Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Wakapolda Papua Tengah Ajak Gereja dan Orang Tua Cegah Perkelahian Antarpelajar

0
×

Wakapolda Papua Tengah Ajak Gereja dan Orang Tua Cegah Perkelahian Antarpelajar

Sebarkan artikel ini

Nabire, Kalawaibumiofi | Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua Tengah, Kombes Pol. Dr. Gustav R. Urbinas, mengajak gereja, orang tua, guru, dan masyarakat terlibat dalam mencegah perkelahian antarpelajar dan pemuda di Papua Tengah.

Ajakan tersebut disampaikan Gustav dalam kegiatan Minggu Kasih di Gereja GKI Yesus Rubasai, Kampung Kimi, Kabupaten Nabire, Minggu (1/11/2026). Ia mengingatkan bahwa kekerasan antarpelajar tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga dapat merusak masa depan generasi muda.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Ketua Bhayangkari Daerah Papua Tengah, Ny. Yuhanna Gustav Urbinas. Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah bersama jemaat yang dipimpin Pdt. Ketrina Sawen. Ibadah mengangkat pembacaan Alkitab Roma 10:4-15 tentang “Kebenaran karena Iman”.

Usai ibadah, Gustav menyampaikan pesan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Ia meminta jemaat mengambil bagian dalam membangun lingkungan yang aman dan damai, terutama dengan melindungi anak-anak dan remaja dari tindakan kekerasan.

Menurut Gustav, perkelahian antarpelajar bukanlah bentuk keberanian. Tindakan tersebut justru dapat merugikan diri sendiri, keluarga, dan sekolah, bahkan berujung pada persoalan hukum.

“Anak-anak kita adalah generasi penerus dan masa depan Papua Tengah. Jangan sampai masa depan mereka hancur hanya karena emosi sesaat, kesalahpahaman, ataupun ajakan teman yang mengarah pada tindakan kekerasan,” kata Gustav.

Ia menilai pencegahan perkelahian antarpelajar membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Orang tua memiliki peran dalam mengawasi anak di lingkungan keluarga, sementara sekolah dan gereja dapat memperkuat pendidikan karakter serta pembinaan moral bagi generasi muda.

Gustav mengajak jemaat menanamkan nilai kasih, kedisiplinan, dan sikap saling menghormati kepada anak-anak. Ia juga meminta setiap persoalan diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah, bukan dengan kekerasan.

“Saya mengajak seluruh jemaat untuk menanamkan nilai-nilai kasih Kristus, kedisiplinan, saling menghormati, serta membiasakan penyelesaian setiap persoalan melalui komunikasi dan musyawarah,” tuturnya.

Kepada para pemuda dan pemudi, Gustav berpesan agar menghormati orang tua dan guru, rajin belajar, serta menjaga persaudaraan. Ia juga mengingatkan mereka agar tidak mudah terprovokasi oleh ajakan yang mengarah pada perkelahian, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

“Jadilah generasi yang membawa damai, bukan menciptakan pertikaian,” pesannya.

Gustav menjelaskan, Minggu Kasih merupakan salah satu kegiatan Polri untuk membangun kedekatan dengan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, kepolisian berupaya mendengarkan aspirasi warga, mempererat hubungan dengan tokoh agama, serta membangun komunikasi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan kamtibmas.

Ia kembali mengajak tokoh agama, orang tua, guru, dan masyarakat menjadikan keluarga serta gereja sebagai ruang pembinaan generasi muda.

“Kami mengajak para tokoh agama, orang tua, guru, pemuda-pemudi, dan seluruh jemaat untuk bersama-sama membimbing serta melindungi generasi muda dari tindakan kekerasan. Mari jadikan gereja dan keluarga sebagai tempat menanamkan nilai-nilai kasih Kristus, perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati,” ungkapnya.

Gustav berharap keterlibatan Polri, gereja, keluarga, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan perkelahian antarpelajar secara berkelanjutan.

“Mari kita wujudkan Papua Tengah yang aman, damai, dan penuh kasih demi masa depan generasi muda yang lebih baik,” pungkasnya. [*]

error: Content is protected !!