Salam Sejahtera bagi Bapak dan Ibu sekalian, Salve…..
Lima puluh hari setelah Paskah adalah Pentakosta, peringatan turunnya Roh Kudus atas para rasul. Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang merupakan satu Hakekat dengan Allah itu sendiri yaitu Allah Tri Tunggal. Ketiganya merupakan bentuk kehadiran Allah yang relasional dan mengantar pada tujuan penyelamatan umat manusia di dunia.
Turunnya Roh Kudus atas para rasul diperingati karena merupakan salah satu wujud penegasan bahwa Gereja menjadi tempat kehadiran Allah dengan pengantaraan para pelayan Gereja dicurahkan Roh Kudus kepada orang-orang beriman, baik melalui Imamat atau Pelayan Sabda dan umat Allah yang senantiasa dikuduskan olehNya. Kis. 2:1-3: “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” Menurut kesaksian seperti tertulis dalam Kitab Suci, pada zaman dahulu, kehadiran Roh Kudus dinyatakan dalam suatu peristiwa dengan tanda-tanda yang ajaib.
Namun, melalui Magisterium yaitu ajaran bapa-bapa Gereja, bahwa sejak kita menerima baptisan pun, Roh Kudus sudah dicurahkan kepada umat beriman. Melalui kesaksian Injil pula, bahwa orang menerima tanda-tanda Roh Kudus meskipun tidak disertai tanda-tanda awal dengan lidah-lidah api.
Artinya, Roh Kudus itu merupakan kehadiran Allah yang menyatu dengan ajaran iman yang kita amini dan kita laksanakan dalam kehidupan nyata. Dalam hal ini, saya mengajak merefleksikan bahwa Roh Kudus memberi Daya Ilahi kepada Gereja-Nya (umat beriman) dengan karunia-karunia untuk pelayanan.
Daya Ilahi ini memampukan orang untuk berkarya dalam pelayanan menjadi lebih baik. Karunia kebijaksanaan, karunia mendoakan, karunia memuji Tuhan, hingga merangkai bunga di halaman altar gereja pun bisa dikatakan merupakan karunia dari Tuhan. Selain itu, kehadiran Roh Kudus adalah menyatukan kita dari keberagaman.
Meski kita berbeda suku dan bahasa namun disatukan dalam kasih Kristus. Kita juga bersatu sebagai manusia karena ajaran kasih dari Tuhan sehingga menjadi saudara satu dengan yang lainnya. Dan yang lebih penting lagi bahwa kehadiran Roh Kudus menjadikan kita sebagai manusia baru yaitu manusia Rohani yang menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan supaya kita hidup sebagai anak-anak Allah.[*]
*Pastor Paroki KSK Nabire, Yohanes Agus Setiyono, SJ.
Dapatkan update berita Kalawaibumiofi.com dengan bergabung di saluran Portal kalawaibumiofi.com Nabire di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb5HSBnLSmbczLEXuF0X. Caranya muda, Anda bisa mendapatkan melalui Aplikasi WhatsApp, atau dapatkan juga di medsos (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok) dengan nama akun Warta Bumiofi.










