Nabire, Kalawaibumiofi.com | Tokoh intelektual asal Kabupaten Mimika – Papua Tengah, Yohanes Kemong, menyampaikan himbauan penting terkait rencana aksi unjuk rasa atau penolakan terhadap PT. Freeport Indonesia yang direncanakan besok (7/4) di Nabire. Ia menegaskan agar masyarakat lebih memilih jalan dialog daripada melakukan demonstrasi yang berpotensi memicu kericuhan.
Dalam pesannya kepada Kalawaibumiofi.com Senin (6/4/2026) malam, Kemong mengakui bahwa hak menyampaikan aspirasi adalah hal yang wajar dan dijamin oleh undang-undang. Namun, cara penyampaiannya perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Menyampaikan aspirasi itu dibuka umum dan dijamin undang-undang. Namun, mengingat ada hal-hal yang tidak kita inginkan, lebih elegan adalah kita menyampaikan melalui cara duduk bersama, berdiskusi, dan berdialog dengan wakil rakyat maupun pihak terkait,” ujarnya.
Demo bagi dia, tidak menghasilkan Solusi. Ia menyoroti bahwa penolakan terhadap keberadaan PT. Freeport Indonesia sebenarnya sudah dilakukan berkali-kali. Namun, aksi tersebut dinilai tidak membuahkan hasil yang nyata dan justru seringkali menimbulkan masalah baru.
“Penolakan terhadap PT. Freeport ini sudah banyak kali dilakukan. Tapi itu menjadi salah satu aset pemerintah yang ada di wilayah Mimika, di Timika ini. Agak sulit untuk kita lakukan aksi penolakan yang tidak dapat pada buah hasilnya,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar jika memang ada aspirasi atau keluhan, sebaiknya dibahas secara musyawarah untuk mencari solusi yang terbaik Bersama – sama.
“Daripada kita lakukan penolakan melalui aksi demo yang akhirnya bisa menimbulkan peristiwa atau masalah yang kurang berkenan, lebih baik kita duduk bersama mencari solusi yang baik,” tambahnya.
Kemong, juga ikut menyampaikan pesan Kamtibmas, di Provinsi Papua Tengah yang dicintai bersama.
“Demi keamanan dan ketertiban di Papua Tengah yang kita cintai, mari kita berdiskusi dengan baik, duduk bersama, dibanding harus menyampaikan orasi yang bisa memicu kericuhan,” ungkapnya.
Dengan nada penuh persaudaraan, ia mengakhiri pesannya dengan sapaan khas. “Selaku anak Mimika, saya sampaikan salam Mimika.” tuturnya.
Terpisah, seorang warga yang enggan menyebut Namanya mengatakan, selama ini demo tuntutan penutupan PT. Freeport di Papua tidak pernah membuahkan hasil. Yang terjadi justru bukan penutupan, melainkan pemekaran wilayah, mulai dari provinsi hingga tingkat kampung.
Oleh karena itu, ia menyarankan lebih baik membicarakan masalah kemanusiaan, khususnya persoalan Di Dogiyai yang menewaskan beberapa orang. Apalagi korban yang jatuh adalah rakyat sipil, baik masyarakat pribumi.
“Mari kita cari benang merah penyelesaian agar kita tidak terlena dan terjebak dalam rencana besar yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Stop! Jangan jadikan rakyat sebagai alat atau ‘ojek’ untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu,” pungkasnya. [*]

















