Nabire, Kalawaibumiofi.com | Kepala Suku Besar Yerisiam Gua, Ayub Kowoi, meminta pemerintah daerah memberi perhatian serius terhadap pemerataan pembangunan di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Wilayah adat Suku Yerisiam Gua di Kampung Sima, Distrik Yaur, merupakan salah satu kantong ekonomi daerah yang menyumbang sumber daya alam penting, mulai dari perkebunan sawit, perikanan, hingga hasil hutan.
Namun, kontribusi besar itu belum sepenuhnya kembali dalam bentuk infrastruktur dasar yang memadai. Kampung Sima hingga kini masih bergulat dengan persoalan banjir akibat luapan Sungai Sima dan akses jalan yang rusak parah. “Normalisasi sungai dan peningkatan jalan aspal harus menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat berjalan lancar,” kata Ayub dalam keterangan tertulis, Senin, 25 Agustus 2025.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan mengalokasikan Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit sebesar Rp 1,02 miliar untuk Provinsi Papua Tengah pada tahun anggaran 2025. Kabupaten Nabire sendiri menerima total dana transfer Rp 1,55 triliun, meski besaran khusus DBH Sawit belum dirinci.
Berdasarkan aturan pembagian, provinsi penghasil sawit berhak atas 20 persen, kabupaten penghasil 60 persen, dan kabupaten berbatasan 20 persen. Artinya, sebagai daerah penghasil sawit, Nabire mestinya menerima porsi lebih besar. “Dana ini seharusnya bisa diarahkan untuk pembangunan di kampung-kampung penghasil, termasuk Sima,” ujar Ayub.
Alih-alih menyampaikan kritik, Ayub menawarkan solusi konkret. Ia mendorong pemerintah daerah untuk :
Menetapkan Kampung Sima sebagai wilayah rawan bencana, sehingga penanganan banjir bisa menjadi program prioritas.
Mengalokasikan sebagian DBH Sawit untuk infrastruktur dasar, seperti jalan produksi dan tanggul sungai.
Melibatkan masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan, agar program lebih tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh warga.
Menurut Ayub, langkah-langkah tersebut akan menjawab ketimpangan pembangunan antara pusat kota Nabire dan kampung-kampung adat di pesisir. “Kalau pembangunan adil dan merata, masyarakat pun merasa dilibatkan. Itu sejalan dengan visi ‘Nabire Hebat’,” ujarnya.
Kehadiran perusahaan perkebunan PT Nabire Baru sejak 2017 menandai peran strategis wilayah adat Yerisiam Gua dalam rantai ekonomi sawit. Namun, masyarakat berharap kehadiran investasi besar juga diikuti dengan pembangunan infrastruktur dasar.
DBH Sawit yang mulai disalurkan pemerintah sejak 2023 sejatinya ditujukan untuk mengurangi kesenjangan antara daerah penghasil dan wilayah konsumsi. Tahun ini, Papua Tengah mendapat Rp 1,02 miliar. Jumlah itu memang kecil jika dibandingkan total dana transfer ke Nabire yang mencapai Rp 1,55 triliun, tetapi diharapkan bisa menjadi instrumen keadilan fiskal jika digunakan tepat sasaran. [*]
Dapatkan update berita Kalawaibumiofi.com dengan bergabung di saluran Portal kalawaibumiofi.com Nabire di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb5HSBnLSmbczLEXuF0X. Caranya muda, Anda bisa mendapatkan melalui Aplikasi WhatsApp, atau dapatkan juga di medsos (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok) dengan nama akun Warta Bumiofi.


















