Di hamparan tanah lapang yang kini mungkin sudah berubah wajah, dulu pernah terdengar sorak-sorai yang membelah udara. Nama yang dipanggil penonton kala itu bukan nama-nama asli seperti yang tertulis dalam dokumen kependudukan, melainkan satu nama yang begitu akrab di telinga warga Nabire pada 1980-an “Borlak”. Nama itu menjadi identitas seorang pemain sepak bola yang dikenal menaklukkan setiap jengkal lapangan tempat ia berpijak.
Kisah itu bermula pada tahun 1983. Seorang pemuda yang baru datang merantau ke Nabire. Nama aslinya Georgorius Ohoiwirin, pemuda dari Ohoi (Kampung) Waur, Kecamatan Elat, Kabupaten Maluku Tenggara – Maluku.
Pertama kali ia merumput di lapangan sepak bola di Kelurahan Bumi Wonorejo, Distrik Nabire. Lapangan ini dikenal hingga kini dengan sebutan Lapangan Tai Sapi. Ya, karena banyak sapi penduduk yang berkeliaran di sana.
Saat itu usianya sekitar 22 hingga 23 tahun. Tanpa pengalaman terstruktur, tanpa pelatih khusus, ia langsung terjun bermain bersama siapa saja yang membutuhkannya. Di mana ada klub, di situ ia melangkah.
“Saya turun dari kampung langsung main bola,” ujarnya mengenang masa-masa awal itu.
Bakat alami dan fisik yang luar biasa kuat segera menarik perhatian. Saat bermain di lapangan milik GKI Nabire, saat itu lapangan ini menjadi satu-satunya lapangan berawa yang kemudian dipakai sementara oleh Persinab Nabire. Kemampuannya disaksikan oleh unsur dari Kodim Nabire. Saat itu Komandan Kodim dijabat Kristofel Tanasale. Sang komandan begitu terkesan dengan pemain satu ini hingga ia dipanggil untuk bergabung dengan klub bola dari Kodim Nabire. Sejak saat itu, nama Borlak mulai bergema di setiap pertandingan.
Bergabungnya Borlak bersama Klub Kodim menempatkannya di posisi gelandang bertahan. Namun ia tak sekadar bertahan. Ia kerap melangkah menjajah hampir seluruh penjuru lapangan. Di mata penonton, ia adalah raja lapangan. Di mana bola berada, di situ pula ia hadir. Kekuatan fisiknya, ketangguhan saat beradu badan, serta ketabahan menahan serangan lawan membuatnya dihormati sekaligus disegani.
Zaman itu persepakbolaan di Nabire begitu hidup. Klub-klub seperti Batalyon, Tornado, POP (klub dari Polres Nabire) dan lainnya menjadi lawan-lawan yang menyulut semangat. Pemain-pemain hebat berdatangan, namun Borlak tetap menjadi sosok yang tak tergantikan. Setiap pertandingan, warga berbondong-bondong datang bukan sekadar menonton pertandingan, melainkan ingin melihat Borlak beraksi.
Puncak cerita yang mengubah perjalanan hidupnya terjadi pada tahun 1987. Saat itu klub Klub Kodim berhadapan dengan Klub Batalyon 753 Nabire. Lawan menyadari bahwa selama Borlak masih di lapangan, peluang mereka untuk menang sangat kecil. Maka disusunlah rencana licik untuk melumpuhkan Borlak agar tak mampu bergerak leluasa.
Di tengah pertandingan, empat pemain lawan menyusun strategi untuk mencederainya. Saat ia hendak menguasai bola, salah satu pemain Batalyon dengan sengaja menendang bagian tumitnya dengan keras. Namun tubuh Borlak ternyata sekuat karang. Ia tak jatuh, bahkan dalam pertarungan fisik itu, ia mampu menahan serangan dan membalas dengan kekuatan yang membuat lawan-lawan itu jatuh berantakan.
Suasana berubah menjadi panas. Penonton yang melihat kejadian itu bersorak membelanya. Namun hal itu justru memicu kemarahan pihak Batalyon. Mereka turun ke lapangan membawa kayu dan senjata. Para penonton yang bukan anggota militer segera mengungsi meninggalkan lapangan. Tak lama, lapangan itu menjadi sepi. Yang tersisa hanya anggota Batalyon dan Kodim yang saling berhadapan.
