Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pemprov Papua Tengah

Di Papua Tengah 190.597 Kasus Malaria Ada di Mimika, Nabire menyusul 8.744 Kasus

66
×

Di Papua Tengah 190.597 Kasus Malaria Ada di Mimika, Nabire menyusul 8.744 Kasus

Sebarkan artikel ini
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, (kiri) Bersama Penanggung Jawab Malaria, Dinkes Papua Tengah, Yenice Derek, Senin (02/03/2026), – Kalawai/Yan Betai.
Example 468x60

“Upaya Penurunan Kasus Malaria di Papua Tengah : Screening Massal dan Pengobatan Tuntas adalah kunci Kunci Utama”

Nabire, Kalawaibumiofi.com | Papua Tengah menghadapi tantangan besar dalam menurunkan angka malaria, dengan 8 kabupaten menjadi kantong penyakit tersebut.

Example 300x600

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus, M.Kes, CH.Med. CH.t., Sp.KKLP mengatakan, kasus tertinggi berada di Kabupaten Mimika, yang menyumbang sekitar 80% kasus malaria di wilayah ini dan bahkan untuk tingkat nasional.

“Kita harus tahu akar masalahnya agar bisa memutus rantai penularan,” kata dr. Agus di ruang kerjanya, Senin (02/03/202).

Ia merinci per Kabupaten, data per Tahun 2025 sebagai berikut : Kabupaten Mimika : 190.597 kasus, Kabupaten Nabire : 8.744 kasus, Kabupaten Puncak : 3.025 kasus, Kabupaten Puncak Jaya : 2.031 kasus, Kabupaten Intan Jaya : 334 kasus, Kabupaten Paniai : 273 kasus, Kabupaten Deiyai : 51 kasus, Kabupaten Dogiyai : 13 kasus.

“Kabupaten dengan jumlah kasus menonjol dan rendah Kabupaten dengan jumlah kasus tertinggi adalah Mimika, diikuti Nabire, Puncak, dan Puncak Jaya. Sementara kabupaten dengan jumlah kasus relatif rendah adalah Intan Jaya, Paniai, Deiyai, dan Dogiyai,” terangnya.

Dijelaskan, penyebab utama tingginya kasus malaria adalah keberadaan nyamuk Anopheles dan parasit Plasmodium di tubuh manusia. Nyamuk pembawa bibit penyakit dari orang ke orang.

Juga, faktor lingkungan memperburuk situasi: genangan air akibat curah hujan tinggi sepanjang tahun tanpa musim kemarau, yang jelas menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

“Ditambah lagi, lingkungan yang kurang bersih dan perilaku hidup yang belum sehat,” jelas Dokter Agus.

Menurut Dokter Agus, solusi utama adalah screening massal atau deteksi dini. Semua warga, baik yang sakit maupun sehat tanpa gejala, wajib melakukan pemeriksaan darah. Logikanya sederhana, semua orang diperiksa, hasilnya positif atau negative.

Jika positif, maka harus diberi obat untuk diminum obat malaria secara tuntas. Manunj,  (biasanya 3 hari awal, lalu follow-up).Periksa ulang setelah 14 hari. Jika masih positif, ulangi pengobatan hingga negatif.

“Ini agar menghilangkan plasmodium dari tubuh agar nyamuk tidak lagi membawa infeksi ke orang lain. Contoh, seseorang positif tanpa gejala minum obat tuntas, periksa ulang negatif. Meski digigit nyamuk, dia tidak lagi menularkan penyakit karena parasit sudah hilang,” tuturnya.

Lanjut Dokter Agus, hambatan utama dalam memerangi malaria adalah kurangnya disiplin mengkonsumsi obat. Tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Ditambah lagi tidak menuntaskan konsumsi obat secara rutin atau berhenti saat gejala hilang.

“Tanpa pengobatan tuntas, bibit penyakit tetap ada didalam tubuh. Nyamuk gigit, lalu infeksi menyebar,” pungkasnya. [*]

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!