Lintas Papua Tengah

Pekabaran Injil di Tanah Papua :  Pintu Gerbang Perubahan Peradaban

20
default

Nabire, Kalawaibumiofi. com | Setiap tahun, warga di Tanah Papua merayakan tanggal 5 Februari dengan sukacita. Tepat 171 tahun lalu, Injil pertama kali menyentuh tanah Papua, membuka babak baru peradaban di Bumi Cenderawasih.

Momen Bersejarah di Pulau Mansinam

Hari Pekabaran Injil mengenang peristiwa besar pada 5 Februari 1855, saat dua penginjil Jerman pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, Teluk Doreri, Manokwari. Johann Gottlob Geissler dan Carl Wilhelm Ottow, yang diutus lembaga misi Berlin, menempuh perjalanan berbahaya melintasi samudera untuk membawa pesan damai ke wilayah terisolasi timur Nusantara.

Sesampainya di pantai berpasir putih, keduanya berlutut dan menaikkan doa syukur yang ikonik : “Sebab itu, atas nama Tuhan, kami menginjakkan kaki di tanah ini.”

Tantangan Awal dan Pendekatan Tulus

Pada masa awal, Ottow dan Geissler menghadapi alam ekstrim, malaria, serta hambatan bahasa. Namun, dengan sikap tulus dan kemauan mempelajari budaya suku Arfak, mereka berhasil meluluhkan hati masyarakat lokal.

Warisan “Peradaban Baru”

Selain pengajaran Alkitab, mereka memperkenalkan pendidikan, keterampilan pertukangan, pertanian modern, dan pelayanan kesehatan. Nilai kasih yang dibawa perlahan mengubah tatanan sosial, mengurangi perang antar suku, dan membuka era pendidikan modern di Papua.

Hari ini, Pulau Mansinam menyimpan gereja tua dan patung Yesus Kristus raksasa sebagai saksi bisu sejarah. Perayaan 5 Februari bukan hanya ritual keagamaan, tapi penghormatan atas perjuangan perdamaian dan kemanusiaan.

*Titus Ruban, Nabire, 5 Februari 2026.

 

error: Content is protected !!
Exit mobile version