Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Tanah Papua

Yohana Yembise dan Laura Arnold Pemateri Seminar Internasional Bahasa Papua di USWIM Nabire

5
×

Yohana Yembise dan Laura Arnold Pemateri Seminar Internasional Bahasa Papua di USWIM Nabire

Sebarkan artikel ini
Prof. Yohana Yembise dan Dr. Laura Arnold saat menjadi pemateri dalam seminar di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire-Kalawai/Noak Mote
Example 468x60

Nabire, Kalawaibumiofi.com | Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire menggelar seminar internasional bertema pelestarian dan pengembangan bahasa daerah Papua di tengah arus globalisasi.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula FKIP USWIM, Kelurahan Kalibobo, Kabupaten Nabire, Rabu (13/05/2026).

Seminar menghadirkan dua pemateri utama, yakni Prof. Dr. Yohana Yembise dari Universitas Cenderawasih dan Dr. Laura Arnold dari Australian National University (ANU), Australia.

Example 300x600

Kegiatan ini diikuti mahasiswa, dosen, serta peserta dari berbagai kalangan akademisi.

Dalam wawancara usai seminar, Prof. Yohana Yembise mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga bahasa daerah sebagai identitas budaya masyarakat Papua.

Menurutnya, Papua merupakan wilayah dengan kekayaan bahasa terbanyak di dunia. Ia menyebut terdapat sekitar 770 bahasa di Tanah Papua secara keseluruhan, sementara di wilayah Papua Indonesia terdapat sekitar 260 bahasa daerah.

“Papua itu unik karena memiliki jumlah bahasa yang sangat banyak. Ini menjadi perhatian para ahli linguistik dari berbagai negara untuk datang melakukan penelitian,” ujar Prof. Yohana.

Ia menjelaskan bahwa seminar internasional tersebut juga menjadi bagian dari kerja sama akademik antara Universitas Cenderawasih, Australian National University, dan USWIM Nabire dalam bidang linguistik dan penelitian bahasa daerah.

Prof. Yohana mengatakan Dr. Laura Arnold telah lama melakukan penelitian terhadap berbagai bahasa di Papua, termasuk bahasa-bahasa suku di wilayah pedalaman maupun pesisir.

“Bahasa daerah saat ini mulai ditinggalkan generasi muda. Anak-anak sekarang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa ibu mereka sendiri. Karena itu pelestarian bahasa harus dimulai dari keluarga,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya dokumentasi bahasa daerah melalui rekaman, wawancara dengan para tetua adat, serta pengumpulan cerita rakyat sebagai bahan penelitian dan arsip budaya bagi generasi mendatang.

Menurutnya, hasil penelitian tersebut dapat menjadi referensi penting untuk menjaga struktur dan identitas bahasa daerah agar tidak hilang di masa depan.

Sementara itu, Dr. Laura Arnold menyampaikan bahwa Papua merupakan salah satu wilayah dengan keragaman bahasa terbesar di dunia.

Namun, ia mengingatkan bahwa banyak bahasa daerah kini berada dalam ancaman kepunahan akibat menurunnya jumlah penutur.

“Saat ini semakin sedikit orang yang menggunakan bahasa daerah. Menurut perkiraan saya, sekitar 40 persen bahasa-bahasa ini bisa tidak digunakan lagi dalam 50 tahun ke depan jika tidak ada upaya pelestarian,” ujar Laura Arnold.

Ia menambahkan, kondisi tersebut lebih terlihat di wilayah pesisir dibandingkan daerah pegunungan yang masih mempertahankan penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Laura juga mengajak generasi muda Papua untuk bangga menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya mereka.

“Saya ingin mengajak generasi muda untuk bangga memakai bahasa daerah. Menggunakan bahasa daerah itu keren dan harus terus dijaga,” katanya.

Melalui seminar internasional ini, para pemateri berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian bahasa daerah semakin meningkat sehingga kekayaan budaya Papua tetap terjaga di tengah perkembangan globalisasi. (Noak Mote)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!