Nabire, Kalawaibumiofi.com | Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) melalui siaran pers keduanya yang diterima Senin (3/8/2026) menyatakan bertanggung jawab atas kejadian penembakan yang menewaskan lima orang di Distrik Kanggime, Kabupaten Tolikara. TPNPB menyebut, kelima korban adalah agen intelijen militer yang menyamar sebagai tukang bangunan.
Pernyataan yang ditandatangani Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom itu merujuk pada laporan dari Mayor Terinus Enumbi bersama Mayor Botak Wanimbo dan jajaran Kodap XXVIII Yambi, Batalyon Yamo. Kejadian disebut berlangsung saat pelaksanaan operasi pembersihan yang dilakukan pada rentang 2–3 Agustus 2026.
Dalam pernyataannya, TPNPB menegaskan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa operasi militer mereka akan terus berlangsung dalam sepuluh tahun ke depan. Pihaknya meminta seluruh aparat intelijen serta pendatang yang bekerja sebagai tukang ojek, tukang bangunan, tenaga kesehatan, guru, maupun Pegawai Negeri Sipil segera menghentikan aktivitas dan meninggalkan wilayah operasi mereka di Tolikara.
“Perjuangan merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua akan terus berlanjut. Seluruh pasukan di bawah pimpinan Panglima Tertinggi Goliath Tabuni dan Komandan Operasi Umum Mayor Jenderal Lekagak Telenggen tetap bersiaga penuh di medan tugas,” bunyi pernyataan tersebut.
TPNPB juga mengimbau seluruh pihak yang dinilai sebagai agen intelijen yang beroperasi di wilayah konflik di Tanah Papua untuk segera kembali ke daerah asal demi keselamatan bersama. Hal itu dikemukakan dengan merujuk pada prinsip hukum humaniter internasional.
Siaran pers ini juga mencantumkan susunan pimpinan Komando Pusat TPNPB-OPM, Jenderal Goliath Tabuni selaku Panglima Tertinggi, Letnan Jenderal Melkisedek Awom sebagai Wakil Panglima, Mayor Jenderal Terianus Satto sebagai Kepala Staf Umum, dan Mayor Jenderal Lekagak Telenggen sebagai Komandan Operasi Umum. [*]
Apakah penyajiannya sudah lengkap dan objektif sesuai standar jurnalistik?
