Nabire, Kalawaibumiofi.com | Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., dalam khotbahnya pada misa penerimaan sakramen krisma menyinggung tema “Kebangkitan Lazarus oleh Yesus Kristus sebagai dasar utama” pesan yang disampaikan.
Menurut Uskup, cerita kebangkitan Lazarus bukan hanya tentang keajaiban semata, melainkan juga tentang proses pergumulan keluarga Lazarus, Marta dan Maria yang merasakan kehilangan mendalam. Peristiwa tersebut terjadi setelah keluarga tersebut membangun relasi dan persahabatan yang erat dengan Yesus.
“Jika peristiwa seperti ini terjadi di masa kini, pasti akan menjadi peristiwa yang sangat menghebohkan dan menarik perhatian seluruh orang Indonesia,” tutur Uskup Baru dalam khotbahnya, Minggu (22/3/2026).
Uskup Baru mengungkapkan, jika ada orang yang dibangkitkan di oleh Pastor Paroki KSK seperti yang digambarkan, akan banyak orang yang datang bahkan melalui live streaming untuk melihat saat ini dan mendengar pengalaman orang yang dibangkitkan.
Uskup juga mengutip kata seorang pemimpin spiritual yang mengatakan bahwa manusia tidak hidup untuk mati, melainkan hidup untuk hidup.
“Peristiwa kebangkitan Lazarus membawa pesan kuat bahwa umat Kristen hidup untuk kehidupan, bukan untuk kematian. Apa pun yang kita alami di dunia ini akan memiliki kelanjutan dalam hidup kekal bersama Tuhan, yang merupakan tujuan akhir bagi kita sebagai orang Kristen,” ungkapnya.
Uskup menegaskan, bagi mereka yang tidak percaya Kristus mungkin berpikir hidup hanya untuk mati, namun Yesus melalui kebangkitan Lazarus dan kebangkitannya sendiri mengajarkan tentang kehidupan abadi.
“Hidup di dunia ini adalah perjalanan menuju hidup kekal, kesempurnaan dalam pemulihan Allah,” tegas Uskup.
Ia juga mengingatkan pesan terakhir Paus Benediktus sebelum mengundurkan diri lalu meninggal, tentang pentingnya mengajarkan katekese tentang hidup kekal, surga, neraka, pengadilan akhir, dan tempat api penyucian.
Bahwa akhir-akhir ini, pembelajaran tentang hal tersebut kurang mendapatkan perhatian, sehingga umat cenderung hanya mengejar kehidupan dunia yang membawa pada kematian sejati, akibat terpengaruh oleh ideologi sesat seperti hedonisme, materialisme, konsumerisme, dan kapitalisme yang dapat merusak iman dan cinta.
“Dogma ini harus terus diajarkan oleh para pastor, katekis, dan guru agama. Pertanyaan filsafat tentang dari mana kita datang, untuk apa kita ada, dan kemana kita pergi setelah dunia ini memiliki jawaban dalam Kristus, yang merupakan hidup abadi dan kekal yang menjadi tujuan akhir kehidupan kita,” tutup Uskup dalam khotbahnya. [*]

















