Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pemprov Papua Tengah

Dinkes Papua Tengah Kirim Tim ke Dogiyai Investigasi Dugaan Campak

0
×

Dinkes Papua Tengah Kirim Tim ke Dogiyai Investigasi Dugaan Campak

Sebarkan artikel ini
Tim investigasi Dinkes Provinsi Papua Tengah saat melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anak di Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah - Dok. Humas Pemprov Papua Tengah
Example 468x60

Nabire, Kalawaibumiofi.com | Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah menurunkan tim ke Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, untuk menginvestigasi adanya laporan dugaan kasus campak di sana.

Tim diturunkan ke Kampung Modio untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan pendampingan teknis di lokasi. Tim dipimpin Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Papua Tengah, Yohanes Kayame, S.KM., M.Kes atas arahan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, dr. Agus Chan, M.Kes, CH.Med, CHt, Sp.KKLP.

Example 300x600

Tim dari Dinkes Provinsi Papua Tengah bekerja sama dengan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Dogiyai yang terdiri dari dr. Nila, Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Yulita Keiya, serta tenaga kesehatan Noak Boma, S.KM, Selpian Pigai, Berta Keiya bersama petugas Puskesmas setempat.

Sinergi ini juga melibatkan pemerintah kampung dan tokoh masyarakat, untuk memastikan seluruh proses berjalan lancar, transparan, dan dapat diterima oleh warga.

Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Papua Tengah, Yohanes Kayame, S.KM., M.Kes mengatakan pembentukan tim ini adalah wujud komitmen nyata dalam memperkuat sistem kewaspadaan dini.

“Setiap informasi yang masuk ditindaklanjuti dengan penyelidikan berbasis fakta dan data yang akurat, bukan sekadar asumsi, guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB),” kata Yohanes Kayame, Jumat, (17/07/2026).

Menurutnya, di lapangan tim melakukan serangkaian langkah teknis meliputi verifikasi dan validasi kasus, penelusuran riwayat penyakit, pencarian kasus tambahan, pengecekan status imunisasi, hingga pengambilan sampel sesuai pedoman resmi Kementerian Kesehatan.

Tim juga memberikan pemahaman kepada warga mengenai tanda gejala campak, pentingnya melengkapi imunisasi dasar, serta cara mencegah penularan di lingkungan sekitar.

“Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pelatihan dan penguatan kapasitas bagi petugas kesehatan di tingkat kabupaten dan puskesmas, agar respons terhadap penyakit menular dapat dilakukan lebih cepat, tepat dan mandiri ke depannya,” ujarnya.

Katanya, dalam pelaksanaannya, tim menghadapi kendala berupa penolakan dari sebagian keluarga terkait proses investigasi pada kasus anak yang meninggal dunia.

Namun, melalui pendekatan yang penuh rasa hormat, persuasif, serta dukungan tokoh masyarakat dan pemerintah kampung, hambatan tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

Tim tetap menjalankan tugas sesuai prosedur tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat setempat.

Pihaknya mengimbau seluruh masyarakat, terutama warga di sekitar lokasi yang diduga terjadi penyebaran campak, agar tidak panik, namun tetap waspada.

Apabila ditemukan anggota keluarga mengalami demam disertai ruam kemerahan, segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dini.

“Lengkapi jadwal imunisasi anak-anak kita, karena itu adalah perlindungan paling efektif. Dengan kerja sama seluruh elemen, kita pastikan penanganan berjalan maksimal dan penyakit tidak menyebar lebih luas,” kata Kayame.

Melalui langkah ini, diharapkan sistem pelayanan kesehatan semakin kokoh hingga ke pelosok wilayah, demi menjamin derajat kesehatan masyarakat Papua Tengah yang lebih baik dan terlindungi. (*)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!