Jayapura, Kalawaibumiofi.com | Di tengah masih tingginya angka anak putus sekolah akibat persoalan ekonomi di sejumlah daerah, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Daerah Pemilihan Provinsi Papua, Lalita, S.H., M.H mengambil langkah nyata dengan membiayai 10 siswa berpestasi.
Pembiayaan itu tanpa menggunakan anggaran negara maupun bantuan pihak lain. Senator Lalita mengeluarkan dana pribadinya untuk membiayai pendidikan 10 anak Papua berprestasi, agar tetap dapat melanjutkan sekolah.
Program beasiswa yang telah memasuki tahun kedua itu lahir dari kepedulian Lalita melihat banyak anak Papua memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi terancam menghentikan pendidikan karena keterbatasan biaya.
Bagi Lalita, pendidikan merupakan investasi paling berharga bagi masa depan Papua. Karena itu, ia memutuskan menjadi orang tua asuh bagi sejumlah siswa yang dinilai memiliki prestasi dan semangat belajar tinggi.
“Saya mempertemukan orang tua dan anak-anak binaan yang saya berikan beasiswa sejak tahun lalu. Ini murni menggunakan uang pribadi saya, tanpa uang siapa pun, karena saya ingin membantu mereka,” kata Lalita melalui pesan tertulisnya, Rabu (22/07/2026).
Ia mengaku tidak ingin melihat anak-anak Papua kehilangan masa depan hanya karena persoalan ekonomi. Menurutnya, membantu mereka tetap bersekolah jauh lebih berarti daripada membiarkan mereka putus sekolah dan kehilangan arah.
“Daripada anak-anak putus sekolah dan akhirnya melakukan hal-hal yang negatif, lebih baik saya membantu semampu saya. Mungkin bantuan saya tidak besar, tetapi saya berharap bisa memberi manfaat bagi masa depan mereka,” ujarnya.
Program tersebut bermula ketika Lalita melakukan kunjungan ke SMAN 2 Jayapura dan SMA Gabungan Jayapura, sekolah yang juga merupakan almamaternya.
Saat itu ia bertemu seorang siswa berprestasi bernama Alfa, yang hampir tidak dapat melanjutkan pendidikan karena kondisi ekonomi keluarganya.
Kisah Alfa menjadi titik balik yang menggugah hati Lalita. Ia kemudian memanggil kepala sekolah bersama orang tua siswa dan menyatakan kesiapannya menjadi orang tua asuh dengan memberikan beasiswa yang awalnya hanya tiga siswa.
Dari situlah program tersebut terus berkembang hingga kini telah menjangkau sekitar 10 anak.
“Puji Tuhan, sekarang sudah memasuki tahun kedua dan sudah ada sekitar sepuluh anak yang menerima beasiswa pendidikan. Saya akan terus berjuang, jika Tuhan mengizinkan, agar lebih banyak lagi anak-anak Papua yang berprestasi mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan terbaik,” tuturnya.
Menurut Lalita, keberhasilan para siswa merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan nilai materi.
“Bantuan saya mungkin tidak seberapa, tetapi saya melihat keberhasilan mereka luar biasa. Mereka cerdas, berprestasi, dan itu tidak bisa diukur dengan uang,” katanya.
Ia menegaskan bahwa anak-anak Papua memiliki kemampuan yang sama untuk bersaing dengan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia apabila diberikan kesempatan yang setara.
“Saya tidak mau ada anak Papua putus sekolah hanya karena tidak ada biaya. Sesungguhnya anak-anak Papua adalah anak-anak yang cerdas dan mampu bersaing dengan anak-anak dari luar Papua. Yang mereka butuhkan hanyalah kesempatan,” tegasnya.
Kisah perubahan itu juga dirasakan langsung oleh Alfa, salah satu siswa SMAN 2 Jayapura yang menjadi penerima beasiswa sekaligus sosok yang menginspirasi lahirnya program tersebut.
Alfa mengaku bantuan dari Senator Lalita telah mengubah jalan hidupnya. Ia mengatakan beasiswa tersebut membuatnya tetap bisa melanjutkan pendidikan dan terus mengejar prestasi.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Ibu Lalita. Tanpa bantuan beliau, mungkin saya tidak bisa melanjutkan sekolah seperti sekarang. Beliau memberi saya kesempatan untuk terus belajar dan berprestasi,” ujar Alfa.
Ungkapan serupa disampaikan orang tua para penerima beasiswa. Mereka menilai kepedulian Lalita telah memberikan harapan baru bagi keluarga yang selama ini kesulitan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Salah seorang perwakilan orang tua bahkan menyampaikan penghormatan khusus kepada Senator Lalita menggunakan istilah dalam budaya Biak.
“Kami dari suku Biak menganggap Ibu Lalita sebagai Bin Syowi, yaitu sosok perempuan yang sangat kami hormati dan banggakan. Dengan naluri seorang ibu, beliau mampu melihat anak-anak Papua yang membutuhkan, lalu membiayai pendidikan mereka tanpa membedakan latar belakang. Kami tidak bisa membalas kebaikan beliau selain mendoakan agar Tuhan terus memberkati setiap langkah pengabdiannya,” katanya.
Bagi Lalita, membangun Papua tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan memastikan generasi mudanya memperoleh akses pendidikan yang layak.
Ia berharap semakin banyak anak Papua berprestasi yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan kelak menjadi pemimpin yang membangun tanah kelahirannya.
“Saya percaya masa depan Papua ada di tangan anak-anak ini. Selama saya masih diberi kemampuan, saya akan terus berusaha membantu mereka. Tidak boleh ada mimpi anak Papua yang berhenti hanya karena persoalan biaya,” pungkasnya. (Davine)
