Pendidikan

Pembiayaan prokes di sekolah diambil dari dana bos

56
Seorang siswa SMP N 5 Nabire sedang mencuci tangan di depan kelasnya – Bumiofinavandu. 

Nabire, Bumiofinavandu.id – Proses belajar mengajar (KBM) tata muka di sekolah-sekolah di Nabire telah berjalan sejak 7 Januari silam. tatap muka diizinkan oleh dinas pendidikan dengan syarat agar protokol kesehatan (Prokes) dan fasilitas penunjang harus diutamakan dan disiapkan. 

Kepala sekolah SMA N 2 Nabire, Ronald Manibuy, melalui mengatakan untuk memenuhi kebutuhan proses pembelajaran tatap muka di masa pandemi. Pihaknya telah melengkapi kebutuhan dalam memenuhi protokoller kesehatan (prokes). 
“missal, menyiapkan tempat cuci tangan di depan masing-masinnh kelas, sabur, tisu atau lap tangan, alat pengukur sudu badan,” semua kebutuhan kami siapkan sebelum awal tatap muka kemarin,” ujar Manibuy via selulernya di Nabire. Senin (25/1/2021). 
Menurutnya, sekolah sudah memiliki profil tangki sebanyak dua buah dan sumur. Namun untuk memenuhi kebutukan maka telah menambahkan dua ptofil lagi. Sebab jumlah kelas sebanyak 18, termasuk kantor, MCK serta ruangan laboratorimun. Semuanya telah disediahkan tempat cuci tangan dan sabun didepan kelasnya. 
Biaya diambil dari dana bos sesuai petunjuk dari pusat. 
“Jadi kami tambah, temasuk pipa-pipa dan kebutuhan penunjang lainnya. semua biaya untuk prokes diambil dari dana bos. Ya, kurang lebih 25 jutaan ada,” tuturnya. 
Kemudian lanjut Manibuy, setiap pagi bila siswa belum sampai di sekolah, terlebih dulu guru hadir untuk menyiapkan kebutuhan dengan mengeluarkan sabun di temoat cuci tangan. Kemudian, siswa datang dan sebelum masuyk ke kelas haurs mencuci tangan dan diukur suhu tubuhnya. 
“Jadi, pagi guru duluan ke sekolah sebelum siswa datang. Apakah siswa menggukanan masker, lalu ukur suhu badan dan mencuci tangan barulah masuk ke kelas,” lanjut Manibuy. 
Kelepa SMS N 5 Nabire, NastitiKristyani menambahkan bahwa sekolah yang dipimpinnya telah dipasang hapir 25 buah tempat cuci tangan. Sebab sedikitnya ada 19 kelas ditambah ruang guru, perustakaan dan ruangan lab. 
Kesemuanya telah difasilitasi dengan kelengkapan prokes. Mulai dari tempat cuci tangan, sabun dan sebagainya. 
“Jadi menang sudah ada sumur, kami tambah profil tangki. Jadi habis sekitar 20-an juta. Sedangkan belanja sabun dan tisu setiap dua bulan sekali, hampir Rp5 juta,’ tambah Kristyani. 
Kepala dinas pendidikan Yulianus Pasang mengatakan penyediaan fasilitas kesehatan dibsa ditanggulangi dengan menggunakan dana bos. Sehingga, ia berharap agar sekolah dapat mengatur dengan baik agar kebutuhan kelengkapan protokol kesehatan dapat dipenuhi. 
“Intinya dana bos bisa digunakan sesuai arahan dari pusat. Saya harap diatur baik agar prokes tetap terlaksana disaat tatap muka di sekolah,” harap Kadis Pasang.(Red)

error: Content is protected !!
Exit mobile version