Features

Jalan Penuh Berkat Seorang Anak Pengungsi:  AKBP Samuel Dominggus Tatiratu (Bagian 2)

2
AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, S.I.K., M.H., CPHR, , – Dok Untuk Kalawai.

*(Bagian 2). “Mengabdi di Tanah Papua, Prinsip Mengedepankan Tuhan di dalam setiap langkah hidup, Nabire Tetap Aman” 

Setelah lulus mengikuti seleksi Calon Taruna Akademi Kepolisian di Polda Maluku pada tahun 2003, Samuel Dominggus Tatiratu melanjutkan ke tahapan seleksi akhir di Akademi Kepolisian di Semarang.

Ada hal yang menarik: saat Samuel lulus seleksi tingkat Polda, adik perempuan keduanya bernama Tensia Marlen Tatiratu juga berhasil lulus seleksi Akademi Perawat. Saat itu sempat terasa canggung, namun atas petunjuk Bapak, Mama segera menyiapkan biaya tiket berangkat ke Semarang untuk mengikuti seleksi akhir hingga tiba saatnya Samuel pun akhirnya berangkat.

Berbekal doa Bapa dan Mama dengan segala keterbatasan yang ada, Samuel menaruh pengharapan dan kepercayaan penuh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tanpa keraguan, langkah Samuel dengan pasti melalui semua tahapan seleksi akhir di Akademi Kepolisian Semarang. Puji Tuhan, Samuel akhirnya dapat mengikuti pendidikan sebagai Taruna Akpol selama kurang lebih 3,5 tahun di Lemdik Taruna Akpol Semarang. Banyak suka duka yang dialami, mulai dari Taruna Tingkat Satu berpangkat Bhayangkara Taruna, Taruna Tingkat Dua berpangkat Sersan Taruna, hingga Taruna Tingkat Tiga berpangkat Sersan Mayor Taruna. Namun dengan segenap keyakinan bahwa Tuhan saja yang mampu menjaga, memelihara, dan menyertai dirinya, ia menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

“Suatu kebanggaan bagi dirinya terhadap Lemdik tercinta adalah Akademi Kepolisian sebenarnya mengubah seorang taruna dari masyarakat sipil menjadi Perwira Polri yang memiliki karakter yang kuat, pengetahuan dan moral yang baik serta memiliki kemampuan sebagai seorang pemimpin yang bijak dan arif dalam menangani berbagai persoalan kamtibmas di lapangan.”

Samuel juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada salah satu rekan taruna. Selama masa cuti tahunan taruna, ia sering dibantu oleh sesama rekan taruna asal Ambon bernama Faisal Fatsey, yang turut membantu membelikan tiket pulang-pergi Ambon.

“Dangke banyak buat Bung Faisal Fatsey yang selama beta pendidikan dia juga yang turut membantu saya termasuk belikan tiket pulang pergi Ambon pada saat kita jalankan cuti tahunan seorang taruna.”

Setelah menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian tahun 2006, perjalanan pengabdian Samuel Dominggus Tatiratu bermula jauh dari Ambon, Maluku — tanah kelahirannya. Teringat saat pelantikan menjadi Perwira Pertama berpangkat IPDA, puji Tuhan dengan segala keterbatasan biaya, akhirnya kedua orang tua Bapa dan Mama  bisa datang menghadiri malam penugasan.

“Rasa syukur saya naikan buat Tuhan Yesus di mana dalam segala keterbatasan, Tuhan sudah ijinkan Bapa dan Mama bisa datang menghadiri acara malam penugasan, dangke banyak buat Mama dan Bapa.”

Tak lama kemudian, ia berangkat ke Polda Jambi untuk menjalankan penugasan pertamanya di Polres Kerinci pada awal Januari 2007. Hanya kurang lebih dua minggu berdinas di sana, ia dipercaya pimpinan untuk pindah ke Polres Sarolangun. Di Polres Sarolangun selama 2007–2010, Samuel menjabat beberapa jabatan: KA SPKT, Kanit Regident Satlantas, hingga Kaurbin Ops Satlantas. Selama bertugas di sana, ia berjumpa dengan calon istrinya, Deisy Liana Dialao. Atas berkat Tuhan, mereka menikah di Kota Jambi pada 9 Agustus 2010. Kemudian ia berpindah tugas ke Direktorat Lalu Lintas Polda Jambi sebagai Kanit Unit 3 Sat PJR Ditlantas.


AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, S.I.K., M.H., CPHR, bersama Ny. Deisy Liana Dialao/Tatiratu, – Dok Pribadi Samuel D. Tatiratu.

Tibalah kesempatan pertama mengikuti seleksi PTIK di akhir tahun 2010. Atas perkenanan Tuhan, Samuel dinyatakan lolos mengikuti pendidikan PTIK Gelombang kedua tahun 2011. Menjelang pendidikan, ia dipercaya menjabat sebagai PAUR BAGBINLATOPS ROOPS Polda Jambi, lalu mengikuti pendidikan PTIK selama hampir dua tahun hingga 2013.

“Puji Tuhan, saya hanya satu kali mengikuti tes seleksi PTIK, Tuhan membukakan jalan. Saya lolos seleksi dan setelah pendidikan boleh naik pangkat dari IPTU ke AKP,” ujarnya.

Dua tahun masa pendidikan PTIK di Jakarta Selatan berlalu. Pada tahun 2013, ia ditugaskan ke Polda Papua — babak baru pengabdian di tanah Papua dimulai, sebuah perjalanan yang membawanya mengenal keberagaman budaya, karakteristik, dan hati masyarakat Papua secara mendalam.

Menapaki berbagai wilayah Papua, memahami hati masyarakat

Penempatan pertama di Polda Papua menjabat dua jabatan sekaligus: Kaurmin Subbagrenmin dan Kasubagbinlatops Roops. Tak lama, ia dikirim ke Wamena untuk tugas pengamanan Pilkada, dan BKO-kan di wilayah Polsek Asologaima Polres Jayawiya. Di sini ada pengalaman yang berkesan:

“Saat hendak melangkah masuk ke sebuah kampung untuk mengawal logistik Pilkada, saya agak lupa nama kampungnya. Kita harus melewati pagar kampung yang dibuat seadanya dan sekitarnya dikelilingi pohon cemara. Sebelum melangkahkan kaki melewati pagar tersebut, saya mengucapkan nama Tuhan sebanyak tiga kali baru kemudian memasuki halaman. Saya bersama sekitar 12 personel disambut hangat oleh petugas PPD termasuk beberapa orang tua lanjut usia yang adalah tua-tua adat setempat. Mereka berpakaian tradisional dengan simbol koteka. Dari salah satu tetua yang ada menunjuk ke arah saya dan kemudian menempelkan dua jarinya di alis mata dan dada beliau sambil berucap kalimat yang saya kurang paham. Lewat penerjemah, beliau berkata: ‘Anak, kau sudah terlihat di mata kami dan terukir di hati kami sebelum kau datang.’ Hal ini bagi saya itu tanda bahwa berkat saya di tanah Papua adalah pelayanan bagi masyarakat,” cerita Tatiratu dengan haru.

Selesai BKO Pilkada di Wamena, dilanjut ke Timika. Penugasan bergantian datang: Kapolsek Sorong Barat (2013), Kasat Reskrim Polresta Jayapura Kota (2014), Kanit Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Papua (akhir 2014), hingga akhirnya dipercaya menjadi Kasat Lantas Polres Nabire pada akhir 2014.

“Di sinilah saya bertemu Bapak Alfrets Tatiratu, paman kandung saya yang biasa disebut Bapa Ape, yang pada saat itu berdinas sebagai Kaurbin Ops di Satlantas Polres Nabire. Beliau menjadi salah satu Perwira Lantas yang turut membimbing saya di awal bertugas di sini,” ungkapnya.

Dua tahun bertugas di Polres Nabire, kembali dipercaya pindah menjabat Kasat Lantas Timika (2017), Kabag Ops Polres Biak (akhir 2017), dan kembali ke Polda Papua bergabung di Ditreskrimum. Tiga jabatan dalam tiga minggu: Kanit Subdit 3 Ditreskrimum, Ps Kabagbinopsnal Ditreskrimum, semuanya pada Oktober 2021. Selanjutnya kembali dipercaya menjadi Kapolres Lanny Jaya selama hampir satu tahun (2018–2019), di mana ia semakin mendalami budaya dan kehidupan masyarakat pegunungan.

