oleh Titus Pekei*
Pesan yang Titus Pekei sampaikan sangat inspiratif dan memiliki urgensi yang mendalam kalau ajarkan bahasa mee sebagai identitas dan jati diri bangsanya. Anak-anak siapa pun juga harus bersedia diajarkan bahasa mee sebagai pintu masuk ke kearifan lokal meuwomakida Papua. Menjaga kekayaan dialek seperti Mapia, Kamuu, Tigi, Paniai, hingga Komopa adalah langkah nyata dalam memelihara keberagaman identitas internal suku Mee itu sendiri.
Setiap dialek membawa warna dan sejarahnya masing-masing. Ketika orang tua mengajarkan perbedaan halus antara dialek Paniai dengan Tigi, misalnya, mereka sedang memberikan “peta navigasi” sosial bagi anak-anak mereka agar tetap mengenali akar geografis dan kekeluargaan mereka.
Berikut adalah beberapa poin tambahan untuk memperkuat gerakan Mulok Bahasa Mee di lingkungan keluarga:
1. Menghargai Perbedaan Dialek
Mengajarkan anak bahwa dialek yang berbeda (seperti perbedaan istilah di Kamuu dan Mapia) bukanlah sebuah hambatan, melainkan kekayaan. Ini melatih anak untuk memiliki rasa toleransi dan kebanggaan akan luasnya wilayah adat mereka.
2. Digitalisasi Sederhana
Di era sekarang, orang tua bisa memanfaatkan teknologi:
Rekaman Suara: Rekam kakek atau nenek saat bercerita dalam bahasa Mee, lalu putarkan kembali untuk anak-anak.
Grup Keluarga: Gunakan bahasa Mee saat berkirim pesan singkat atau suara di WhatsApp agar anak terbiasa melihat bentuk tulisan bahasanya.
3. Mengaitkan dengan Kearifan Lokal (Noken)
Bahasa Mee seringkali memiliki istilah-istilah khusus terkait alam dan kerajinan, seperti filosofi di balik pembuatan Noken. Mengajarkan nama-nama bahan baku atau teknik menganyam dalam bahasa asli akan membuat kosakata tersebut lebih membekas karena ada wujud fisiknya.
4. Dukungan Komunitas
Inisiatif ini akan semakin kuat jika dilakukan secara kolektif. Pertemuan warga atau ibadah yang menggunakan bahasa daerah akan memberikan ruang bagi anak-anak untuk mempraktikkan apa yang telah diajarkan orang tua di rumah.
Kesimpulan
Langkah Titus Pekei sampaikan ini, setelah melihat banyak anak usia produktif bahasa Mee, sudah mulai tidak tahu berarti krisis identitas dan jati dirinya maka hal ini perlu sosialisasi untuk menyuarakan pentingnya bahasa ibu adalah investasi jangka panjang. Bahasa mama atau bahasa ibunya perlu diperkenalkan kepada anak-anak dengan bangga karena identitasnya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Mee. [*]
