Nabire, Kalawaibumiofi.com | Insiden kericuhan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada Selasa, 31 Maret 2026 lalu, yang menewaskan anggota polisi dan sejumlah warga sipil, masih menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak.
Komisariat Daerah Pemuda Katolik (PK KOMDA) Papua Tengah turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas peristiwa tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, satu anggota Polres Dogiyai berinisial JE (24) tewas dibacok oleh Orang Tak Dikenal (OTK). Pasca kejadian tersebut, situasi memanas dan dilaporkan terjadi bentrokan lanjutan yang mengakibatkan sejumlah warga sipil menjadi korban.
Hingga saat ini, jumlah korban jiwa yang beredar di masyarakat bervariasi antara 3 hingga 6 orang, namun beberapa media memberitakan total korban meninggal mencapai 7 orang.
Korban anggota polisi yang meninggal dunia diketahui bernama lengkap Juventus Edowai (JE), tewas akibat penganiayaan berat dengan benda tajam di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, sekitar pukul 10.40 WIT.
Sementara itu, di antara korban warga sipil yang meninggal, terdapat seorang lansia dan anak-anak, yang di antaranya teridentifikasi adalah Siprianus Tibakoto (19 tahun) dan Yulita Pigai (di atas 80 tahun).
Hingga kini, pihak berwenang belum merilis data resmi yang pasti dan akurat mengenai jumlah total korban jiwa.
Menanggapi hal tersebut, Ketua PK KOMDA Papua Tengah, Tino Tyson Mote, menyampaikan turut berbela sungkawa yang mendalam.
“Kami PK KOMDA Papua Tengah turut menyampaikan duka cita yang mendalam untuk seluruh korban yang meninggal dunia,” ungkap Tino Mote kepada media, Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, sumber utama pemicu kekerasan di Dogiyai tidak lepas dari masalah sosial, yaitu peredaran minuman keras (miras) dan perjudian (mulai dari permainan jenis rolex, dadu, hingga agen togel) yang sering beroperasi di dekat pasar, dan tempat keramaian umum.
“Kami minta tegas, persoalan sosial akibat miras dan judi di Dogiyai harus dihentikan. Termasuk juga di Kabupaten Paniai dan Deiyai,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini Dogiyai membutuhkan tiga hal mendesak:
- Pembentukan tim pencari fakta yang independen untuk melakukan investigasi menyeluruh atas kasus pembunuhan Bripda Juventus Edowai.
- Penindakan tegas terhadap pelaku penembakan terhadap warga sipil.
- Evaluasi kinerja hingga kemungkinan pemberhentian Kapolres Dogiyai dari jabatannya.
“Informasi yang kami dapat, Masyarakat di Dogiyai minta tiga hal ini diperhatikan,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, situasi berawal dari penemuan mayat anggota Sat Binmas Polres Dogiyai berinisial JE tepat di depan Gereja Ebenhaezer (GKI), Jalan Trans Papua Km.200, Moanemani, Distrik Kamuu, pada Selasa pagi sekitar pukul 08.22 WIT. Lokasi tersebut berada di kawasan pusat pemerintahan dan pemukiman padat penduduk.
Dari data Polres Dogiyai diketahui, Bripda JE bertugas piket pada Senin malam (30/3/2026). Usai bertugas, ia kembali ke mess pada pukul 07.00 WIT, namun tak lama kemudian pukul 08.22 WIT, jenazahnya ditemukan di depan gereja.
Pukul 08.30 WIT, jenazah dievakuasi ke RSUD Dogiyai untuk otopsi dan ditemukan luka bacok di bagian leher yang mengakibatkan tewas. Pihak kepolisian menduga korban dieksekusi di tempat lain lalu diletakkan di lokasi penemuan, sehingga jejak pelaku sulit dilacak.
Namun, warga setempat menilai karena TKP adalah tempat umum, seharusnya pelaku bisa dilacak karena disaksikan banyak orang.
Salah seorang intelektual Dogiyai, Simion Petrus Pekei, menyatakan bahwa biasanya kasus pembunuhan di daerahnya mudah dideteksi oleh warga.
“Namun dalam kasus pembunuhan JE ini sangat sulit dideteksi dan dipastikan siapa pelakunya. Masyarakat menyimpulkan kasus ini masih misterius, atau pelakunya memang OTK,” ujar Simion dikutip dari Ditemukan Mayat Anggota Polisi, Berlanjut 8 Warga Sipil Ditembak Aparat www.tadahnews.com.
Pasca penemuan jenazah anggota polisi tersebut, dilaporkan terjadi luapan emosi aparat. Berdasarkan pantauan di lokasi, kepolisian diduga melakukan operasi penyisiran yang berujung pada penembakan ke arah warga sipil hingga masuk ke dalam rumah-rumah penduduk.
Akibat tindakan tersebut, dilaporkan ada delapan warga sipil menjadi korban, dengan rincian lima orang tewas di tempat dan tiga lainnya luka kritis.
Korban tewas di tempat:
- Siprianus Tibakoto (25 tahun) – Tembakan di kepala.
- Yulita Ester Pigai (80 tahun) – Seorang lansia lumpuh yang tertembak saat beristirahat di rumah.
- Martinus Yobe (14 tahun) – Anak di bawah umur, tembakan di perut.
- Ankian Edowai (19 tahun) – Tembakan di kepala.
- Feri Auwe (20 tahun) – Tewas terkena tembakan.
Korban luka kritis:
- Michael Waine (12 tahun) – Tembakan di dada kiri tembus ke bahu.
- Kikibi Pigai (20 tahun) – Tembakan di paha.
- Yafet Tibakoto – Kondisi belum dikonfirmasi.
Peristiwa ini menuai kritik luas dan dianggap sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Berbagai elemen masyarakat menyoroti kinerja Kapolres Dogiyai.
Sejumlah pihak seperti Koalisi Masyarakat Akar-rumput Dogiyai, Koalisi Hukum dan HAM Papua, DPR Provinsi Papua Tengah, DPRK Dogiyai, mahasiswa, pihak gereja, Jaringan Damai Papua (JDP), hingga tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan, bersatu menyerukan agar kasus ini diselesaikan secara hukum dan menuntut evaluasi terhadap pimpinan kepolisian setempat. [*]

















