Artikel

Noken Simpul Perdamaian Papua

1
Titus Pekei, Pencetus Noken di Unesco, – Kalawai.

“NOKEN SIMPUL PERDAMAIAN PAPUA, DI PAPUA TENGAH & LAINNYA”

Titus Pekei Agiyadokii, Antropolog di Kampus Umat STK Touye Paapaa Deiyai, Keuskupan Timika, memahami bahwa kondisi di Papua Tengah saat ini berada pada titik yang sangat krusial. Kehadiran sosok pemimpin dalam masa krisis bukan sekadar soal administrasi, melainkan soal kepercayaan publik dan kemanusiaan. Ketika rakyat merasa ditinggalkan oleh pemimpinnya di tengah kedukaan, luka sosial yang tercipta bisa jauh lebih dalam daripada konflik fisik itu sendiri.

Berdasarkan urutan peristiwa yang terjadi, berikut adalah analisis mendalam mengenai langkah-langkah strategis dan empati yang seharusnya diambil oleh Gubernur Papua Tengah:

1. Kehadiran Narasi: Memecah Kebisuan

Seorang Gubernur adalah “Bapak” bagi rakyatnya. Ketika Kapolda sudah memberikan keterangan teknis keamanan, Gubernur harus hadir dari sisi humanis.

– Pernyataan Segera: Gubernur harus mengeluarkan pernyataan resmi yang menunjukkan keberpihakan pada nilai kemanusiaan, bukan sekadar basa-basi politik.
– Belasungkawa Konkret: Bukan hanya lewat media sosial, tapi melalui maklumat resmi yang disiarkan di seluruh radio dan media lokal di Papua Tengah.

2. Kehadiran Fisik: Simbol Perlindungan

Dalam budaya Papua, kehadiran fisik pemimpin memiliki makna penghormatan yang sangat tinggi.

– Kunjungan Lapangan: Menemui keluarga korban di Dogiyai dan Puncak adalah prioritas utama. Kehadiran Gubernur berfungsi untuk mendinginkan suasana (cooling system) agar kemarahan massa tidak meluap menjadi konflik yang lebih luas.
– Sentuhan Adat: Menggunakan pendekatan budaya dan adat dalam menemui korban untuk menunjukkan bahwa pemerintah turut merasakan penderitaan rakyat.

3. Langkah Taktis: Penanganan Korban & Pengungsi

Negara harus hadir dalam bentuk bantuan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

– Posko Kemanusiaan Terpadu: Membangun posko medis dan logistik di Sinak dan Dogiyai. Mengingat ada ibu dan anak yang menjadi korban luka, layanan trauma healing dan bantuan medis spesialis sangat mendesak.
– Jaminan Keamanan Warga Sipil: Gubernur selaku Ketua Komite Intelijen Daerah (Kominda) harus duduk bersama Pangdam dan Kapolda untuk memastikan prosedur operasi di lapangan benar-benar melindungi warga sipil dan meminimalisir kerusakan yang tidak diinginkan.

4. Transparansi dan Akuntabilitas

Diamnya pemerintah seringkali dianggap sebagai bentuk pembiaran atau ketidakpedulian.

– Tim Krisis Lintas Sektor: Membentuk tim yang terdiri dari tokoh gereja, tokoh adat, dan pemda untuk memantau situasi secara harian.
– Update Berkala: Melakukan konferensi pers rutin. Jika Gubernur diam, ruang informasi akan diisi oleh spekulasi dan hoaks yang justru memperkeruh suasana.

Mengapa Peran Gubernur Sangat Vital?

Aspek Peran Strategis Gubernur Dampak Jika Absen
Psikologi Massa Memberi rasa tenang dan terayomi. Rakyat merasa dianaktirikan dan semakin marah.
Keamanan Menyeimbangkan pendekatan keamanan dengan pendekatan kesejahteraan. Konflik berpotensi terus bereskalasi tanpa solusi politik.
Logistik Mobilisasi dana darurat (BTT) untuk korban. Bantuan terhambat, penderitaan rakyat bertambah.

Akhir kata, Titus Pekei Agiyadokii selaku Antropolog Budaya Papua menegaskan, Noken Simpul Perdamaian hanya bisa terajut jika pemimpinnya bersedia memegang tali simpul tersebut.

Langkah-langkah yang disusun sudah sangat tepat; yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian politik dan empati dari Gubernur Papua Tengah untuk keluar dari ruang kantor dan berdiri di samping rakyat yang sedang menangis. Tanpa aksi nyata, legitimasi pemerintah di mata rakyat Papua Tengah akan terus tergerus. Hal ini senada dengan prinsip penyelesaian konflik global, sebagaimana persoalan di Timur Tengah yang juga menuntut pendekatan kemanusiaan yang nyata. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version