Fakfak, Kalawaibumiofi.com | Kualitas udara di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menjadi perhatian dalam beberapa hari terakhir. Data dari aplikasi pemantau kualitas udara menunjukkan indeks kualitas udara di wilayah Distrik Fakfak berada pada kategori yang perlu diwaspadai, sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak belum memberikan tanggapan mengenai kondisi tersebut.
Pada 24 September 2026, salah satu aplikasi pemantau kualitas udara mencatat Air Quality Index (AQI) sebesar 106 untuk wilayah Distrik Fakfak. Angka tersebut berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif berdasarkan klasifikasi yang digunakan aplikasi tersebut.
Aplikasi yang sama mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 37,7 µg/m³ dan PM10 sebesar 41,0 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Pedoman Kualitas Udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021 menetapkan nilai panduan PM2.5 untuk paparan rata-rata 24 jam sebesar 15 µg/m³.
Dengan demikian, konsentrasi PM2.5 sebesar 37,7 µg/m³ yang tercatat dalam aplikasi tersebut berada sekitar 2,5 kali nilai panduan WHO untuk rata-rata 24 jam.
Kebakaran Bomberay dan Tomage Perlu Ditelusuri
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian di tengah adanya laporan mengenai kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bomberay dan Tomage.
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap serta partikulat halus, termasuk PM2.5. Asap kemudian dapat terbawa angin ke wilayah lain, bergantung pada arah dan kecepatan angin, kelembapan, serta kondisi atmosfer.
Karena itu, kebakaran di Bomberay dan Tomage menjadi salah satu kemungkinan sumber asap yang perlu ditelusuri dalam melihat kondisi kualitas udara di Fakfak.
Namun, data PM2.5 yang ditampilkan aplikasi belum cukup untuk memastikan bahwa konsentrasi 37,7 µg/m³ di Distrik Fakfak secara langsung berasal dari kebakaran di Bomberay atau Tomage.
Untuk memastikan keterkaitan tersebut diperlukan data mengenai arah dan kecepatan angin, titik panas atau lokasi kebakaran, waktu kejadian, serta hasil pengukuran konsentrasi partikulat di lokasi kebakaran dan wilayah yang diduga terdampak asap.
Risiko terhadap Kesehatan
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat mengandung partikulat halus serta berbagai zat pencemar yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Paparan partikulat dapat menimbulkan atau memperburuk keluhan seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta gangguan pernapasan. Masyarakat yang memiliki asma atau penyakit pernapasan tertentu dapat menjadi lebih rentan terhadap paparan polusi udara.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau kardiovaskular.
Dampak paparan dapat berbeda pada setiap orang, tergantung konsentrasi polutan, lama paparan, lokasi, jarak dari sumber asap, serta kondisi kesehatan masing-masing.
Selain data pemantauan, informasi prediksi kualitas udara juga menempatkan Fakfak dalam kategori tidak sehat pada 24, 25, dan 26 September 2026.
Namun, prediksi kualitas udara tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memastikan bahwa asap dari Bomberay atau Tomage merupakan penyebab utama memburuknya kualitas udara di pusat Fakfak.
Diperlukan pemantauan resmi serta analisis meteorologi untuk mengetahui sejauh mana asap dari lokasi kebakaran berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah perkotaan Fakfak.
Dinkes Belum Memberikan Tanggapan
Di tengah kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, dr. Maulana K. Patiran, M.Kes., belum memberikan tanggapan kepada media ini.
Media ini telah menghubungi Kepala Dinas Kesehatan melalui WhatsApp pada Kamis, 24 September 2026, untuk meminta keterangan mengenai kondisi kualitas udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Pesan tersebut telah terlihat dibaca, ditandai dengan centang biru. Namun, hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan maupun konfirmasi mengenai kesediaan wawancara.
Karena belum mendapat keterangan dari Dinas Kesehatan, belum dapat diketahui apakah pemerintah daerah telah melakukan pemantauan terhadap kemungkinan dampak kesehatan akibat kondisi kualitas udara tersebut, termasuk apakah terdapat peningkatan keluhan gangguan pernapasan di masyarakat.
Keterangan dari Dinas Kesehatan diperlukan masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai serta langkah perlindungan yang dapat dilakukan apabila kualitas udara memburuk.
Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Ketika kualitas udara memburuk akibat asap atau polusi partikulat, masyarakat dapat mengurangi aktivitas fisik berat dan olahraga di luar ruangan, terutama kelompok yang rentan.
Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dapat menggunakan alat pelindung pernapasan yang memiliki kemampuan menyaring partikulat halus, seperti respirator N95.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan. Apabila muncul keluhan seperti sesak napas berat, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang semakin memburuk, warga perlu segera mencari pertolongan medis.
Pemerintah daerah dan instansi terkait juga diharapkan memberikan informasi secara terbuka mengenai perkembangan kebakaran di Bomberay dan Tomage, arah pergerakan asap, hasil pemantauan kualitas udara, serta langkah perlindungan kesehatan bagi masyarakat.
Sampai berita ini diterbitkan, kebakaran di Bomberay dan Tomage merupakan salah satu dugaan sumber asap yang relevan untuk ditelusuri. Namun, belum tersedia data yang cukup untuk memastikan kedua lokasi tersebut sebagai penyebab langsung konsentrasi PM2.5 yang tercatat di Distrik Fakfak. [*]













