHR, mengenakan pakaian dinas PDU I, duduk tegak namun hangat. Wajahnya sesekali tersenyum, sesekali berubah serius, dan ketika pertanyaan menyentuh masa kecil serta didikan kedua orang tuanya, mata berbinar dan air mata jatuh perlahan.
Ia dikenal sebagai Kapolres bertangan dingin. Di kalangan pejabat maupun masyarakat paling bawah, nama Tatiratu dihormati. Di Nabire, hampir tidak pernah terjadi bentrokan antara aparat dan masyarakat saat demonstrasi. Bahkan, Kapolres sendiri kerap berjalan beriringan mengawal massa aksi dari titik kumpul hingga lokasi tujuan. Di mana letak kekuatan itu? Jawabannya bermula jauh sebelum ia mengenakan seragam polisi — bermula di Ambon, di tengah Tragedi Ambon Berdarah, di sebuah kandang ternak di Peternakan Paso.

Lahir di Ambon, Tumbuh dalam Kesederhanaan dan Pengungsian
Samuel Dominggus Tatiratu lahir di Ambon, 5 Desember 1984. Ia anak tertua dari lima bersaudara. Ayahnya, almarhum Lodrik Tatiratu, S.H., seorang sarjana hukum yang memilih menjadi nelayan. Ibunya, Anneke Susan Nikijuluw, seorang guru.
“Kami keluarga sangat sederhana. Mama guru, Bapak nelayan,” ujarnya memulai cerita.
Pendidikan awalnya ditempuh di SD Negeri 81 Rumah Tiga, dilanjutkan ke SMP Negeri 7 Ambon, kemudian ke jenjang berikutnya di SMA Negeri 3 Ambon yang pada saat itu masih menggunakan bangunan SMA Negeri 5 Lateri. Namun damai itu tidak bertahan lama. Pada 4 Juli 2000, saat pecah kerusuhan, kami baru saja tamat sekolah tingkat SMP. Ketika berada di kamp pengungsian, kami baru mulai mendaftarkan diri di SMA Negeri 5 Lateri. Keluarga Samuel terpaksa mengungsi ke Peternakan Paso, dekat SPN Paso.
“Kami tinggal di kandang ternak — kandang ayam dan ternak yang dibersihkan seadanya. Panjangnya sekitar 8–10 meter, lebar 4 meter, dibagi dua dengan sekat karung beras yang dijahit benang rafia. Di satu sisi kami tidur, sisi lain keluarga lain. Tujuh orang dalam satu ruang: Ayah, Ibu, saya, dan empat adik. Yang bungsu baru berumur setahun,” kenangnya dengan suara pelan.
Sekolah pun menjadi tantangan berat. Jarak dari pengungsian ke sekolah SMA Negeri 5 Lateri kurang lebih 5 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam berjalan kaki satu arah. Tidak ada kendaraan. Setiap pagi, Samuel berjalan kaki pulang-pergi sejauh itu.
“Karena semua seragam terbakar, kami mendapat pinjaman dari tetangga: satu celana seragam SMA, sedangkan baju masih memakai baju SMP. Tas sekolah awalnya hanya tas kresek. Saat itu SMA Negeri 3 belum bisa diakses karena situasi belum kondusif,” ungkapnya.

Jual Koran Suara Maluku dan Siwalima, Bantu Hidup Keluarga
Di usia SMA, Samuel mengambil keputusan berat. Tanpa sepengetahuan ayahnya, setiap pagi pukul 05.15 WIT setelah doa keluarga, ia berangkat ke Pasar Paso untuk mengambil dan menjual Koran Suara Maluku dan Siwalima.
“Bapak berprinsip: selagi orang tua masih bisa memberi makan anak, jangan anak yang bekerja. Tapi saya melihat ekonomi keluarga sulit. Mama guru SD, Bapak nelayan. Sebagai anak tertua, saya harus bantu.”
Pekerjaannya tidak berhenti menjual koran. Ia juga membantu membersihkan kandang babi, mengangkut ampas tahu untuk pakan, dan menjadi kernet angkot. Penghasilannya hampir sebanding dengan gaji Mama sebagai Guru SD. Uang itu digunakan untuk membayar SPP, membeli keperluan sekolah adik-adik, serta membantu kebutuhan rumah tangga. Meski bekerja keras, prestasinya tetap di atas rata-rata.
“Om Tete, penjual koran tempat saya bekerja, pernah berkata: ‘Dulu orang berpendidikan tinggi enggan berjualan di pasar. Tapi setelah kerusuhan, orang sadar gelar itu sementara. Yang penting tekuni pekerjaan halal, Tuhan akan memberkati.’ Kata-kata itu menjadi pegangan saya,” ungkapnya.

