Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Tanah Papua

Harga Sirih di Nabire Meroket, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

8
×

Harga Sirih di Nabire Meroket, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Sebarkan artikel ini
Yuliana, salah satu pedagang di Pasar Samabusa, Distrik Teluk Kimi saat mengatur dagangannya. Senin (14/9/2026), – Kalawai/Maikel Marey.

Nabire, Kalawaibumiofi.com |    Harga buah sirih di sejumlah pasar di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, dilaporkan mengalami kenaikan tajam. Salah satu contoh di Pasar Samabusa, Distrik Teluk Kimi. Pasalnya, harga yang sebelumnya relatif terjangkau kini disebut mencapai Rp 600 ribu hingga Rp800 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut dikeluhkan warga karena sirih merupakan salah satu komoditas yang cukup banyak digunakan masyarakat, terutama dalam kebiasaan mengunyah pinang.

Seorang warga yang berbelanja di pasar Nabire, Yuliana, mengatakan kenaikan harga sirih mulai terasa membebani masyarakat.

“Dulu harganya masih terjangkau, tetapi sekarang terasa sangat mahal. Kami berharap pemerintah bisa melihat kondisi ini dan mencari solusi supaya harga kembali normal,” kata Yuliana, salah satu pedagang di Pasar Samabusa. Senin (14/9/2026).

Menurutnya, kenaikan harga membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan sirih. Ia berharap pemerintah tidak hanya memantau harga di pasar, tetapi juga mencari tahu penyebab berkurangnya pasokan.

Sementara itu, Markus, salah seorang pedagang di pasar Nabire, mengatakan terbatasnya pasokan menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga.

“Barangnya semakin sulit didapat. Kalau pasokan berkurang, harga dari pemasok juga naik. Biaya membawa barang ke Nabire juga menjadi pertimbangan,” kata Markus pedagang lainnya.

Markus mengatakan kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual dengan harga yang diperoleh dari pemasok. Menurut dia, apabila pasokan kembali normal, harga di tingkat pasar diharapkan dapat ikut turun.

Yuliana, salah satu pedagang di Pasar Samabusa, Distrik Teluk Kimi saat mengatur dagangannya. Senin (14/9/2026), – Kalawai/Maikel Marey.

Pasokan Diduga Menurun

Kenaikan harga sirih di Nabire terjadi di tengah kondisi cuaca yang relatif kering di sejumlah wilayah Papua.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Niño berada pada intensitas sangat kuat pada akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi periode kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Namun, hubungan langsung antara fenomena El Niño dan kenaikan harga sirih di Nabire masih perlu dikonfirmasi melalui data produksi serta keterangan petani dan instansi teknis terkait.

Jika produksi sirih menurun akibat kondisi cuaca, berkurangnya pasokan dari petani dapat memberikan tekanan terhadap harga di tingkat pedagang.

Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah Papua Tengah lainnya. Media lokal Salam Papua pada 9 September 2026 melaporkan harga sirih buah di Mimika mencapai Rp 450 ribu per kilogram di tingkat agen. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jayapura.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi harga sirih di wilayah Papua.

Markus, salah satu pedagang di Pasar Samabusa, Distrik Teluk Kimi saat mengatur dagangannya. Senin (14/9/2026), – Kalawai/Maikel Marey.

Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Nabire bersama instansi terkait segera melakukan pengecekan terhadap kenaikan harga sirih di pasar.

Pemerintah dinilai perlu menelusuri rantai pasok mulai dari petani, pedagang pengumpul, hingga pedagang di pasar untuk mengetahui penyebab kenaikan harga secara lebih jelas.

Selain itu, pemerintah juga diharapkan memastikan kenaikan harga bukan disebabkan oleh praktik perdagangan yang merugikan konsumen maupun petani.

“Kami berharap pemerintah turun tangan. Kalau memang karena pasokan berkurang, pemerintah perlu melihat bagaimana membantu petani dan menjaga agar sirih tetap tersedia di pasar,” kata Yuliana.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Nabire maupun instansi teknis terkait mengenai kenaikan harga sirih tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan pemantauan harga dan ketersediaan pasokan sehingga kenaikan harga tidak berlangsung berkepanjangan.

Di sisi lain, dukungan kepada petani juga diperlukan untuk menjaga produksi sirih, terutama menghadapi kondisi cuaca yang dapat mempengaruhi hasil pertanian.

Dengan demikian, upaya menjaga stabilitas harga tidak hanya dilakukan melalui pengawasan di pasar, tetapi juga dengan memastikan produksi dan distribusi berjalan dengan baik. [*]

error: Content is protected !!