Tanah Papua

Pastor Yance Yogi Tegur Keras Oknum Pungli di Bandara Sugapa

31
Sebuah Pesawat yang sedang parkir di Bandara Sugapa, Kamis (26/3/2026), – Kalawai/Tangkapan Layar.
Pastor Dekan Dekenat Moni – Puncak, Pastor Yanuarius Yance Wadogouby Yogi, Pr., di Bandara Sugapa yang sedang mengamuk terhadap kru pesawat, Kamis (26/3/2026), – Kalawai/Tangkapan Layar.

Nabire, Kalawaibumiofi.com |  Pastor Dekan Dekenat Moni – Puncak, Pastor Yanuarius Yance Wadogouby Yogi, Pr., yang secara tegas menegur oknum kru pesawat atau oknum – oknum di Bandara Sugapa.

Patut diduga, oknum tertentu atau agen tiket dengan sengaja melakukan praktik tidak transparan berupa, pungli serta manipulasi harga tiket pesawat di Bandara Perintis Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

Insiden ini muncul setelah video yang beredar di beberapa grup Whatsapp, yang menunjukkan Pastor Yogi menyuarakan kekesalan terhadap praktik yang merugikan masyarakat setempat.

Diketahui bahwa tarif resmi tiket pesawat dari Intan Jaya ke tujuan Nabire atau Mimika (Timika) adalah sebesar Rp1.000.000,- per orang. Namun, beberapa oknum tertentu ditemukan menaikkan harga tiket di atas tarif resmi yang telah ditetapkan maskapai.

“Semua Pesawat, para oknum pungli atau agen tahu harga semua maskapai pesawat 1 juta rupiah dari Intan Jaya ke Nabire dan Mimika. Para oknum pungli, jangan buat gerakan tambahan dan sebenarnya datang bertugas atau untuk apa?” ujar Pastor Yance Yogi, Pr. dalam video yang beredar.

Pastor yang sering menyuarakan isu pelayanan publik di wilayah Intan Jaya ini mengaku sangat kecewa dengan tindakan oknum petugas terkait. Ia juga mempertanyakan tugas dan peran para oknum di Bandara Sugapa, serta menekankan agar mereka menghargai semua elemen masyarakat di Intan Jaya.

Bandara Sugapa yang masih dikelola oleh misi Gereja Katolik kerap menjadi sorotan karena keluhan terkait harga tiket tinggi dan distribusi tidak adil.

Sebelumnya, Pastor Yance juga pernah meminta normalisasi harga tiket dan evaluasi terhadap kepemimpinan daerah untuk mencegah situasi memanas di kawasan yang sudah sering menghadapi konflik.

Praktik manipulasi harga oleh oknum terkait dipercaya semakin memperburuk akses transportasi udara bagi masyarakat di daerah terpencil.

Pastor Yance menegaskan agar pihak maskapai dan pengelola bandara segera bertanggung jawab serta melakukan perbaikan.

Ia bahkan mengingatkan akan ada langkah pembatasan operasi jika tidak ada perubahan yang nyata, mengikuti sikapnya pada kasus serupa di Bandara Bilai sebelumnya. Masyarakat Intan Jaya berharap insiden ini dapat menjadi perhatian pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas layanan penerbangan yang adil, transparan, dan aman bagi semua lapisan masyarakat. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version