Nabire, Kalawaibumiofi.com | BATU, GOA, DAN NUBUAT : KISAH KIJNE DI TANAH PAPUA Ia datang dari jauh. Dari Rotterdam, menempuh lautan berbulan-bulan, Batavia, Makassar, hingga Ternate. 23 Juni 1923, sebuah kapal akhirnya menepi di pulau kecil Mansinam. Di sana, seorang lelaki muda turun dari geladak. Namanya I.S. Kijne. Ia membawa kitab, pena, dan sebuah keyakinan bahwa tanah asing ini menyimpan masa depan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Di Mansinam ia mulai dengan sekolah kecil. Murid hanya segelintir, bangku seadanya, papan tulis usang. Tetapi ia percaya, dari kelas yang sempit, lahir bangsa yang besar. Dua tahun kemudian, ia memindahkan sekolah ke Bukit Aitumeri, Miei, Teluk Wondama. Di bukit itu, udara lebih dingin, cakrawala lebih jauh, dan cerita tentang suku-suku di pedalaman lebih sering sampai ke telinganya.
Lalu sebuah kabar berhembus, ada kelompok orang di bawah kaki Gunung Kuri, yang belum mengenal Injil. Kijne bersama Pdt. Marthinus Ramar dan Jakonias Sanggemi berangkat. Perjalanan itu penuh sunyi. Hutan lebat, suara burung, dan rasa was-was menuntun langkah mereka.
Sesampainya di kaki gunung itu, mereka ditawan. Orang asing tidak bisa masuk tanpa ujian. Mereka dihadapkan kepada kepala suku.
“Hai orang putih, apa tujuanmu datang?” begitu pertanyaan pertama, dalam bahasa Wondama. Ramar menerjemahkan. Kijne menjawab ia datang untuk memperkenalkan Allah pencipta dunia, agar mereka bebas dari kegelapan.
Kepala suku menatap tajam, lalu menantang: “Buktikan Allahmu berbeda.”
Kijne mengangkat sepotong ikan asap. Ia berdoa. Kata-katanya mengalir, matanya terpejam. Sesudah “amin”, ikan itu bergerak. Murid-muridnya terperanjat. Tetapi kepala suku hanya diam. Ia mengambil ikan itu, membawanya ke dalam ritual adat, dan mengembalikannya ke bentuk semula sebagai ikan kering.
Dengan tenang ia berkata; “Allah yang kamu sembah adalah Allah yang sama dengan kami. Bedanya, kamu hanya berdoa tanpa melihat Dia. Kami duduk bersama-Nya di goa bawah Gunung Kuri, bercerita tentang tanah ini, tentang Kakopa Indoki. Pergilah, beritakan Injilmu. Aku pun melaksanakan perintah yang sama.”
Kijne terdiam. Ia sadar, di hadapannya bukan sekadar “orang yang belum mengenal Tuhan”. Tetapi sebuah bangsa dengan nubuat sendiri, dengan wahyu yang sudah lama bercakap-cakap dengan tanah dan leluhur.
Hari itu adalah 25 September 1925. Sebuah tanggal yang menandai perjumpaan antara Injil dan adat, antara zending dari Rotterdam dengan nubuat yang berakar di Papua.
Sebulan kemudian, tepat 26 Oktober 1925, Kijne berdiri di Bukit Aitumeri. Angin berhembus kencang, murid-murid berbaris, dan di tangannya sebuah batu. Ia tancapkan batu itu, lalu mengucap kata-kata yang kemudian hidup sebagai nubuat;
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Suatu saat bangsa ini, akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Batu itu tegak hingga kini. Bukan sekadar tugu, melainkan tanda perjanjian. Injil boleh datang dengan kapal, tetapi ia akan bertemu dengan adat yang sudah lebih dulu menjaga tanah ini.
Sejak hari itu, perjalanan Kijne berubah. Dari kelas kecil berisi lima puluh murid, lahirlah ratusan guru, penginjil, dan pemimpin. Pendidikan menyebar dari Mansinam, Aitumeri, hingga Serui, Biak, Fak-Fak, dan Jayapura.
Ketika perang dunia datang, ia ditangkap tentara Jepang, diasingkan, istrinya melahirkan di tahanan. Setelah perang usai, ia kembali membangun sekolah dan gereja yang hancur. Tahun 1956, ia ikut menyiapkan kelahiran Gereja Kristen Injili (GKI) gereja mandiri, dipimpin putra-putri Papua sendiri.
Tahun 1958 ia kembali ke Belanda, dan wafat pada 11 Maret 1970. Tetapi batu di Aitumeri tetap ada, menyimpan suara nubuat yang lebih tua dari sejarah resmi bahwa; “Suatu hari bangsa ini akan berdiri, memimpin dirinya sendiri”.
Kisah Kijne membuat kita bertanya, siapakah sebenarnya yang pertama kali berkabar tentang Allah di Papua? Apakah kapal yang berlayar dari Rotterdam? Ataukah suara dari goa bawah Gunung Kuri, yang menyebut nama-Nya dengan bahasa tanah ini sendiri?
Mungkin jawabannya ada pada batu itu. Batu yang berdiri di Aitumeri, seakan berkata; Injil dan adat tidak saling meniadakan, mereka justru saling melengkapi. Dan dari perjumpaan itulah lahir sebuah nubuat; “Papua akan bangkit, pada waktunya sendiri”. [*]
Penulis adalah : Roberthino Hanebora (Sekertaris Suku Besar Yerisiam Gua)
Dapatkan update berita Kalawaibumiofi.com dengan bergabung di saluran Portal kalawaibumiofi.com Nabire di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029Vb5HSBnLSmbczLEXuF0X. Caranya muda, Anda bisa mendapatkan melalui Aplikasi WhatsApp, atau dapatkan juga di medsos (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok) dengan nama
