Cerpen

Bimbingan Skripsi di Hotel

6

“Hari Minggu siang, saya bertemu adik Lisa di tempat fotokopi. Saat itu dia sedang mencetak revisi skripsi. Saya lihat dia ingin menceritakan sesuatu, tapi karena saya sedang terburu-buru, dia hanya bilang, ‘Nanti hari Minggu baru ade cerita di gereja’, lalu saya pergi,” cerita Sisilia kepada tim investigasi.

“Adakah hal lain yang terjadi setelah pertemuan itu?” tanya salah satu anggota tim dengan wajah serius.

“Ada. Adik Lisa datang dalam mimpi, lalu dia menceritakan semuanya,” jawab Sisilia dengan mata berkaca-kaca.

“Baik, silakan Ibu ceritakan detailnya,” pinta tim investigasi.

Dalam mimpi itu, Lisa mulai bercerita tentang perjuangannya yang pilu.

“Saya iri melihat teman-teman sudah selesai bimbingan minggu kemarin. Dosen mereka tidak berbelit-belit, langsung perbaiki dan tanda tangan. Berbeda dengan dosen pembimbing saya, dia sengaja mempermainkan saya agar kita bisa bertemu terus,” ungkap Lisa dalam ceritanya.

Sejak awal bimbingan, Lisa mengaku selalu menuruti segala permintaan dosennya yang berusia 45 tahun itu, mulai dari membelikan makanan hingga hal-hal yang melampaui batas kewajaran.

“Saya melihat dia seperti orang tua sendiri, tapi dia tidak melihat saya seperti anak sendiri. Demi bisa wisuda tahun ini, apa pun dia mau, saya turuti,” lanjutnya.

Tekanan dari keluarga di kampung sangat berat. Tahun lalu dia menunda wisuda karena alasan biaya, namun tahun ini bukan soal uang, melainkan skripsi yang tak kunjung usai.

“Keluarga memaksa saya harus wisuda tahun ini. Mereka malu karena banyak omongan tetangga. Teman-teman yang sudah lulus pun ikut membicarakan saya, bilang saya menunda wisuda karena terlalu asyik main di kota,” cerita Lisa.

Padahal, selama di kota, Lisa mengaku hanya dekat dengan pacarnya. Namun, rasa malu dan tekanan sosial membuatnya menarik diri dari pergaulan.

“Saya jadi malas bergaul di asrama maupun kampus. Setiap malam pikiran tidak tenang, gelisah, dan susah tidur. Tidak ada teman tempat curhat karena mereka semua sudah pulang kampung,” ujarnya.

Dalam mimpi itu, Lisa bercerita pernah bermimpi dirinya hamil lalu wisuda. Anehnya, keluarganya tidak marah, mereka hanya peduli dia wisuda, tidak peduli nilai atau cara apa pun yang ditempuh.

Pertemuan yang Menyesakkan

Keesokan harinya, pesan WhatsApp dari dosen pembimbing masuk: “Lisa, besok bimbingan ya.”

“Baik Bapak, teman-teman semua sudah selesai, semoga besok Bapak langsung tanda tangan,” balas Lisa penuh harap.

“Bapa pasti bantu, jam 14.30, Bapa tunggu di tempat biasa,” balas dosen itu. Lisa tahu betul “tempat biasa” yang dimaksud adalah sebuah hotel. Hati kecilnya menolak, tapi ia tak punya pilihan.

Pagi harinya, saat mencetak revisi di tempat fotokopi, Lisa bertemu Sisilia. Wajahnya terlihat pucat dan kurus.

“Lisa, kamu sakit atau hamil?” tanya Sisilia kaget.

“Kakak, ade mau cerita panjang, nanti hari Minggu di gereja saja ya,” jawab Lisa singkat.

Tekanan semakin berat. Sudah hampir sepuluh tahun dia tinggal di asrama, orang tua sudah meninggal sejak SD, dan saudara kandung pun berhenti mengirim uang karena percaya omongan buruk di kampung.

“Tahun ini harus wisuda, tidak bisa ditunda lagi. Saya sudah berjanji pada diri sendiri,” bisiknya dalam hati.

Kekerasan di Kamar 102

Di kamar 102 sebuah hotel, drama memilukan itu terjadi.

“Tidak Bapak! Tanda tangan dulu baru boleh, jangan sentuh saya!” tolak Lisa saat dosen itu mulai berani meraba dan menciumnya.

“Bapa pasti tanda tangan, hari ini selesai semua, ayo…” rayu dosen itu dengan wajah yang membuat Lisa jijik.

“Minggu lalu juga Bapak bilang begitu tapi tidak ditandatangani! Sekarang tanda tangan dulu baru bisa!” desak Lisa. Ia sudah muak dipermainkan.

Sudah empat kali Lisa dipaksa memenuhi nafsu dosen itu di hotel dengan iming-iming kelulusan. Hubungannya dengan pacar pun kandas karena sang pacar tak sengaja melihatnya keluar dari hotel dan tak percaya dengan alasan “bimbingan skripsi”.

“Awalnya saya menolak keras, tapi dia mengancam akan membuat saya tidak lulus tahun ini juga. Terpaksa saya pasrah demi wisuda,” cerita Lisa.

Saat dosen itu mulai melepas pakaiannya, Lisa hanya bisa memejamkan mata, membayangkan wajah pacarnya agar bisa bertahan.

“Demi selembar ijazah, tubuh saya diserahkan pada lelaki tua ini. Rasanya hina sekali,” tangisnya dalam hati.

Setelah itu, saat Lisa keluar dari kamar mandi, dosen itu duduk memeriksa skripsinya.

“Sudah Bapa periksa, besok kita ketemu lagi baru Bapa tanda tangan dan selesai,” ucap dosen itu santai.

Mendengar jawaban itu, emosi Lisa meledak.

Akhir yang Tragis

“Kau orang tua terkutuk! Kau iblis! Aku kutuk kau Bapak dosen anjing!” teriak Lisa sambil menangis histeris.

Tanpa menunggu jawaban, ia merebut skripsinya, lalu lari terbirit-birit meninggalkan kamar 102 itu.

Sepanjang jalan menuju asrama, air matanya tak berhenti mengalir. Skripsi yang dibawa pun ia buang ke tong sampah. Masa depannya hancur, harga dirinya terinjak-injak.

Di tengah keputusasaan, ia singgah di toko bangunan dan membeli tali nilon sepanjang tiga meter.

“Saya gagal. Doa saya tidak didengar. Wisuda yang saya tunggu bertahun-tahun tak pernah datang,” pikirnya kalut.

Sebelum mengakhiri hidup, ia sempat menulis pesan di grup angkatan: “Saya akan bahagia melihat kalian wisuda. Maaf, saya mungkin wisuda tapi tidak bersama kalian. Izin pamit…”

Ponselnya pun ia hancurkan di bawah pohon belakang kampus.

“Sudah, Ibu Sisilia, jangan diteruskan. Motif utama Lisa mengakhiri hidup kami sudah dapat,” potong tim investigasi mengakhiri cerita mimpi yang menyayat hati itu. [*]

Mrnomen, (Abe, 2026)

Cerpen

Pria itu membolak-balik catatan hariannya yang sudah usang….

error: Content is protected !!
Exit mobile version