*Oleh Nomen Douw.
Langit kota mendung di sa mata, dari pagi tidak ada cahaya matahari tembus selimut awan, suasana ini seperti sa punya isi hati semenjak sa bapa sudah mulai tidak menetap di rumah setelah dilantik jadi Kepala Dinas kota. Sa mama sudah jarang kasi kami uang jajan ke sekolah karena bapa sudah tidak peduli dengan kami.
Mama hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu memeluk sa dengan dua ade laki-laki yang masih SD dan SMP dengan penuh cinta, seperti mama Papua lain yang mencintai anak mereka. Sa selalu bersyukur karena mama sudah belajar hidup mandiri sejak remaja, sehingga berkat selalu ada untuk makan dan minum di rumah.
Hari jumat, sa janjian dengan sa pacar Tinus, kami dua sudah pacaran dua bulan tapi rasa macam sudah dua tahun. Di hari yang mendung ini, kami dua rencana jalan-jalan jauh, tidak tau Tinus akan bawa sa ke mana. Sa pake alasan di sekolah untuk pulang lebih cepat. Sa duduk tunggu Tinus di kafe Tucu depan kami punya sekolah. Depan sa mata, pass di samping kami punya sekolah itu ada hotel Bakhan, hotel yang simpan sa pu cerita sakit dan nikmat dengan Tinus.
“Ade Nita, tidak sekolah ka?” tegur kaka Leo datang dari belakang sa.
Kaka Leo, salah satu pengurus di kami punya Gereja, sa kenal kaka dia dari sa masih umur 10 tahun di sekolah minggu. Setelah sa sudah umur 18 tahun, kaka Leo sering chat sa dengan kata-kata sayang, tapi sa tidak perna respon karena sa anggap kaka panutan rohani di Gereja bagi kami ade-ade. Tapi sekarang, sa biasa baca berita tentang kaka Leo, banyak media sebut kaka dia sebagai politisi muda yang cerdas; terpilih menjadi Anggota Dewan dengan suara masyarakat Gereja.
“Ih…kaka Leo, io sa kepala sakit jadi sa izin pulang, kaka” balas sa kaget .
Padahal bukan sakit tapi sa pulang karena mau jalan-jalan jauh dengan Tinus. Sa duduk tunggu Tinus balas chat di kafe.
“Baru bikin apa di sini, pulang istrahat sudah,” balas kaka Leo dengan nada tinggi.
”Kaka juga hanya take away kopi ini, jalan sudah sekalian kaka kas turung di kompleks,” ajak kaka Leo.
“Boleh, kaka,” balas sa setuju sambil berdiri.
Biar nanti Tinus jemput sa di rumah saja, tapi sa lupa chat Tinus kalau sa ada pulang ke rumah, sa hanya bilang, sa ada tunggu di kafe Tucu.
*
Sejak sa masih duduk di bangku SD, setiap orang yang sa ketemu puji sa punya kulit putih yang tidak sama dengan kebanyakan perempuan asli Papua yang berkulit coklat dan hitam, mereka bilang sa punya hidung seperti perempuan bule, rambut keriting seperti perempuan peranakan Afrika-Inggris, padahal sa asli Papua; bapa dari gunung Papua, mama dari pesisir Papua. Semua orang yang sa ketemu dong selalu bilang sa cantik. Setelah sa masuk SMP, banyak laki-laki kejar sa seperti semut baku rampas gula.
Waktu sa pulang sekolah, beberapa motor dan mobil kadang berhenti minta nomor handphone tapi sa tidak pernah kasih. Saat sa tolak, mereka emosi, katanya sa terlalu sombong dengan tubuh yang sempurna, sa bigung; kenapa dengan sa punya tubuh. Suatu saat, karena penasaran dengan kata mereka, sa berdiri depan cermin panjang di kamar tanpa pakaian, sa lihat seluruh tubuh_ternyata sa sendiri kaget dengan buah pepaya yang belum di sentuh tangan laki-laki, nampak tubuh tanpa noda hitam bercahaya, bulu-bulu kecil tumbuh di ketiak dan sekitar pintu goa yang belum pernah di buka kepala burung.
Sejak sa lahir hingga remaja, bapa dan mama tidak perna absen membawa sa ke Gereja, seperti juga mama dan bapa bertumbuh dalam lingkungan masyarakat Gereja. Sa tumbuh dalam lingkungan Gereja dari masa sekolah minggu hingga sekarang SMA kelas tiga. Setelah sa kenal Tinus, ternyata kebaikan dan keburutan itu luas dan banyak maknanya, tidak hanya apa yang sa tahu dari lingkungan Gereja dan keluarga melalui didikan bapa dan mama sejak sa masih anak-anak sampai sekarang.
