Pada Maret 2026 lalu, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Nabire, Papua Tengah. Momen itu menjadi salah satu pengalaman yang sulit saya lupakan. Udara hangat khas wilayah pesisir menyambut kedatangan saya. Ada perasaan gugup karena harus berada jauh dari kampung halaman, tetapi juga rasa bahagia dan kagum karena akhirnya bisa melihat secara langsung keindahan alam di salah satu wilayah timur Indonesia.
Perkenalkan, nama saya Mey Mooy. Saya berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan menuju Nabire bukan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Bagi saya, perjalanan ini merupakan kesempatan untuk mengenal lingkungan baru, bertemu orang-orang dengan latar belakang budaya berbeda, serta mendapatkan pengalaman yang memberikan warna tersendiri dalam kehidupan.
Sebagai pendatang yang baru pertama kali mengunjungi Papua, khususnya Nabire, banyak hal menarik yang saya temukan.
Mulai dari suasana kota, kehidupan masyarakat, kebudayaan, hingga keindahan alamnya. Semua menghadirkan pengalaman baru yang sebelumnya hanya saya dengar dari cerita orang lain.
Menikmati Pesona Alam Nabire
Nabire memiliki pesona alam tersendiri. Wilayah pesisirnya menawarkan pemandangan laut, hamparan pantai, serta pepohonan hijau yang menghadirkan suasana berbeda dari daerah asal saya.
Tidak lama setelah tiba, saya mendapat kesempatan berkeliling bersama warga setempat untuk mengunjungi sejumlah pantai. Pengalaman itu menjadi salah satu bagian paling menyenangkan selama hari-hari pertama saya berada di Nabire.
Pantai MAFF atau yang kini disebut Pantai Nabire, menjadi salah satu tempat pertama yang saya kunjungi. Suasananya terasa menenangkan. Deburan ombak, angin laut, dan hamparan pasir membuat saya sejenak melupakan rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Duduk di tepi pantai sambil menikmati udara pesisir menjadi pengalaman sederhana, tetapi sangat berkesan.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pantai Gedo. Keindahan pantai ini terlihat dari hamparan pesisir dan air laut yang tampak jernih. Saya semakin menikmati suasana ketika sore mulai tiba. Langit perlahan berubah warna, sementara cahaya matahari menjelang terbenam menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan.
Menikmati senja di Pantai Gedo menjadi salah satu pengalaman yang membuat perjalanan pertama saya ke Nabire terasa semakin istimewa.
Saya juga berkesempatan mengunjungi Blessing Stone. Tempat ini menawarkan suasana pesisir yang nyaman untuk bersantai dan menikmati pemandangan laut. Suasananya yang relatif tenang membuat saya bisa menikmati waktu tanpa terburu-buru.
Destinasi berikutnya adalah Pantai Jasbri. Pantai ini menghadirkan suasana yang berbeda dengan lingkungan alamnya yang tenang. Saya menikmati waktu dengan duduk di sekitar pantai, memandang laut, serta merasakan angin yang berhembus dari arah pesisir.
Mengunjungi tempat-tempat tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa Nabire memiliki kekayaan alam yang patut dijaga. Keindahan pantainya bukan hanya menjadi daya tarik bagi pengunjung, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.
Kehangatan Masyarakat yang Membuat Betah
Di balik keindahan alamnya, ada hal lain yang membuat pengalaman saya di Nabire semakin berkesan, yaitu keramahan masyarakatnya.
Sebagai orang yang datang dari luar Papua, awalnya saya sempat merasa canggung. Berada di lingkungan yang belum dikenal tentu membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Namun, perasaan itu perlahan berkurang ketika saya mulai berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Sapaan dan senyuman yang saya temui menjadi pengalaman sederhana yang memberikan kesan mendalam. Saya mendapat kesempatan mengenal kehidupan masyarakat, mendengar cerita tentang lingkungan sekitar, serta belajar memahami kebiasaan dan budaya yang berbeda dari daerah asal saya.
Pengalaman berinteraksi dengan warga setempat membuat saya lebih mudah menyesuaikan diri. Saya belajar bahwa keramahan tidak selalu ditunjukkan melalui hal-hal besar. Terkadang, sapaan sederhana, kesediaan membantu, dan perhatian kecil justru menjadi hal yang paling diingat oleh seorang pendatang.
Dari pertemuan-pertemuan itu, saya mulai merasakan bahwa Nabire bukan lagi sekadar tempat asing yang jauh dari kampung halaman.
Belajar Menghargai Perbedaan
Perjalanan dari Kupang menuju Nabire juga mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan. Saya semakin memahami bahwa setiap daerah memiliki karakter, budaya, dan kebiasaan masing-masing. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk membangun jarak, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan menghargai.
Jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat membuat saya belajar menjadi lebih mandiri. Saya juga belajar berani keluar dari zona nyaman, membuka diri terhadap pengalaman baru, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sebelumnya belum pernah saya kenal.
Saya menyadari bahwa perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga tentang seberapa banyak pengalaman dan pelajaran yang diperoleh selama berada di tempat baru.
Nabire memberikan pelajaran itu melalui keindahan alamnya, perjumpaan dengan masyarakat, dan pengalaman sederhana yang perlahan menjadi kenangan.
Nabire, Bagian dari Cerita Perjalanan Saya
Bagi saya, Nabire bukan sekadar kota yang pertama kali saya kunjungi di Papua Tengah. Kota ini telah menjadi bagian dari cerita perjalanan hidup yang akan selalu saya kenang.
Saya bersyukur mendapat kesempatan mengenal wilayah ini, menikmati keindahan pantainya, serta bertemu dengan orang-orang yang memberikan pengalaman berharga selama berada di perantauan.
Harapan saya, keindahan alam Nabire tetap terjaga, masyarakatnya senantiasa hidup dalam kedamaian, dan kota ini terus berkembang tanpa kehilangan keramahan serta kekayaan budaya yang dimilikinya.
Saya belum mengetahui kemana perjalanan berikutnya akan membawa saya. Namun, pengalaman pertama pada 7 Juli 2026 itu akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.
Dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, menuju Nabire, Papua Tengah. Dua daerah dengan keunikan dan keindahan masing-masing, yang kini terhubung dalam satu cerita perjalanan.
Terima kasih, Nabire, telah menjadi bagian dari perjalanan pertama saya di Tanah Papua.
“Terkadang, perjalanan paling berkesan bukan hanya tentang tempat yang kita datangi, melainkan tentang pengalaman, orang-orang yang kita temui, dan kenangan yang kita bawa dalam ingatan.”
*Salam hangat, Mey Mooy.











