Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Berita

Hermambo Rumaropen: Reggae Papua Harus Berakar pada Budaya Lokal

4
×

Hermambo Rumaropen: Reggae Papua Harus Berakar pada Budaya Lokal

Sebarkan artikel ini
Personil Grup Rejape Band usai tampil dalam Papua Festival Reggae (PRF) XI di kawasan Bandara Lama Nabire. Sabtu (17/10/2026), – Dok Kalawai/Titus Ruban.

“Manajer Grup Rejape Band, Hermambo Rumaropen, mengajak musisi Papua mengangkat bahasa, sejarah, budaya, dan kekayaan alam daerah melalui musik reggae agar identitas masyarakat Papua tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi muda”

Nabire, Kalawaibumiofi | Musik reggae dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas, budaya, bahasa, dan kekayaan alam Papua. Karena itu, musisi Papua didorong menciptakan lagu yang berakar pada kehidupan masyarakat dan daerahnya sendiri, bukan sekadar meniru budaya dari luar.

Pesan tersebut disampaikan Hermambo Rumaropen, manajer Grup Rejape Band usai kelompok musiknya tampil dalam Papua Festival Reggae (PRF) XI di kawasan Bandara Lama Nabire, Sabtu (17/10/2026).

Lagu-lagu yang dibawakan Rejape Band mengangkat cerita tentang wilayah, kehidupan masyarakat, keindahan alam, serta kebudayaan Papua. Untuk itu, musik harus menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan daerah sekaligus menjaga pengetahuan tentang sejarah dan jati diri masyarakat.

Ia menjelaskan, lagu Yokai Dea dari Paniai yang mengisahkan wilayah Paniai hingga batas Seribu. Lagu tersebut menggambarkan kehidupan dan perkembangan masyarakat di wilayah itu. Sementara Nutigwo Mirajo menceritakan keindahan alam, khususnya pantai dan pulau-pulau berpasir putih di Nabire, serta pohon kelapa dengan dedaunan hijau yang tumbuh di kawasan pesisir. Lagu ini menceritakan keindahan pulau, pantai dengan pasir putih, dan pohon kelapa yang daunnya hijau. Itu memperlihatkan keindahan alam yang dimilika masyarakat di pesisir Nabire. Adapun lagu Naneme mengangkat cerita tentang tanah Papua, termasuk kisah leluhur dan kebudayaan masyarakat Papua pada masa lampau.

Menurut Hermambo, cerita tentang alam, sejarah, dan kehidupan masyarakat tersebut perlu terus disampaikan melalui musik agar generasi muda mengenal warisan budaya mereka.

“Yang penting, lagu-lagu itu berasal dari wilayah kita sendiri. Kita bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lain, tetapi ceritanya harus tetap tentang tanah Papua,” jelasnya.

Musik reggae menjadi ruang ekspresi budaya

Hermambo mengapresiasi penyelenggaraan Festival Reggae Nabire karena memberikan ruang bagi musisi untuk menampilkan karya dan mengangkat kekhasan daerah masing-masing melalui musik reggae.

Menurutnya, musik reggae tidak harus meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, genre musik tersebut dapat menjadi media untuk menyampaikan cerita tentang tanah Papua, baik menggunakan bahasa daerah maupun bahasa lain.

ia menilai setiap daerah memiliki kekayaan cerita, bahasa, adat istiadat, dan alam yang dapat menjadi sumber inspirasi penciptaan lagu.

“Karena itu, musisi perlu berkomitmen menjadikan karya mereka sebagai sarana memperkenalkan identitas masyarakat Papua kepada khalayak yang lebih luas,” tuturnya.

Rejape Band bertahan lintas generasi

Hermambo juga menceritakan perjalanan Rejaoe Band yang, menurut penuturannya, Band ini telah berdiri sejak 1993. Kelompok musik tersebut pernah mengikuti sejumlah kegiatan musik di Tanah Papua, termasuk sebuah ajang yang menjangkau tingkat nasional.

Dia mengenang keikutsertaan Rejape Band dalam sebuah kegiatan musik sekitar 1999–2000. Band tersebut pernah mendapat kesempatan tampil dalam ajang yang melibatkan kelompok musik dari 27 provinsi.

“Namun wadah yang pernah menanmpung beberapa musisi di Nabire ini mulai redup dan personilnya mul;ai berkurang. Tapi kami mulai kembali mengaktifkan beberapa tahun belakangan,” terangnya.

Hermambo mengapresiasi penyelenggaraan Festival Reggae Nabire yang kembali menghadirkan ruang pertemuan bagi musisi lintas generasi dan wilayah di Tanah Papua.

Festival tersebut, ungkap Hermambo, bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan juga sarana mempererat persaudaraan antarmusisi.

“Kami sangat berterima kasih karena melalui musik dan kegiatan ini, persaudaraan di Tanah Papua dapat kembali terjalin. Kita disatukan oleh rasa yang sama dan diajak untuk mengenal jati diri, khususnya jati diri budaya kita sebagai orang Papua,” ungkapnya.

Ia menambahkan, usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Para personel Rejaoe Band yang kini berusia sekitar 50 hingga 53 tahun tetap berusaha mempertahankan eksistensi mereka di dunia musik.

“Jadi keberlanjutan sebuah kelompok musik tidak hanya ditentukan oleh usia personelnya, tetapi juga oleh kecintaan terhadap musik dan komitmen menjaga identitas budaya,” tambahnya.

Generasi muda jangan sekadar meniru

Hermambo berpesan kepada generasi muda Papua agar tidak hanya meniru budaya dari luar, tetapi juga mengembangkan karya dengan ciri khas sendiri.
Dalam musik, pentingnya memasukkan cerita, bahasa, dan unsur budaya lokal ke dalam lagu sebagai upaya meneruskan warisan generasi sebelumnya.

“Pesan saya kepada generasi berikutnya, jangan mengambil budaya orang lain lalu memasukkannya begitu saja. Kita harus meneruskan apa yang sudah diwariskan oleh generasi sebelumnya. Jangan hanya meniru atau melakukan copy-paste budaya orang lain. Kita harus punya komitmen,” pesannya.

Papua Festival Reggae (PRF) XI Nabire dapat terus diselenggarakan dan melibatkan lebih banyak kelompok musik dari berbagai daerah di Papua.
Lanjutnya, semakin luas ruang pertunjukan yang tersedia, semakin besar pula kesempatan bagi musisi untuk bertukar pengalaman, mempererat persaudaraan, dan mengembangkan karya yang berakar pada identitas budaya masing-masing.

“Semoga musik reggae di Papua tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi sarana merawat persaudaraan, memperkenalkan kekayaan daerah, dan mewariskan jati diri budaya kepada generasi berikutnya,” harapnya. [*]

error: Content is protected !!