*
“Sa di hotel Bakhan sebelah, di nomor kamar 69,” chat dari Tinus masuk sa handphone.
Dari malam sa dengan Tinus sudah janji ketemu hari ini. Katanya Tinus ingin bicara sesuatu setelah dia lolos jadi Polisi.
“Oke, sayang, sa otw,” balas sa singkat sambil berdiri pergi.
Hari hampir gelap, lampu-lampu kota sudah menyala kiri kanan, sepanjang jalan kendaraan ramai; orang-orang tenggelam dalam aktivitas bunyi, cahaya dan aroma. Sa tiba depan hotel Bakhan, tidak ada orang depan hotel, hanya dua karyawan hotel. Sa lurus depan resepsionis dan menuju kamar 69 di ujung. Setelah sa toki pintu, tidak tunggu lama, langsung Tinus buka pintu, sepertinya Tinus sudah tunggu depan pintu dengan tidak sabar. Sa belum duduk, Tinus lansung rampas sa punya tubuh yang tinggi dan sedikit gemuk.
Tinus angkat sa seperti air galong, seakan ringan, sa tidak menolak karena hari ini dia punya hari bahagia, sa juga ikut senang dia tembus jadi Polisi. Tinus cium sa bibir sambil tangan ramas sa punya buah pepaya, sa balas cium sesuai apa yang sa biasa nonton di media sosial. Tinus buang sa di atas tempat tidur empuk dingin, langsung dia naik di atas sa tubuh seperti dia naik kuda, dia mulai buka baju dan celana.
“Jangan Tinus,” tolak sa takut karena baru pertama kali kena sentuhan laki-laki.
“Io, sayang, sekali saja,” balas Tinus dengan suara berat sambil dia terus lepas sa baju dan jelana dari sa tubuh seperti dia buka bungkusan ular dengan hati-hati.
Sa hanya tidur-tidur di atas tempat tidur setelah Tinus lakukan semuanya, sa sulit gerak. Sa tidak bisa tolak kemauan Tinus; dia laki-laki pertama yang sa suka walaupun kita baru pacaran. Rasanya sakit seperti silet kena kulit, tapi itu saat pertama kali burung Tinus masuk lebih dalam, sa hampir pingsan setelah lihat darah di sprei putih.
Hotel Bakhan menyimpan cerita sakit dan nikmat. Sa tidak tau apakah ini dosa atau tidak, sa punya orang tua dan Gereja tidak perna cerita tentang tubuh wanita, pria, dan aktivitas kota. Semua cerita yang sa dengar hanya tentang surga dan neraka: kalau manusia tidak pergi ke Gereja akan masuk neraka, tapi kalau manusia rajin ke Gereja akan masuk surga.
Malam itu, sa tidak mungkin lupa, Tinus jilat sa punya tubuh dari kepala sampai kaki seperti dia nikmati es crime saat panas, sa gementar setiap permainan lidah dan bibir, apalagi tarikan bagian sa punya buah pepaya dan mulut goa, itu sangat nikmat sampe sa mata putih naik. Tinus ajar sa cara isap kepala burung dengan cara nikmat, dia bilang, harus nikmati seperti es crime; pelan-pelan dan rasakan.
Burung Tinus besar dan panjang, masuk sampai goa paling dalam, dia main dari yang pelan sampai cepat seperti mesin, banyak air keluar seperti ada keran air_tampias sampai di badan dan wajah Tinus, dia bilang bersih dan enak. Malam pertama, Tinus bikin sampai sa tiba-tiba sayang lapis cinta dia. Tinus ajar sa hal baru; cara menikmati dengan cara serius.
*
Di kota ini sa lahir dan besar di antara keramaian manusia yang komunal. Jalan umum tidak pernah libur dari kendaraan yang baku lewat dengan cepat. Kaka Leo dan sa turung-turung bukit. Sa duduk depan, samping kaka Leo, tadi sa mau duduk kursi belakang tapi, kaka dia paksa sa duduk depan.
“Ade pake hanphone apa itu?” tanya kaka Leo sambil lihat sa main hanphone di tangan.
“Samsung lama, kaka, tapi sudah rusak-rusak ini,” balas sa sambil raba-raba kesing hanphone yang sudah pudar.
Kaka Leo buka tas selempang hitam depan dada, kaka dia keluarkan satu ban uang biru-biru:
“Ini nanti ade beli hanphone baru sudah,” jelas kaka Leo sambil kasih sa uang.