Borlak sendiri sempat berlari ke parit berair di pinggir lapangan untuk menghindari kekerasan. Namun pengejaran terus berlangsung. Satu orang anggota Batalyon mencoba menyerangnya dengan senjata tajam, namun dengan sigap Borlak menangkis serangan itu hingga senjata jatuh ke dalam lumpur. Situasi semakin genting hingga Komandan Kodim Kristofel Tanasale turun tangan. Beliau berdiri di tengah lapangan dan dengan tegas memerintahkan:
“Siapa yang berani menembak mati anak ini di lapangan, silakan,” — Borlak meniru teriakan sang Dandim.
Kata-kata itu menghentikan segalanya. Tak ada satupun yang berani melangkah maju. Kemudian beliau memerintahkan Kasdim, Mayor Sumerta, untuk membawa Borlak ke tempat aman dan merawatnya. Selama empat hari pasca-kejadian itu, Borlak dijaga ketat oleh tentara demi keselamatannya di rumah.
Meski nyaris celaka, semangat Borlak tak surut. Ia tetap mencintai sepak bola. Namun peristiwa itu menjadi titik balik. Ia kemudian bergabung dengan Klub Wate, sebuah tim yang mewakili wilayah Nabire. Ia bergabung bersama nama-nama besar seperti Anton Yoweni, Hengki Soren, dan lainnya. Di bawah manajer Marwan Toko Mawar dan pelatih Mantri Kumbui, Klub Wate melangkah jauh hingga mewakili Nabire bertanding di Jayapura. Di sana mereka meraih posisi juara kedua dengan lawannya dari Biak.
Peran Borlak saat itu pun berubah. Pelatihnya menempatkannya di barisan depan bukan untuk mencetak gol, melainkan sebagai pendobrak. Dengan fisiknya yang luar biasa kuat, tugasnya adalah membenturkan pertahanan lawan agar rekan-rekan setim bisa membawa bola masuk. Tanpa bayaran yang layak, tanpa fasilitas mewah, ia bermain hanya dengan semangat murni dan cinta pada sepak bola.
Perjalanan karier Borlak tak berhenti di Nabire. Setelah keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan dari maskapai penerbangan AMA (Associated Mission Aviation) di Nabire pada akhir 1980-an, ia terus merantau ke Jayapura dan disana tetap bermain. Bahkan di usia yang tak lagi muda, namanya masih dikenal di lingkungan sepak bola ibu kota provinsi. Ia melihat generasi muda tumbuh, melihat permainan berkembang, namun satu hal tak pernah berubah: rasa cintanya pada lapangan hijau.
Sepak bola bagi Borlak bukan sekadar permainan. Ia adalah kehidupan. Dari tahun 1983 hingga memasuki tahun 2000-an, ia tak pernah benar-benar meninggalkannya. Ia pernah berkata bahwa sejak muda ia sudah menjadi pemain yang diandalkan, dihargai, dan dicintai masyarakat Nabire. Bukan karena harta atau jabatan, melainkan karena keteguhan hatinya, kekuatan fisiknya, dan keberaniannya bertahan di tengah ancaman sekalipun.
Kini lapangan-lapangan tempat ia berlari mungkin telah berubah rupa. Generasi yang menontonnya mulai menua. Namun cerita tentang Borlak tetap hidup di ingatan warga Nabire. Sebuah kisah tentang seorang pemuda yang turun dari kampung, berdiri tegak di lapangan, dan membuktikan bahwa keberanian, kejujuran, dan kekuatan hati mampu membuat seseorang menjadi legenda yang tak terlupakan.
“Di mana ada bola, di situ saya ada,” – begitu prinsipnya dulu. Dan selama sepak bola masih dimainkan di Nabire, nama Borlak tetap akan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah lapangan hijau tanah ini.

