Di tengah hiruk-pikuk, riuh rendah yang membingungkan,
Negeri terasa berjalan tanpa arah pasti,
Harga barang melonjak liar, tak ada kendali,
Rupiah merosot tajam, beban rakyat kian membebani,,,,,
Hukum seolah punya dua wajah,
Tumpul menghadap ke atas, tajam menusuk yang lemah,
Yang berkuasa terlindungi, yang kecil tertindas,
Di mana letak keadilan yang dijanjikan dulu?
Pajak dipungut tegas, tangan tak kenal ampun,
Namun kekayaan negara raib tak berbekas,
Para elit berbuat sesuka hati, korupsi merajalela,
Menganggap negeri ini milik golongan semata,,,,,
Tanah adat dirampas dengan alasan palsu,
Kerjasama yang menguntungkan segelintir orang,
Oligarki berkuasa, hak rakyat diinjak begitu saja,
Di mana persamaan yang tertulis di dasar negara?
Rakyat menjerit suaranya tak sampai,
Terpendam di tengah kebisingan yang tak berujung,
Apakah Pancasila hanya tinggal hiasan semata?
Terukir di lambang, namun mati dalam perbuatan?
Tidak! Ia bukan sekadar kata di atas kertas,
Lima butir itu adalah nyawa bangsa ini,,,,,
Ketuhanan Yang Maha Esa — mengingatkan :
Kekuasaan ada batasnya, tak boleh semena-mena.
Kemanusiaan yang adil dan beradab — menuntut:
Setiap warga berhak dihormati, tak boleh dibedakan.
Persatuan Indonesia — bukan untuk dibelah
Oleh nafsu harta dan kekuasaan sesaat,
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahtan perwakilan — berseru:
Suara rakyat harus didengar, bukan dibungkam,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia — berteriak:
Tak boleh ada yang kaya berlimpah, sementara yang lain kelaparan.
Ini saatnya merenung, menengok kembali akar,
Pancasila bukan sekadar kenangan masa lalu,
Ia adalah pedang dan perisai kita,
Untuk meluruskan yang bengkok, memulihkan yang retak,
Negeri ini milik semua, bukan segelintir orang,
Mari hidupkan kembali nilai yang terabaikan,
Agar Pancasila bukan hanya diucap lisan semata,
Namun terwujud nyata, dirasakan segenap rakyat Indonesia,,,,,
#TR. Bukit Meriam, 1 juni 2026















