Cerpen

Batas Nilai dan Harga

28

Tiga puluh tahun pria kurus hilang dari kampung ke kota dengan tujuan mencari pekerjaan. Seluruh keluarga di kampung sangat terharu ditinggal pergi seorang pria yang selama ini menjaga kehidupan kampung bersama masyarakat dengan sepenuh hati. Masyarakat kampung kehilangan pemuda yang berani.

Banyak sarjana pulang setelah wisuda, tapi mereka hanya berputar di ruang-ruang kota mencari kebahagiaan imajinatif. Hanya pria kurus yang sudah pergi dari kampung selama tiga puluh tahun itulah yang berani menjaga kampung dengan ilmu lingkungan yang ia pelajari selama kuliah di kampus luar Papua. Ia pulang setelah wisuda, menetap di kampung.

“Sa ke kota cari kerja untuk nanti kita bangun kampung dengan gaya modern dan uang,” kata pamit pria kurus pada masyarakat kampung di pintu pagar, batas kampung dan masyarakat.

“Tidak perlu modern dan uang, kampung ini hanya perlu dijaga saja dengan moralitas, Tuhan sudah bangun sebelum manusia diciptakan,” balas masyarakat kampung dengan wajah tak ingin kehilangan pria kurus yang sederhana menjaga kampung.

Sepuluh tahun berlalu di kota, sesuai harapannya, pria kurus itu mendapatkan pekerjaan yang diharapkan setelah melamar di lembaga swasta. Ia hidup dengan gaji yang sangat berkecukupan di kota. Tubuh yang dulu kurus kering karena dingin kampung dan makan seadanya mulai gemuk karena kebanyakan makan berminyak dan duduk lama dalam ruang ber-AC.

Hanya dalam dua tahun bekerja, pria kurus sudah memiliki rumah mewah, mobil, dan motor. Hidup menjadi serba lengkap. Ia memiliki dua anak dari wanita keturunan Tiongkok-Melayu, wanita yang kadang berselingkuh dengan tradisional, namun kembali bersama karena ingin berpindah menjadi agama lokal setelah melepas hijab berwarna dari nalar.

Hampir tiga puluh tahun lebih pria kurus tidak pernah menginjak kampung karena hidup sudah enak di kota. Lupa kampung yang ia dulu jaga dengan idealis lingkungan yang tak terbantahkan bersama masyarakat kampung. Aksi pria kurus seakan-akan melawan teori kakek Immanuel Kant, “Kebahagiaan itu bukan tujuan manusia,” tulisnya dalam buku Groundwork of the Metaphysics of Morals (1785).

Hidup cukup enak di kota, pria kurus itu lupa wajah masyarakat kampung yang dulu selalu bersama menjaga kehidupan natural di kampung. Tak disadari, pria kurus sudah berumur 35 tahun, ia sudah lama memilih hidup dengan nilai modern yang menghasilkan uang, seperti kebanyakan masyarakat kota pada umumnya—setiap hari bicara investasi dan mengejar mimpi kebahagiaan.

Sudah sangat terbiasa dengan kehidupan kota yang mengajarkan hemat dan perhitungan, pria kurus menjadi manusia kota. Berbeda saat ia di kampung, makan dan minum tinggal ambil, tidak perlu menghitung uang dan memilih apa yang harus masuk dalam tubuh saat lapar dan perlu refleksi.

“Ini sa pu istri namanya Modern, ini sa pu anak namanya Uang,” jelas pria kurus yang sudah pergi tiga puluh tahun lalu dari kampung pada masyarakat kampung yang menyambut mereka di depan pintu pagar kampung.

“Ko siapa?” tanya masyarakat kampung dengan wajah bingung melihat pria kurus yang telah hilang tiga puluh tahun yang lalu.

“Sa ini Kebun, kamu tidak kenal sa ka?” balas pria itu dengan wajah sedih campur kaget, penuh pertanyaan dan heran masyarakat kampung sudah lupa.

“Maaf, kami hanya kenal ko pu istri dan anak itu,” balas masyarakat kampung di pintu masuk kampung yang dulu mereka antar ke kota.

Kehidupan uang telah rusak, semua nilai kehidupan runtuh seketika dari kehidupan modern. Pasar tutup di seluruh kota, sebagian orang-orang berlari pergi dari kota masuk kembali ke kampung. Sebagian masyarakat tetap di kota menghadapi runtuhnya kehidupan yang normal. Sepertinya semua menunggu waktu yang telah ambruk itu kembali dengan kondisi apa adanya. Rasanya semua orang telah dirasuki tanpa koneksi internet.

Pria kurus baru saja sampai di kampung dengan harapan bisa kembali menjaga kampung lagi bersama keluarga dan masyarakat. Tetapi pria kurus itu duduk diam di batas kampung dan masyarakat, jiwa terpukul, ia tidak dikenal masyarakat kampung yang dulu bersama menjaga kampung.

Orang-orang tua kampung yang dulu bersama menjaga kampung telah tiada, mereka semua sudah dipanggil mesin waktu, menjadi penghuni negeri firdaus. Pria kurus baru sadar kalau namanya adalah Kebun. Ia duduk berpikir di batas kampung dan masyarakat.

“Apakah sa masih dibutuhkan masyarakat kampung seperti dahulu atau tidak?” pikir pria kurus itu dalam hatinya.

“Sa akan mati kalau ikut. Istriku, pergilah bersama masyarakat kampung. Anakku, kau juga, pergilah dengan mereka. Sa tetap di sini,” kata pria kurus itu pada istri dan anaknya di batas kampung masyarakat. Dengan berat, pria kurus melepaskan hidup bersama mereka. Perlahan, mereka menghilang dalam kabut hitam dan dingin AC yang tak pernah padam.

Mereka bertemu tetapi mereka tidak tahu kalau mereka akan bertemu kapan pun, itu berulang sepanjang hidup manusia. Seperti kehidupan Kebun atau sebutan masyarakat kampung adalah pria kurus.

Mungkin itulah kehidupan imajinatif modern yang tak pasti, penuh transaksi tanpa rasionalitas sebagai manusia. Categorical imperative atau perintah mutlak menurut kakek Immanuel Kant, singkatnya, “Kewajiban adalah keharusan untuk melakukan tindakan karena hormat terhadap hukum moral.”

Apapun kondisi kehidupan yang telah terjadi, Kebun atau pria kurus pernah melakukan sesuatu yang besar bersama masyarakat kampung. Tetapi ia bahagia mereka hidup bersama istri modern dan anak uang. Kebun tak pernah kembali. Ia pulang dan menjadi firdaus, bergabung bersama masyarakat kampung yang dulu. [*]

Cerpen

Pria itu membolak-balik catatan hariannya yang sudah usang….

error: Content is protected !!
Exit mobile version