Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Features

Di Usia 72 Tahun, Mama Mala Tetap Jual Sagu di Nabire

7
×

Di Usia 72 Tahun, Mama Mala Tetap Jual Sagu di Nabire

Sebarkan artikel ini
Sagu Bakar dagangan Mama Mala. Kamis (8/10/2026), –  Kalawai/Titus Ruban.

Matahari Nabire siang itu (8/10) terasa menyengat dan sudah hampir 3 bulan lebih. Panas terik tidak membuat langkah Mama Mala Mala Matatula  berhenti, begitupun sebaliknya. Perempuan berusia 72 tahun asal Maluku itu tetap bersemangat menjajakan sagu dagangannya.

Puluhan tahun berjualan membuat Mama Mala terbiasa dengan panas dan hujan. Baginya, cuaca bukan alasan untuk berhenti selama tubuh masih mampu bekerja.

Mama Mala telah berjualan sagu di Nabire sejak sekitar 1999. Pekerjaan itu dijalaninya selama puluhan tahun hingga menjadi bagian dari kesehariannya.

Setiap hari, ia keluar berjualan selama beberapa jam. Pagi hari ia menjajakan dagangannya, kemudian kembali ke rumah. Jika masih memiliki tenaga dan ada pelanggan yang menghubungi, ia kembali berjualan pada sore hari.

“Paling tinggi tiga jam itu paling tinggi. Sudah habis,” kata Mama Mala di Nabire, Kamis (8/10/2026).

Sagu yang dijualnya diperoleh dari para penjual sagu. Ia kemudian mengolahnya untuk dijual kepada pelanggannya.

Di usianya yang tidak lagi muda, Mama Mala sebenarnya bisa memilih untuk beristirahat di rumah. Anak-anaknya juga sudah beranjak dewasa. Salah satu anaknya telah menjadi Polwan, sementara dua anak lainnya telah menyelesaikan pendidikan dan bekerja.

Namun, Mama Mala tidak memilih tinggal diam.

Anak-anaknya beberapa kali memintanya berhenti berjualan. Mereka khawatir dengan kondisi ibunya yang semakin lanjut usia dan ingin agar Mama Mala menikmati masa tuanya di rumah.

Namun, Mama Mala justru merasa tidak nyaman jika hanya duduk di rumah.

Ia sudah terbiasa bekerja sejak dahulu. Selama tubuhnya masih kuat, ia ingin tetap melakukan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

“Saya tidak mau diam saja di rumah,” katanya ketika diminta berhenti berjualan.

Berjualan sekaligus hiburan

Bagi Mama Mala, berjualan sagu tidak lagi semata-mata tentang mendapatkan uang.

Ada kesenangan lain yang ia dapatkan ketika keluar membawa dagangannya. Ia bisa bertemu orang, berbicara dengan pelanggan, dan mendengar cerita mereka.

Pertemuan itu mungkin sederhana. Kadang hanya sebatas seorang pembeli yang datang membeli sagu. Namun, bagi Mama Mala, percakapan singkat tersebut membuat hari-harinya terasa lebih bersemangat.

Mama Mala dan dagangan sagu bakarnya. Kamis (8/10/2026), – Kalawai/Titus Ruban.

“Kalau mama jualan, satu orang beli, terus sudah berbincang-bincang. Cerita. Jadi terakhir itu juga hiburan,” tuturnya.

Karena itu, meski anak-anaknya telah bekerja dan kehidupan keluarga sudah lebih baik, Mama Mala tetap memilih berjualan.

Ia tidak ingin sepanjang hari hanya duduk di rumah.

Berjualan membuatnya keluar rumah, bertemu orang-orang dan tetap merasa memiliki kegiatan. Panas matahari, hujan deras, maupun usia yang semakin bertambah tidak sepenuhnya menghilangkan semangatnya.

Dari sagu untuk pendidikan anak

Puluhan tahun berjualan sagu juga menjadi bagian dari perjalanan Mama Mala membesarkan anak-anaknya.

Ia memiliki tiga anak. Salah seorang anaknya berhasil menjadi polisi. Perjalanan menuju profesi itu tidak mudah. Mama Mala ikut mendukung dan mengurus berbagai kebutuhan anaknya ketika mengikuti tahapan seleksi dan pendidikan.

Ia masih mengingat bagaimana dirinya bersama suami mengantar anaknya menuju bandara pada pagi hari kala itu, sekitar tahun 2014 silam.

Mama Mala berjalan mengantar anaknya hingga ke bandara. Ketika pesawat mulai bergerak untuk tinggal landas, ia menangis. Ia hanya bisa berdiri dan berdoa agar anaknya dapat mencapai cita-citanya.

“Ya Tuhan, Engkau berkehendak, kehendak-Mu akan jadi,” kenangnya.

Doa itu akhirnya terjawab. Anak yang dahulu diantar dengan penuh kecemasan berhasil melewati pendidikan dan menjadi polisi.

Namun, keberhasilan anak tidak membuat Mama Mala berhenti berjualan.

Anaknya bahkan pernah memintanya berhenti bekerja dan berjanji akan memberikan uang setiap bulan.

Mama Mala tetap memilih berjualan.

Bukan karena anaknya tidak mampu membantu. Bukan pula karena hasil berjualan sagu menjadi satu-satunya sumber penghidupan keluarga.

Ia berjualan karena sudah terbiasa bekerja.

Dan yang tidak kalah penting, berjualan menjadi hiburan baginya.

Tetap melangkah

Kini, ketika usianya telah 72 tahun, Mama Mala masih menjalani rutinitas yang sama. Ia membawa dagangannya, menyapa pelanggan dan menunggu orang datang membeli.

Panas dan hujan telah menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Ia tidak melihat usia sebagai alasan untuk berhenti selama tubuh masih mampu bergerak.

Bagi Mama Mala, hidup bukan hanya tentang berapa banyak uang yang diperoleh dari dagangan. Ada kebahagiaan sederhana ketika bisa keluar rumah, bertemu orang, berbicara, dan kembali pulang setelah dagangannya terjual.

Sagu telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun. Dari pekerjaan sederhana itu, ia ikut mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan.

Kini anak-anaknya telah dewasa dan bekerja. Namun Mama Mala masih memilih jalan yang sama: berjualan sagu.

Sebab baginya, selama masih kuat, bekerja adalah cara untuk tetap menjalani hidup.

Dan di antara panas matahari, hujan yang turun deras, serta percakapan singkat dengan pembeli, Mama Mala menemukan hiburannya sendiri. [*]

error: Content is protected !!