Pendidikan

SMA Meepago dan KPG Diambil Alih Provinsi, Yermias Degei : Jadi Sekolah Unggulan dan Pencetak Tenaga Pendidik

4
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Yermias Degei, di ruang kerjanya. Minggu (21/6/2026), –  Kalawaibumiofi.

“Langkah ini perlu didukung dengan harapan bahwa  kedua sekolah ini benar-benar menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi unggul bagi pembangunan daerah di wilayah Provinsi Papua Tengah”.

Nabire, Kalawaibumiofi.com |   Pemerintah Provinsi Papua Tengah berencana mengambil alih pengelolaan SMA Meepago dan Sekolah Guru (KPG) di Kabupaten Nabire. Langkah ini diapresiasi oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, mengingat kedua lembaga pendidikan tersebut dirancang sejak awal sebagai sekolah unggulan dan pusat pencetak tenaga pendidik untuk wilayah adat serta daerah tertinggal.

Yermias Degei, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, mengungkapkan bahwa kedua sekolah tersebut didirikan berdasarkan Undang-Undang Otonomi Khusus, dengan konsep serupa SMA Buper di Jayapura. Awalnya sekolah ini direncanakan berdiri di tujuh wilayah adat, namun pembangunan fisiknya selesai bertahun-tahun tanpa aktivitas pembelajaran dan penerimaan siswa yang berjalan.

“Gedungnya sudah berdiri lama, tapi tertutup semak belukar dan jalan akses pun belum ada. Kemudian atas inisiatif seorang guru yakni Pak Otto Tebai, gedung ini dibersihkan, guru-guru didatangkan, dan proses belajar mengajar dimulai secara swadaya selama sekitar dua tahun,” ungkap Yermias di ruang kerjanya. Selasa (23/6/2026).

Ia mengatakan, perhatian akhirnya mengalir dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah, dengan pembangunan asrama dan perbaikan fasilitas terus dilakukan, hingga akhirnya aktivitas sekolah dapat berjalan lebih teratur.

“Tujuan awal pendiriannya memang untuk menampung siswa berprestasi dari seluruh kabupaten di wilayah Meepago, diselenggarakan dengan sistem asrama agar lebih fokus belajar. Dengan diambil alih provinsi, visi ini baru bisa diwujudkan secara maksimal,” kata Yermias.

Menurutnya, pengambilalihan ini tidak hanya mencakup urusan pendanaan, tetapi juga perbaikan menyeluruh. Mulai dari fasilitas gedung, asrama, konsumsi siswa, ketersediaan tenaga pengajar, bahan ajar, laboratorium, hingga penerapan kurikulum yang berkualitas.

“Kalau dikelola kabupaten saja, perbaikan akan berjalan lambat karena beban pengelolaan ratusan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah sudah sangat besar. Dengan peran provinsi, mutu pendidikan di sana pasti akan meningkat pesat,” tuturnya.

Sementara itu, Sekolah Guru atau KPG yang merupakan cabang dari Universitas Cenderawasih juga akan mendapat perhatian serius. Lembaga ini diproyeksikan menjawab kekurangan tenaga pendidik yang masih tinggi, terutama di daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan).

Yermias menjelaskan, ke depannya akan diterapkan pola pengiriman siswa terarah. Setiap kampung akan mengirimkan satu hingga dua orang anak setiap tahunnya, dengan sistem ikatan dinas. Melalui perjanjian bersama antara siswa, orang tua, tokoh adat, tokoh agama, serta pemerintah kampung, kabupaten, dan provinsi, lulusan diwajibkan kembali mengabdi di daerah asalnya.

“Dengan cara ini, dalam waktu lima tahun saja setiap kampung sudah bisa memiliki lima guru baru. Ini solusi jangka panjang agar kebutuhan tenaga pengajar di daerah terpencil terpenuhi secara berkelanjutan,” jelasnya.

Mantan Plt. Kadis Kominfo Nabire ini juga menyampaikan pesan kepada orang tua dan siswa. bahwa di era perkembangan teknologi dan media sosial, anak yang bersekolah di sistem asrama harus mampu disiplin, kembali fokus pada buku, dan mematuhi aturan sekolah asrama.

“Zaman sudah berubah, tapi kunci kesuksesan tetap disiplin dan belajar sungguh-sungguh. Hanya anak yang mau berusaha dan mengikuti aturan yang bisa bersaing dan meraih masa depan lebih baik,” pesan Yermias. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version