Tanah Papua

Mogok kerja sopir truk pembangunan Bandara Nabire akhirnya dapat solusi

32
DPDR Nabire dan Pimpinan PT Nindya Modern ketika di lokasi Bandar udara Nabire, Kampung Kaladiri, Distrik Wanggar – BumiofiNavandu.

Nabire, BumiofiNavandu – Mogok kerja yang dilakukan oleh para sopir pengangkut material timbunan di Bandar udara Douw Atarure di Kampung Kaladiri, Distrik Wanggar membuahkan hasil. Hal ini terjadi setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Nabire, Komisi A Bidang Hukum dan Pemerintahan dan Komisi C bidang infrastruktur menemui perwakilan PT Nindya Modern di base camp perusahaan itu pada Rabu (14/04/2021).

Ketua tim DPDR Nabire, Sambena Inggeruhi, mengatakan, kunjungan untuk menindaklanjuti aspirasi pada sopir pekerja di Bandara yang menuntut upah dinaikkan dan tambahan BBM solar. Selain itu, Dewan ingin melihat dari dekat sejauh mana perkembangan pekerjaan pembangunan bandara ya ng terletak di Kampung Kaladiri, Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire-Papua tersebur.
“Kami kesini karena ada aspirasi dari sopir pekerja yang menuntutnya upah dinaikan dan penambahan BBM. Minggu lalu mereka datang ke kantor dan sampaikan ke DPRD Nabire,” kata Sambena mengawali Pertemuan siang itu. Rabu (14/04/2021).
Selain itu lanjut Inggeruhi, DPDR Nabire sejak pembangunan bandara baru sejak perencanaan hingga tahap pergerjaan, telah mengetahui bahwa setelah rampung pekerjaannya akan di darat oleh pesawat berbadan besar. akan tetapi, dari informasi yang diperoleh hanya akan di darati pesawat jenis ATR.
“Kami juga mau cek pesawat apa yang akan mendarat kalau bandara sudah jadi. Sebab ternyata kami baru tau bahwa hanya ATR yang akan mendarat,” lanjutnya.
Sehingga menurutnya, perlu ada penyelesaian dan kesepekatan yang harus di cari guna mendapatkan solusi terbaik. Sebab, DPRD Nabire tidak menghendaki para sopir dipecat dari pekerjaannya oleh perusahaan.
Andai solusinya didapati, DPDR Nabire tidak akan melanjutkan untuk memanggil para pihak seperti Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Perhubungan guna menindaklanjuti tuntutan para sipir truk.
“Jadi harapannya dari pertemuan ini harus ada solusi hari ini. sebab kami tidak ingin mereka di pecat. Kalau tidak ketemu solusi, kami terpaksa harus hadirkan para pihak seperti Dishub dan Depnaker,” Sambena.
Fery Upang, deputi Projecj PT Nindya Moderen menanggapi bahwa perusahannya sebenarnya mampu dengan armada yang dimiliki melayani pekerjaan penimbungan.
Akan tetapi kata dia, sebagian sopir mendatangi untuk meminta bekerja. Mereka (sopir) kemudian diterima dengan catatan harus memenuhi aturan dari perusahaan. Jika tidak, maka dipersilahkan untuk mencari kerja di tempat lain.
“Sebetulnya kami munya armada yang saat ini di pedalaman yang ngangur. Tapi karena mereka datang maka kami terima dengan aturan perusahaan,” kata Fery.
Fery menjelaskan, para sopirpun menyanggupi dengan upah dari perusahaan sebesar Rp50.000 tanpa solar. Akan tetapi, guna memperlancar pekerjaan maka perusahaan mengambil kebijakan bahwa solar disediahkan untuk sopir sebesar 2,5 liter per retnya sebab sudah ada uji coba oleh perusahaan.
“Kami pikir kalau mereka antri solar lagi maka pekerjaan tidak akan lancer. Jadi solar ditanggung perusahaan dengar harga industry yang sudah disediahkan,” jelasnya.
Sementara terkait panjang landasan pacu dan pembangunannya kata Fery, pembangunan bandara untuk keseluruhan fasilitas termasuk landasan pacu dan sisi darat (perkantoran, terminal dan lain-lain). Hanya saja, untuk landasan pacu baru akan diselesaikan sepanjang 1,6 kilometer dari total 2,6 kolimeter dengan target 2022 sudah didarati oleh pesawat jenis ATR.
“Untuk pembangunan saat ini adalah landasan dan fasilitas sisi darat, semua ini harus kelar tahun ini.sisahnya 1 kilometer nanti untuk tahap selanjutnya,” jelas Upang.
Pertemuan kemudian menghasilkan beberapa kesepakatan antara lain; pertama, perusahaan mnyanggupi untuk membenahi aturan dengan menerbitkan kontrak bagi pekerja terutama sopir. Kedua, solar tidak ditambahkan namun upah kerja per ret timbunan diberikan sesuai permintaan para sopir yakni menambahkan Rp 10.000 ribu menjadi Rp50.000 rupiah.
Sebelumnya, sebanyak 160 sopir truk di Nabire melakukan aksi mogok kerja dan meminta tambahan upah. Para sopir truk tersebut adalah karyawan lepas yang dipekerjakan untuk penimbunan Bandar Udara Douw Atarure.
Mereka bekerja di PT Modern yang merupakan satu di antara tiga sub kontraktor yang mengerjakan Bandara baru itu. Perusahaan memberi upah per retnya Rp 50.000 ditambah 2,5 liter solar. Para sopir kemudian melakukan aksi pada kamis (8/4) pekan lalu dan meminta dinaikan penambahan solar 0.5 liter menjadi 3 liter dan upah per retnya Rp 60.000.(Red)

banner 300x600
error: Content is protected !!
Exit mobile version