Kembali ke Nabire. “Kapolres Bertangan Dingin” yang Berjalan di Samping Rakyat

Perjalanan membawa Tatiratu kembali ke Nabire sebagai Kabag Ops Polres Nabire pada Agustus 2019, kemudian menjabat Wakapolres Nabire pada Juni 2020. Bergabung kembali di Polda Papua dalam berbagai jabatan, hingga dipercaya menjadi Kapolres Dogiyai pada tahun 2022. Di sana ia menghadapi berbagai tantangan, namun Tuhan membuka jalan dan membuktikan kebenaran terkait semua hal yang terjadi di sana.

Kebenaran itu ditunjukkan dengan kelulusan Seleksi Sespimmen Polri Dikreg Ke-63 pada tahun 2023. Setelah kurang lebih tujuh bulan, ia ditugaskan kembali mengabdi di Tanah Papua dalam beberapa jabatan: Kabagbinopsnal Ditlantas Polda Papua (2023), lalu Kapolres Asmat selama enam bulan berakhir Desember 2023.

“Di Asmat, saya hampir setiap hari berada di rumah adat Jeuw, duduk bersama kepala suku, mendengarkan aspirasi mereka. Saya belajar bahwa setiap wilayah Papua memiliki karakter yang berbeda, dan kuncinya adalah hadir, mendengar, dan memahami,” katanya.

Pada 15 Januari 2025, AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, S.I.K., M.H., CPHR, resmi menjabat Kapolres Nabire. Sejak saat itu, nama Tatiratu menjadi simbol kedamaian. Di kalangan masyarakat, ia dikenal sebagai Kapolres yang tidak duduk di belakang meja saat demonstrasi — melainkan berjalan beriringan dengan massa aksi dari titik kumpul hingga lokasi tujuan.

“Banyak orang bertanya, bagaimana Nabire bisa aman sedangkan di saat yang bersamaan aksi penyampaian aspirasi berlangsung juga di daerah lain dan memanas? Apa rahasianya?”

Tatiratu menjawab dengan tenang:

“Tidak ada trik khusus. Yang saya pegang adalah pesan Bapak — jangan takut kepada manusia, tapi takutlah kepada Tuhan. Segagah dan sekokoh apa pun pasukan, sekuat apa pun sarana, jika tidak bertekuk lutut kepada Tuhan, semuanya sia-sia. Saya selalu menempatkan Tuhan di depan di dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, dan kita selaku manusia di belakang.”

Ia menambahkan:

“Saat masyarakat menyampaikan aspirasi, kami hadir bukan untuk menakuti, tapi untuk mendengarkan, membuka hati, sabar serta bergandengan tangan menjaga keamanan bersama. Saya berjalan di samping mereka, karena saya tahu — mereka adalah saudara kami. Tidak ada yang harus diperangi, yang ada adalah saling memahami.”

Prinsip ini terbukti. Selama masa jabatannya, hampir tidak pernah terjadi bentrokan antara aparat dan masyarakat di Nabire saat aksi damai berlangsung.

“Ketika seseorang merencanakan kejahatan, Tuhan tidak menyukainya. Tapi ketika kita merencanakan kebaikan dan menyerahkannya kepada Tuhan, maka kebaikanlah yang akan berlaku,” tegasnya.

Pesan orang tua yang menjadi kompas hidup

Di tengah segala kesibukan dan tanggung jawab, pesan almarhum ayahnya selalu menjadi pegangan.

“Bapak berpesan tiga hal utama: jangan takut kepada manusia, takutlah kepada Tuhan; jangan pisah saudara karna harta; dan jangan lupa kumpul saudara,” ujarnya.

Kehilangan ayahnya dua tahun lalu menjadi titik terberat dalam hidupnya, namun pesan-pesan itu justru semakin kuat tertanam di hati.

“Bapak juga pernah berkata: kalaupun hanya satu baju kaos yang kau pakai, bila melihat orang yang lebih membutuhkan, berikanlah. Tuhan sudah menyediakan yang lebih baik untukmu.”

Nilai-nilai inilah yang ia bawa ke dalam kepemimpinannya di Polres Nabire — kerendahan hati, keadilan, keberpihakan pada yang lemah, dan ketakutan akan Tuhan. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version