Hengki Soren: Jejak yang Tak Terhapus Dari Remtar Biak, Galatama Bandung, Hingga Klub Wate
Pagi itu, Rabu (5/8/2026) langit Nabire masih cerah ketika saya mengetuk pintu sebuah rumah sederhana berukuran 6×6 meter, dicat warna biru, di Kelurahan Karang Mulia Distrik Nabire. Di sana, saya disambut oleh Hengki Soren, pensiunan pegawai Dinas Perhubungan Nabire. Sebelum duduk, ia bercerita dengan nada sedih namun tabah. 15 album foto kenangan sepak bolanya telah terbakar habis saat rumah lamanya terbakar beberapa tahun lalu. Yang tersisa kini hanya satu foto lama bersama teman-teman sesama pemain. Foto itu pun ia berikan kepada saya, sebagai satu-satunya bukti fisik dari masa keemasan yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Saya langsung memotretnya di layar handphone.
Kami duduk di teras rumah itu. Cerita mengalir perlahan, seperti aliran sungai yang tenang namun dalam.
Hengki Soren mengenang awal perjalanannya: “Saya mulai main bola tahun 1977. Remtar (Remaja Taruna), pertama kami di Biak.” kenang Soren.
Bakat alami membawa langkahnya terus melangkah, dari Biak, kembali ke Nabire, masuk lalu ke klub-klub lokal seperti POR Pemda (Pemda Nabire), lalu ke Klub Kodim dan kemudian bergabung dengan Klub Atlanta. Sebuah klub yang memiliki cabang bola kaki, bola voli. Akhirnya, langkahnya dan teman-teman terbaik Nabire termasuk Borlak, menyatu di satu nama besar Klub Wate.
“Kalau di Klub POR Pemda, ada Welly Wambrauw, Madyo Prayitno dan beberapa kalan ladi. Saya sudah lupa karena sangat lama,” kisah Soren.
Di Klub Wate, nama-nama besar berkumpul, seperti Anton Yoweni, Mantri Komboi, Weli Wambrau, Wem Misido, Markus Yoweni, Edy Ropen, Borlak, dan Hengki Soren sendiri. Mereka adalah para pemain terbaik yang dulunya pernah tergabung dalam Persinap Nabire, kini berkumpul di bawah manajemen Marwan. Nama pemilik sebuah toko bernama Toko Mawar DI Kelurahan Oyehe. Klub ini juga didukung sponsor seperti Pak Gunawan (Toko Sumber Baru).
Nama Wate sendiri lahir atas permintaan Kepala Suku Dominggus Warai (Almarhum). Ia melihat semangat anak-anak muda ini dan meminta agar nama klub diubah menjadi nama yang mewakili wilayah adat mereka.
“Dulu klub ini bernama Klub Oyehe. Bapak Dominggus minta ke Marwan untuk ganti ke menjadi Klub Wate.,” kenang Soren.
Cerita paling tak terduga muncul ketika Hengki bercerita tentang perjalanannya ke Jakarta. Awalnya hanya sekadar niat berlayar jalan-jalan, tanpa rencana apa pun. Bersama beberapa pemuda Nabire, ia berangkat naik kapal ke Biak, lalu ke Jakarta. Di sana, berkenalan dengan Sayori (seorang mantan Camat di Nabire) yang sedang kuliah di Bandung, kini mengubah seluruh hidupnya.
“Dia bilang: ‘Kau ikut main-main ke Bandung dulu.’ Saya ikut saja. Tanpa rencana, tanpa persiapan. Tapi di sana, saat seleksi pemain dan saya terpilih.”
Hengki masuk ke klub Galatama Sari Bumi Raya di Bandung. Selama empat tahun ia bermain di sana, dari akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Gajinya saat itu mencapai 700 ribu rupiah per bulan, angka yang sangat besar pada zamannya. Makan, tempat tinggal, kendaraan semua ditanggung. Bonus pertandingan terpisah.
“Sungguh saya sebenarnya tidak ingin pulang. Sudah enak di sana. Tapi akhirnya kembali ke Nabire di awal 80-an,” ujarnya.
Ia meninggalkan bangku SMP, tak tamat SMA dan ijazah SMA-nya baru diperoleh belakangan melalui ujian paket C di Nabire. Namun sepak bola memberinya pengalaman hidup yang tak bisa dibeli dengan ijazah apa pun.
