Nabire, Kalawaibumiofi.com | Wakil Bupati Nabire, Burhanuddin Pawenari, menghadiri upacara penyalaan obor dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kapitan Pattimura yang ke-209. Kegiatan yang digelar Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Kabupaten Nabire ini berlangsung di kawasan Tugu Pattimura, Jalan RE Martadinata, Kelurahan Oyehe, pada Jumat (15/5/2026).
Acara ini dihadiri oleh warga masyarakat asal Maluku yang bermukim di Nabire, serta dihadiri pula sejumlah tokoh masyarakat dan unsur pimpinan pemerintahan daerah setempat.
Mewakili Bupati Nabire, Burhanuddin Pawennari dalam keterangannya usai kegiatan menyampaikan apresiasi dan penghormatan tinggi kepada warga masyarakat Maluku di Nabire yang senantiasa menjaga dan meneruskan semangat perjuangan sang pahlawan nasional.
“Penyalaan obor Pattimura merupakan simbol perjuangan, kepahlawanan, keberanian, dan nilai nasionalisme dari Pahlawan kita, Kapitan Pattimura. Nilai-nilai luhur ini kami harapkan dapat terus diwariskan kepada seluruh generasi di Kabupaten Nabire,” ujar Burhanuddin.
Ia menilai, keberadaan masyarakat Maluku di Nabire dikenal memiliki ikatan persatuan yang kuat, mampu hidup rukun, dan berbaur harmonis di tengah keberagaman suku serta agama. Semangat perjuangan Pattimura, menurutnya, harus menjadi energi baru bagi seluruh warga Nabire untuk bergotong royong membangun daerah menjadi lebih maju dan sejahtera.
“Kami berharap semangat juang Pattimura dapat melahirkan semangat baru bagi masyarakat di Kabupaten Nabire, untuk bersama-sama membangun daerah ini menjadi lebih maju dan sejahtera,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua IKEMAL Nabire, Edward Berhitu, menjelaskan bahwa tradisi penyalaan obor ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Kapitan Pattimura melawan penjajahan Belanda pada 15 Mei 1817 silam.
Sejarah mencatat, tradisi ini bermula dari penyalaan api di Gunung Saniri, Pulau Saparua, Maluku, yang kemudian dibawa berkeliling guna mengumpulkan rakyat untuk bersatu berjuang melawan penjajah. Menurut Edward, obor tersebut memiliki makna historis yang mendalam bagi orang Maluku dimanapun mereka berada.
“Obor perjuangan ini memiliki makna historis bagi masyarakat Maluku. Ini adalah simbol perjuangan dan persatuan masyarakat Maluku dalam melawan penjajah Belanda,” jelas Edward.
Ia juga menyinggung filosofi “Maluku Satu Darah” yang menjadi ikon persaudaraan warga Maluku. Filosofi itu menjadi pegangan agar tali persaudaraan senantiasa terjaga, sekaligus memperkuat komitmen untuk hidup berdampingan secara damai dan saling mendukung bersama seluruh masyarakat Kabupaten Nabire.
Lebih lanjut, Edward berharap peringatan Hari Pattimura ini menjadi sarana pendidikan sejarah bagi generasi muda, agar mereka memahami akar budaya, nilai perjuangan, cinta tanah air, serta mampu menjaga harga diri dan identitas sebagai orang Maluku.
“Kami ingin generasi muda mengetahui karakter perjuangan orang Maluku yang cinta tanah air dan tidak mudah menyerah dalam segala hal,” pungkas Edward. [*]