Tes Polisi, Kegagalan dan Tiga Mukjizat Tuhan
Pada 13 April 2003, sebelum ujian nasional, Samuel mencoba peruntungan mendaftar Bintara Polri. Ia berangkat tanpa sepengetahuan ayah yang sedang melaut. Tiga hari kemudian, ia dinyatakan gugur.
“Saya kecewa berat. Almarhum Bapak pernah berpesan: ‘Kalau kau melawan orang tua dan gagal, kau harus keluar dari rumah seperti saat kau dilahirkan.’ Saya sudah merobek sebagian berkas. Saya tidak mau beribadah, tidak mau keluar rumah.”
Namun Tuhan punya cara lain. Pada suatu malam, sekitar pukul 12.00–01.00 dini hari, ia mendengar panggilan — tiga kali — memanggil nama kecilnya: “Ongen, kalau kau ingin melihat hari esok, bangun, berdoa, dan serahkan pada Tuhan.” Ia menuruti panggilan itu. Pada hari Minggu berikutnya, saya berjumpa dengan Oma Eo, warga Paso yang tinggal dekat peternakan tempat kami mengungsi. Beliau memintanya mengambil kembali berkas yang sempat disobek — ternyata berkas asli masih utuh. Ia dibawa ke Polda Maluku untuk bertemu Bapak Ekel Luangmase. Di sana, tanpa diduga, ia justru ditawari mengikuti tes Calon Taruna Akademi Kepolisian.
“Tiga mukjizat terjadi saat proses tes itu, yang saya yakini sebagai tangan Tuhan,” ujarnya.
Pertama, saat pendaftaran dan pembuatan kartu TIK/sidik jari, uang yang saya miliki hanya Rp4.000 sementara perut masih keroncongan karena lapar alias belum makan, belum ada ongkos pulang ke Paso. Saya sempat ragu. Namun Tuhan mempertemukan saya dengan Tante Reta, tetangga sebelah rumah sebelum kerusuhan. Beliau bertanya: “Ongen sudah makan?” dan memberikan uang Rp20.000. Tuhan yang memenuhkan segalanya.
Kedua, saat tes kesamaptaan/jasmani, saya merasa tidak enak badan seperti sakit malaria. Tetapi saya percaya Tuhan akan menguatkan saya. Saya berlari tujuh putaran di Lapangan Merdeka Ambon, dilalui sambil menggigit sebatang rumput di pinggir lapangan dan berhasil menyelesaikannya.
Ketiga, saat psikotes, saya meminta tanda dari Tuhan. Saat mengangkat kepala, melihat gambar Yesus menggembalakan domba, dan di luar gedung lewat truk dengan nomor telepon berawalan 021 yang ternyata juga merupakan kode nomor pendaftaran Catar saya. Itu tanda saya lolos.
Dari 160 peserta, hanya enam orang yang lolos, dan Samuel berada di peringkat keenam. Ia diterima di Akademi Kepolisian sebelum ijazah SMA keluar.
“Saya anak tidak punya apa-apa, tapi Tuhan yang memberi kemenangan,” tegasnya.
Lulus pada 2006, dan perjalanan pengabdiannya pun bermula — dari Jambi, Papua, hingga kembali ke tanah tugasnya di Nabire. [*]