Setelah pulang, Hengky Soren bergabung dengan Persinab Nabire klub yang sejarahnya dimulai di Manokwari sekitar tahun 1969–1970, berkat inisiatif tokoh-tokoh seperti Paul Ranhanten dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Rumaropen dan di bawah kepemimpinan Bupati pertama, Pak Surojo Tanoyo.
Bersama Persijap, ia ikut Porda I hingga Porda IV di Jayapura. Dalam pertandingan inilah ia bersatu kembali dengan Borlak dan rekan-rekan PS Wate. Bersama empat orang pemain yang diperbantukan dari klub POP (Polres Nabire), mereka berjuang tanpa dana yang layak, tanpa fasilitas lengkap. Hanya bermodal semangat murni, mereka meraih juara dua umum prestasi yang hingga kini masih menjadi kebanggaan.
“Dulu kami keluar bertanding biaya sendiri, semangat sendiri. Uang nomor dua. Yang penting nama Nabire terangkat,” tegas Hengki.
Ia juga pernah bermain bersama Paul Rantan di kesebelasan PU, dan menjadi bagian dari masa keemasan sepak bola Nabire dimana klub-klub seperti Batalyon, Tornado, POP, PS Kodim saling bersaing dengan sportifitas dan semangat tinggi — di sinilah persahabatan dan rasa hormat antara dirinya dan Borlak terjalin erat di atas lapangan.
Tahun 1992, Hengky Soren mulai bekerja di Dinas Perhubungan Nabire dan masuk dengan ijazah SMP, diangkat menjadi PNS tahun 1997, dan kini telah memasuki masa pensiun. Ia lahir 25 November 1962, kini berusia 65 tahun.
“Dulu hidup lebih enak. Tidak pusing soal uang, tidak butuh HP. Makan di kebun, mandi di kali, ambil pisang di pinggir jalan tanpa ada yang marah. Sekarang semuanya harus dibeli,” kenangnya.
Namun pesannya untuk anak-anak muda sepak bola Nabire sangat tajam dan dalam pesan yang juga mewakili suara Borlak dan generasi emas mereka:
“Sekarang uang ada, fasilitas ada tapi prestasi justru makin jatuh. Dulu kami juara dua, juara tiga pasti dapat. Sekarang tidak ada apa-apa. Mengapa? Karena banyak yang pikirkan uang dulu, pikirkan jabatan, pikirkan ego pribadi. Mainlah untuk daerah, untuk nama Nabire. Bukan untuk kantong sendiri.”
“Potensi pemain Nabire sangat banyak. Pelatih Persipura saja pernah bilang ; pemain terbaik paling banyak berasal dari Nabire, asal direkrut dengan benar dan dibina dengan tulus. Satu kendala, lapangan yang layak. Tapi lebih dari itu: semangat yang mulai hilang.”
Dua Legenda, Satu Cinta
15 album foto kenangan Hengky telah hilang terbakar. Cerita Borlak kini tak lagi terdengar dari mulutnya sendiri. Tapi satu hal yang tak akan pernah terbakar dan tak akan pernah pudar adalah persahabatan, kenangan, serta cinta dua sosok besar ini pada sepak bola Nabire.
“Dulu kami juara dua dengan segala keterbatasan. Sekarang anak-anak punya segalanya, harusnya bisa juara satu. Jangan tinggalkan semangat. Jangan tinggalkan nama Nabire.” Kata Soren.
Saat saya berpamitan, Hengki tersenyum, senyum yang tenang, senyum seorang pensiunan yang dulu berlari beriringan dengan Borlak di lapangan Tai Sapi, di lapangan Persinab, di stadion Jayapura. Dua orang yang berbeda asal, berbeda jalan hidup, namun menyatu di atas rumput hijau. Satu bermain dengan kekuatan fisik dan keberanian membela kawan, satu bermain dengan bakat, perantauan jauh, dan kesetiaan pulang.
Kisah Hengky Soren dan Borlak adalah satu kisah. Dua nama, dua perjalanan, satu era keemasan. Dan selama sepak bola masih ditendang di Nabire, nama-nama mereka tak akan pernah hilang. [*]