Sa tidak tolak karena sa lagi butuh uang, bukan handphone.
“Makasih banyak kaka, kaka baik sekali,” balas sa sambil terima dengan jiwa penuh bahagia.
“Ada lebih jadi kaka hanya bagi berkat saja, adeku,” balas kaka Leo dengan santai sambil bawa mobil dengan gaya bangga.
Kota masih buram seperti tadi pagi, belum ada titik terang dari cahaya matahari yang biasanya menembus alam dan ruas kota. Sa lihat layar handphone, ada chat dari Tinus muncul:
“Sayang ko dimana, sa ada mau otw jemput dari kantor ini, maaf sayang, tong baru pulang jadi?” chat Tinus.
“Sa ada ke rumah, jadi tunggu sa info baru sayang otw jemput sa,” balas chat sa.
“Sa otw ke rumah sekarang ka?” Chat Tinus.
“Mama ada suruh ke pasar beli sayur jadi sabar, nanti sa info, sayang,” balas sa.
Sa tipu Tinus, takut nanti dia lihat sa turung dari kaka Leo punya mobil.
Sementara sa sibuk chat dengan Tinus, sa kaget, kaka Leo patah stir mobil ke kanan, masuk lorong jalan yang sempit.
“Kaka kita kemana?” tanya sa aneh lapis takut.
Kaka Leo tidak balas sampai berhenti di parkiran mobil hotel Baknak.
“Nanti kaka antar, sedikit kita singgah di sini dulu, adeku,” balas kaka Leo sambil turun dari mobil.
Sa mau tolak tapi tidak enak karena kaka Leo sudah berbuat baik, sa juga harus berbuat baik sama kaka dia. Sa tau kaka Leo suka sa dari dulu. Sa turung dari mobil, ikut kaka Leo naik lantai dua, masuk di kamar nomor 666. Di kamar, sa blokir nomor Tinus sementara. Kaka Leo langsung ke kamar mandi, sa duduk di kursi dekat jendela. Kaka Leo keluar dengan handuk di badan. Sementara cerita, tiba-tiba kaka Leo tarik sa tangan langsung dorong sa di atas tempat tidur.
Kaka Leo naik di atas sa tubuh seperti Tinus saat itu naik kuda, sepertinya kaka Leo sudah napsu dari dalam mobil, dia sudah tidak sabar untuk menikmati sa tubuh dengan ganas.
“Kaka, sabar sa ke kamar mandi dulu,” minta sa.
Kaka Leo tidak ingin lepas pelukan, tidak berikan waktu ke kamar mandi. Kaka Leo buka semua dari sa tubuh, persis seperti Tinus lakukan dengan perlahan; cium sa bibir dan leher sambil ramas sa punya buah pepaya.
Sa sudah napsu dengan sentuhan kaka Leo_yang agak lebih kasar dari Tinus. Kaka Leo duduk di atas sa punya tubuh, burung hitam depan sa muka, sa pegang dan isap seperti Tinus ajar sa pertama kali di hotel Bakhan. Sa bikin seperti Tinus ajar sa. Kaka Leo bermain sangat berpengalaman, dia perlakukan sa seperti bola tangan, padahal sa hanya ade-ade di Gereja, tapi kaka Leo lupa karena napsu gila kuasai jiwa yang tidur saat di Gereja.
“Prang! Prang! Prang!” tiba-tiba bunyi pintu keras, Tinus masuk dan berdiri depan pintu yang sudah terbuka dengan pistol di tangan kanan.
Permainan panas berhenti tiba-tiba, desahkan napas belum selesai, cepat-cepat sa tutup sa tubuh dengan bantal putih, kaka Leo lari ke arah Tinus dalam posisi telanjang, burung masih tegak basah, tapi Tinus sudah tarik pelatuk Pistol. Kaka Leo jatuh di atas lantai coklat bergambar wajah Yesus, darah segar dari tubuh kaka Leo mengalir ke lantai kamar mandi. Sa sudah gemetar, takut. Dengan langkah cepat dalam keadaan telanjang sa lari ke Tinus untuk peluk dan minta maaf.
“Anjing! cantik tapi lonte!” suara terakhir Tinus yang sa dengar sambil dia arahkan moncong pistol ke sa punya kepala.
“Takk! Takk! Takk!”
(Cerita ini ditulis oleh Nita dalam buku harian yang saya temukan secara misterius di sebuah jalan umum di wilayah Papua.)
